Begini Prediksi Bos Perusahaan Vaksin tentang Akhir Pandemi Covid-19

Petugas kesehatan menunjukkan vaksin Covid-19 Moderna saat vaksinasi dosis ketiga sebagai vaksin penguat untuk tenaga medis. - Antara
25 September 2021 14:37 WIB Ithamar Yaomi DC News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Dunia menanti akhir dari pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung satu tahun lebih.

Kepala Eksekutif Perusahaan Vaksin Moderna, Stephane Bancel, memprediksi pandemi Covid-19 bisa berakhir setahun lagi. Namun, yang paling penting adalah seluruh masyarakat di dunia harus divaksin.

"Jika Anda melihat perluasan kapasitas produksi di seluruh industri selama enam bulan terakhir, harus tersedia dosis yang cukup pada pertengahan tahun depan sehingga semua orang di bumi dapat divaksinasi. Booster juga harus dimungkinkan sejauh yang diperlukan," kata Stephane Bancel seperti dikutip dari Times  of Israel, Jumat (24/9/2021).

Dia menambahkan, bahwa mereka yang tidak divaksin akan mengimunisasi dirinya sendiri secara alami, karena varian Delta sangat menular.

"Dengan cara ini kita akan berakhir dalam situasi yang mirip dengan flu. Anda bisa mendapatkan vaksinasi dan memiliki menikmati musim dingin dengan baik," ujar Stephane.

Bancel juga berharap bahwa vaksin untuk bayi segera disetujui. Dia juga berharap akan adanya lebih banyak negara yang menyetujui suntikan booster, dengan mengatakan bahwa mereka “tidak diragukan lagi” akan dibutuhkan.

Israel adalah negara pertama yang menawarkan suntikan booster untuk semua warga negara berusia 12 tahun ke atas.

Namun, negara tersebut belum menggunakan vaksin Moderna, melainkan memberikan inokulasi yang dikembangkan oleh pesaingnya, Pfizer.

Penelitian semakin menunjukkan bahwa vaksin Moderna menawarkan perlindungan yang lebih tahan lama terhadap pasien rawat inap daripada vaksin Pfizer.

Sebuah studi yang dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat minggu lalu menunjukkan bahwa perlindungan Pfizer turun dari 91 persen antara 14 dan 120 hari setelah vaksinasi menjadi 77 persen lebih dari 120 hari setelah vaksinasi.

Sebaliknya, Moderna turun dari 93 persen menjadi 92 persen ketika dibandingkan dari dua periode yang sama.

Alasan perbedaannya tidak sepenuhnya jelas, tetapi bisa jadi karena tingkat dosis Moderna lebih tinggi 100 mikrogram berbanding 30 mikrogram.

Hal tersebut juga dapat dikaitkan dengan interval pemberian dosis, dengan suntikan Pfizer diberikan tiga minggu terpisah versus Moderna, yang diberikan empat minggu terpisah. 

Suntikan booster Moderna hanya berisi setengah volume 50 mikrogram dibandingkan dengan dosis aslinya.

Melansir The Times of Israel, Bancel mengatakan dalam wawancaranya bahwa booster Moderna saat ini tetap sama karena ada waktu untuk menyelesaikan uji coba vaksin yang diadaptasi secara khusus untuk melawan varian Delta yang sangat menular.

“Kami sedang menguji varian yang dioptimalkan Delta dalam uji klinis,” katanya. 

Hasil uji tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk vaksinasi booster di tahun 2022. Dia juga mencoba Delta plus Beta, mutasi berikutnya yang diyakini para ilmuwan mungkin terjadi.

Sumber : JIBI/Bisnis.com