Keluarga Korban Serangan 11 September Menuntut Arab Saudi

Keluarga Korban Serangan 11 September Minta Usut Keterlibatan Arab Saudi
11 September 2021 20:47 WIB Nindya Aldila News Share :

Bisnis.com, JAKARTA - Keluarga korban serangan 11 September menuntut pemerintah Arab Saudi di pengadilan federal Amerika Serikat, New York.

Dikutip dari Al Jazeera pada Sabtu (11/9/2021), laporan FBI yang dimaksud adalah dokumen setebal 16 halaman yang berisi analisis panjang dan rangkuman FBI terhadap dua pembajak berwarga negara Saudi, Khalid al-Mihdhar dan Nawaf al-Hazmi.

Dua agen Al Qaeda tersebut tiba di California pada 2000. Laporan FBI diharapkan dapat membongkar pihak yang membantu al-Mihdhar dan al-Hazmi.

“Masih belum jelas apa yang diketahui bagian lain dari pemerintah tentang apa yang terjadi. Namun, sudah jelas, pejabat kelas tinggi dan menengah Saudi yang bekerja untuk pemerintah terlibat dalam konspirasi ini," kata Andrew 'Duke' Maloney, pengacara dari firma hukum Kreindler LLP yang mewakili keluarga korban 11 September dalam proses pengadilan melawan Arab Saudi.

Setelah 20 tahun sejak tragedi yang menewaskan hampir 3.000 orang di New York, Washington, D.C., Shanksville, dan Pennsylvania, gugatan keluarga korban akan mendekati titik balik.

Laporan FBI ini menganalisis bagaimana al-Mihdhar dan al-Hazmi yang tidak fasih berbasa Inggris dan tidak memiliki sumber daya mandiri, dapat berpijak ke Los Angeles dan San Diego.

Pihak keluarga korban meyakini bahwa ada kelompok politik rahasia dari pemerintah Saudi yang berkonspirasi dengan operasi al-Qaeda. Tujuan gugatan itu adalah untuk memenangkan penyelesaian keuangan bagi keluarga korban.

Sebelumnya, Presiden Joe Biden telah meminta Departemen Kehakiman dan lembaga lainnya untuk meninjau dan merilis dokumen FBI yang masih rahasia setelah dia menerima kabar bahwa tidak akan diterima saat peringata 11 September.

Laporan ini bisa memberikan pencerahan terkait dengan temuan FBI soal orang-orang yang terlibat dalam serangan tersebut, termasuk warga negara Arab Saudi Fahad al-Thumairy dan orang yang dicurigai sebagai mata-mata Saudi Omar al-Bayoumi.

Sementara itu, diplomat Saudi, Mussaed Ahmed al-Jarrah dicurigai dapat membantu pembajak lainnya di masa depan, kata Maloney.

Dalam sebuah pernyataan di Washington, Kedutaan Besar Arab Saudi mempersilakan rilis dokumen investigasi FBI.

"Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa pemerintah Saudi atau pejabatnya memiliki pengetahuan sebelumnya tentang serangan teroris atau dengan cara apa pun terlibat dalam perencanaan atau pelaksanaannya. Setiap tuduhan bahwa Arab Saudi terlibat dalam serangan 11 September jelas salah,” kata Kedutaan Saudi.

Sebuah dokumen pemerintah AS menyatakan pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden yang disebut sebagai dalang dari serangan ini merupakan anak konglomerat perusahaan konstruksi yang berbasis di Saudi, Saudi Binladen Group. Namun, hubungan Bin Laden dengan keluarga kerajaan terputus pada 1991 setelah pengerahan pasukan AS ke kerajaan.

Namun, organisasi bin Laden menerima dukungan finansial dari orang-orang kaya di Saudi, termasuk keluarga kerajaan.

Komisi independen 11 September menyimpulkan dalam laporannya pada 2004 bahwa pemerintah Saudi tidak mengetahui serangan yang tertunda. Komisi tidak menemukan bukti bahwa pejabat Saudi memiliki peran apa pun.

Sumber : JIBI/Bisnis.com