CDC Amerika Serikat: Sudah Divaksin Bisa Sebarkan Covid-19

50 Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menerima vaksinasi dosis ketiga atau booster menggunakan vaksin Moderna - Twitter Kemenkes RI
01 Agustus 2021 04:27 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Sebuah temuan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) yang belum dipublikasi menunjukkan bahwa orang yang sudah divaksin Covid-19 dapat menularkan virus ketika terpapar oleh varian Delta, sama mudahnya dengan orang yang belum divaksin.

Meski vaksin tetap efektif melawan kondisi yang buruk hingga menurunkan risiko kematian, peneliti CDC menemukan banyaknya kasus positif berasal dari orang yang sudah divaksin.

Hal ini setelah kejadian menjamurnya kasus di Provincetown, Massachusetts, di mana sepertiga dari 470 kasus pada bulan ini adalah orang yang sudah diimunisasi dua dosis.

BACA JUGA : Produsen Vaksin Covid-19 Pfizer dan AstraZeneca Banjir Duit Triliunan Rupiah

Varian Delta ditemukan dalam mayoritas sampel. Orang yang sudah divaksin dan belum divaksin sama-sama membawa virus dengan kadar yang tinggi.

“Viral load yang tinggi menunjukkan peningkatan risiko penularan menimbulkan kekhawatiran bahwa, tidak seperti varian lain, orang yang divaksinasi yang terinfeksi Delta dapat menularkan virus,” kata Direktur CDC Rochelle Walensky seperti dikutip dar New York Times pada Jumat (30/7/2021).

Laporan itu juga menyebutkan bahwa penularan varian delta sama seperti cacar air. Namun, temuan kasus terobosan atau breaktrough case jarang terjadi.

Perlu diketahui, breaktrough case adalah ketika seseorang positif Covid-19 setidaknya setelah 14 hari vaksinasi kedua.

Prediksi tersebut tercermin dari temuan Kaiser Family Foundation yang menyebutkan jumlah breaktrough case kurang dari 1 persen pada orang-orang yang sudah divaksin dua dosis di AS.

BACA JUGA : Para Ahli Sebut 2 Dosis Vaksin Covid-19 Sudah Cukup

Temuan tersebut membuat para peneliti bingung. Mereka tidak mengerti pemicu dari breaktrough case atau siapa yang paling berisiko dalam hal ini. Mereka belum bisa memahami apakah varian Delta dapat membuat kondisi parah bagi orang yang belum divaksin setelah tertular, meskipun data menunjukkan demikian.

"Kami menghabiskan banyak waktu dan tenaga untuk mencari tahu virus terkutuk ini, dan bagaimana mereka bekerja dan segala sesuatu tentangnya." kata Kepala Departemen Pengobatan University of California Robert Wachter.

Meskipun kejadian breaktrough case ini langka, data baru menunjukkan orang yang sudah divaksin dapat berkontribusi terhadap meningkatnya penularan, meskipun kemungkinan jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang belum divaksin.

"Delta mengajarkan kita untuk berekspektasi pada hal yang tidak disangka. Ada banyak aspek yang sekarang kita lihat yang tidak kita sangka datangnya," kata ahli virus di Weill Cornell Medicine of New York John Moore.

Data Johns Hopkins hingga 30 Juli mencatatkan kasus kumulatif di AS sebanyak 34.945.468 dengan 613.013 kematian. Tingkat positivity rate di AS mencapai 7,3 persen. Sebanyak 163,9 juta orang Amerika atau setengah dari populasi sudah mendapatkan vaksin dua dosis.

BACA JUGA : Percepat Vaksinasi, DIY Minta Tambahan Vaksin Covid-19 dari Pusat

Data CDC mencatat 97 persen pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit belum divaksin. Artinya, vaksin masih menjadi perisai kuat untuk menghadapi virus, termasuk yang sekarang paling ditakuti, varian Delta.

Wajib Masker

Temuan ini akhirnya membuat badan dibawah Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS ini mengubah rekomendasinya 180 derajat dari 2 bulan lalu. Mereka memutuskan untuk mewajibkan orang-orang, termasuk orang yang telah divaksin, menggunakan masker di dalam ruangan.

Sebelumnya, CDC memperbolehkan orang-orang yang sudah divaksin melepas maskernya dan kembali ke kehidupan normalnya.

Presiden AS Joe Biden juga telah mewajibkan para pegawai federal untuk menggunakan masker.

"[Kebijakan dulu] itu benar," kata Biden saat ditanya oleh Fox News terkait perubahan kebijakan.

"Saya pikir orang akan memahami bahwa vaksin akan memberikan perubahan yang dramatis. Dan apa yang terjadi adalah varian baru datang, mereka tidak divaksin, virus menyebar sangat cepat dan orang yang sakit bertambah."

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia