Diduga Mata-Mata, 8 Utusan Rusia Diusir NATO

Bendera Rusia berkibar di puncak gedung Konsulat Jenderal Rusia di Seattle, Washington Amerika Serikat, 26 Maret 2018. - Reuters
07 Oktober 2021 09:37 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) telah mengidentifikasi dan mengusir delapan utusan khusus Rusia untuk aliansi itu karena terbukti sebagai "perwira intelijen Rusia yang tidak diumumkan” alias mata-mata.

Seorang pejabat NATO memberikan informasi bahwa akibat kejadian itu pihaknya telah mengurangi jumlah perwakilan Federasi Rusia yang diutus untuk NATO menjadi 10, atau turun dari 20 orang sebelumnya.

"Kami dapat mengonfirmasi bahwa kami telah mengidentifikasi delapan anggota Misi Rusia untuk NATO sebagai perwira intelijen Rusia," kata pejabat itu dengan membenarkan informasi yang pertama kali dilaporkan oleh media Sky News Inggris.

Pejabat tersebut juga menegaskan bahwa kebijakan NATO terhadap Rusia tetap konsisten.

"Kami telah memperkuat upaya pencegahan dan pertahanan dalam menanggapi tindakan agresif Rusia, sementara pada saat yang sama kami tetap terbuka untuk dialog," kata pejabat itu, yang menolak disebutkan namanya seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Kamis (7/10/2021).

Keputusan untuk mengurangi separuh misi Rusia akan berlaku pada akhir bulan ini dan telah disetujui oleh 30 negara anggota NATO.

Rusia telah lama memiliki misi penghubung ke NATO sebagai bagian dari program Dewan NATO-Rusia yang dimaksudkan untuk mendukung kerja sama di bidang keamanan bersama, tetapi bukan anggota dari Aliansi yang dipimpin AS tersebut.

Misi Rusia pernah dirampingkan sekali sebelumnya, ketika tujuh anggotanya dikeluarkan setelah insiden keracunan pada tahun 2018. Mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal, dan putrinya terkena racun Novichok di Inggris.

Dewan NATO-Rusia sebagian besar tidak berfungsi akibat ketegangan yang dipicu oleh pencaplokan Semenanjung Krimea oleh Rusia tahun 2014.

Negara itu juga memberikan dukungan berkelanjutan terhadap separatis pro-Moskow di Ukraina dan pengembangan senjata termasuk rudal.

Presiden AS Joe Biden telah mengambil sikap yang jauh lebih tegas terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin daripada pendahulunya Donald Trump. Pejabat NATO lainnya mengatakan bahwa Dewan NATO-Rusia " akan tetap menjadi platform penting untuk dialog".

"Bola ada di tangan Rusia," kata pejabat itu.

Sky News melaporkan bahwa keputusan NATO itu muncul setelah informasi terungkap pada bulan April tentang ledakan fatal di gudang amunisi Ceko pada tahun 2014. Menurut Praha ledakan melibatkan dua mata-mata Rusia yang diidentifikasi terlibat dalam insiden keracunan Skripal.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia