Imbal Beli Jet Tempur Sukhoi: Ada Apa dengan Flanker?

Sukhoi Su-35 Flanker - Istimewa
02 Agustus 2021 06:27 WIB Inria Zulfikar News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Bukan sebuah kabar yang melegakan bila dalam sebuah negosiasi bisnis muncul ucapan ‘take it or leave it’ dari salah satu pihak yang terlibat. Jika kalimat itu yang terlontar dan dengan nada yang lugas pula, peluang untuk tercapainya kesepakatan bisnis bisa kandas di tengah jalan.

Hal itu yang mengemuka dalam benak ketika mencermati pernyataan Koordinator Bidang Peningkatan Akses Pasar Kemendag Bambang Jaka menyoal rencana imbal beli 11 jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia. Padahal MoU antara Indonesia dan Rusia sudah ditandatangani empat tahun silam (Bisnis.com, 29/7).

Ada kebanggaan tersendiri bila dirgantara Indonesia dikawal oleh jet tempur modern, canggih, dan tangguh macam Su-35, karena memang sosoknya sangat disegani lawan.

Apalagi seluruh instrumen terkait proses imbal beli kabarnya sudah siap. Kemendag juga telah memetakan ulang perusahaan-perusahaan Indonesia yang akan memasok berbagai produk yang ditawarkan dalam skema barter itu.

Pada 2019 dilaporkan sudah ada 16 komoditas yang diajukan sebagai komoditas ‘barter’ dengan Rusia. Apa saja itu? Ada minyak kelapa sawit mentah dan produk turunannya, karet, biskuit, dan kopi.

Rusia diwajibkan membeli komoditas asal Indonesia sebesar 50% dari nilai pembelian Sukhoi. Total nilai pembelian untuk 11 unit alat tempur tercatat US$1,14 miliar, sementara kontribusi dari imbal beli mencapai US$570 juta.

“Poinnya adalah masih berproses. Tinggal bagaimana pimpinan-pimpinan di republik ini berani mengambil, bukan mengambil risiko dalam konteks gambling, tetapi memutuskan take it or leave it untuk Sukhoi,” tegas Bambang.

Secara keseluruhan, bila imbal dagang ini berjalan mulus maka itu adalah sebuah keberuntungan besar bagi Indonesia. Tak hanya dari nilai perolehan perdagangannya semata tetapi juga dari sisi pertahanan dan keamanan nasional.

Pasalnya, Su-35 adalah jet tempur yang disegani. Flanker-E, itulah julukan yang disematkan para analis Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terhadap mesin perang tersebut. Mulai beraksi pada 2008 dan sejak terbang perdana, kehadirannya langsung menghentak peta persenjataan global.

Perburuan negara pembeli tak terelakkan lagi. Lobi-lobi intensif secara langsung atau tidak langsung, yang biasanya melalui agen khusus, kerap berjalan secara ‘siluman’. Maklum saja mesin perang canggih berkemampuan dahsyat adalah salah satu sumber penghasil devisa kakap bagi negara-negara adidaya.

Tidak hanya masalah bisa menjual atau mencari pembeli, negara pembeli Flanker dipastikan sudah mengkalkulasi berbagai risiko politik dan implikasi politik dari aksi pembeliannya.

Pasalnya, pesaing Flanker juga memiliki kepentingan serupa untuk menggolkan jet tempur andalannya guna memperkuat matra udara negara ‘sekutu’ lama maupun baru.

Perseteruan AS-Rusia sudah pasti tak terelakkan. Namun pabrikan negara lain juga tak kalah agresif menjual burung besi kelas fighter seperti Swedia, Prancis, Inggris, dan Spanyol.

Tak pelak, urusan beli jet tempur canggih, yang mampu menggetarkan nyali lawan dalam dog fight, kerap masuk dalam level highly confidential berbungkus politik tingkat tinggi.

Lihat misalnya Indonesia yang jatuh hati pada Flanker daripada Raptor AS. Tentu pilihan ini sudah melewati sekian lapis pertimbangan yang sangat matang, baik dari sisi politik luar negeri, politik domestik hingga proyeksi tingkat ancaman regional dan kawasan.

Dan tidak bisa tidak, Jakarta harus memastikan pula bahwa hubungan bilateralnya dengan Washington tidak terusik, karena pilihan tidak jatuh pada Raptor. Hal ini karena jet tempur yang akan digantikan oleh Flanker adalah F5 Tiger yang notabene adalah buatan pabrikan AS (Northrop). Lika-liku ‘pindah ke lain hati ini’ tentu sudah dikalkulasi secara cermat.

Indonesia terbilang beruntung karena Rusia sudi diajak barter. Mewakili negara yang dipimpin Vladimir Putin itu adalah perusahaan bernama Rostec, sementara mitranya dari Indonesia yaitu PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero).

Meskipun barter, langkah kedua pihak sejauh ini belum firmed. Rekam jejak barter sebelumnya yang mulus menjadi ujian bagi imbal beli Sukhoi kali ini.

Dengan anggaran militer yang terbatas, kita tentu tidak dapat melaksanakan program peremajaan dan penggantian jet tempur secara serentak. Skala prioritas dipatok sangat ketat serta segala daya dan upaya pengadaannya coba ditempuh. Nah, barter jadi opsi kuat.

Dengan perkembangan terkini seperti disampaikan Bambang Jaka, tentu saja hal itu tidak dapat dipandang remeh. It’s a big deal. Negosiasi dagang adalah hal rumit, alot, dan menguras energi.

Di sisi lain, muncul kerawanan tersendiri terhadap wilayah udara Indonesia bila program modernisasi pesawat tempur andalan tertunda. Jujur saja F 5E Tiger tentu bukan lawan tanding yang setara dengan Su-35, bahkan Su-27 sekalipun. Alhasil, makin cepat F 5E tergantikan, kian kondusif pula bagi dirgantara Merah Putih.

Semoga saja Moskwa tetap teguh memegang komitmennya. Pun, Jakarta juga dapat memahami apa kebutuhan riil Rusia saat ini yang dapat dilanjutkan ke tahap imbal beli.

Andai ada kewajiban salah satu pihak yang dirasa tak sesuai lagi dengan konteks saat ini, toh MoU bisa saja dibicarakan lagi. Yang penting semua pihak berkomitmen menggolkannya.

‘Diplomasi Vodka’ atau ‘Diplomasi Kopi’ tampaknya perlu diperkuat lagi oleh kedua pihak agar cita rasa imbal beli bernilai ratusan juta dolar ini dapat dinikmati sampai lama.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia