Para Ahli Sebut 2 Dosis Vaksin Covid-19 Sudah Cukup

Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
30 Juli 2021 13:37 WIB Ni Luh Anggela News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Perusahaan AS Pfizer Inc. sebelumnya telah menyerukan dibutuhkannya suntikan vaksin Covid-19 ketiga tambahan, mengutip data baru yang menunjukkan kemanjurannya berkurang setelah enam bulan.

Tetapi dokter tetap tidak yakin, dan mengatakan bahwa yang lebih penting sekarang adalah fokus pada menginokulasi mereka yang tidak terinfeksi dan belum menerima vaksin.
 
Studi klinis Pfizer yang dipublikaskan di server pracetak medRxiv pada Rabu (28/7/2021), pada 42.000 sukarelawan di enam negara menunjukkan bahwa kemanjuran vaksin adalah 96,2 persen dari tujuh hari setelah dosis kedua. Kemudian turun 6 poin dalam dua bulan setelah dosis kedua dan 6 poin lagi empat bulan setelahnya, dan akhirnya menjadi 83,7 persen dalam periode empat hingga enam bulan.
 
Pada pertengahan Agustus, Pfizer berencana menyerahkan data kepada regulator AS tentang manfaat dosis vaksin Covid ketiga, menaikkan tingkat antibodi terhadap varian delta. Dosis ketiga disebutkan akan memberikan peningkatan antibodi lebih dari lima kali lipat lebih tinggi pada orang yang lebih muda dan lebih dari sebelas kali lipat pada orang yang lebih tua.
 
Namun pengumuman tersebut disambut dengan sikap dingin oleh para ahli di dalam dan luar negeri.
 
Melansir Japan Times, Jumat (30/7/2021), Dr. Tetsuo Nakayama, profesor proyek di Kitasato Institute for Life Sciences dan direktur Japanese Society of Clinical Virology mengatakan, kekebalan yang didapat dari vaksin menurun, tetapi masih menunjukkan kemanjuran yang tinggi.
 
“Pasien COVID-19 yang terinfeksi varian delta kebanyakan adalah generasi muda yang belum memiliki vaksin. Saat ini, saya melihat tidak perlu suntikan booster, dan saya lebih suka berpikir bahwa kita harus menekankan penyelesaian dua dosis untuk generasi ini.” kata dr Nakayama.

Dr. Hiroyuki Moriuchi, profesor pediatri di Universitas Nagasaki mengatakan secara umum, bahkan jika tingkat antibodi telah menurun, paparan patogen bisa meningkatkan produksi antibodi. Menurutnya, tidak perlu ada suntikan booster, jika tingkat antibodinya jauh lebih rendah.
 
Konsensus ilmiah adalah bahwa suntikan booster akan diperlukan hanya ketika varian baru muncul yang secara signifikan meningkatkan jumlah kasus parah atau kematian di antara orang yang divaksinasi lengkap.
 
Para ilmuwan mengatakan dua dosis vaksin Pfizer dan Moderna merangsang respons imun yang kuat yang terdiri dari sel-T dalam darah, yang mengikat dan membunuh sel-sel yang terinfeksi, dan sel-B memori, yang menghasilkan antibodi. Bersama-sama, ini mungkin bisa memberikan perlindungan terhadap penyakit parah dan kematian selama bertahun-tahun.
 
Salah satu indikator yang baik dari perlindungan kuat yang ditawarkan adalah tingkat antibodi penetralisir dalam darah. Tingkat antibodi vaksin virus corona cenderung tetap lebih tinggi dalam periode yang lebih lama dibandingkan dengan vaksin konvensional, kata para ahli kesehatan.
 
Berapa lama persisnya efek vaksinasi berlangsung tidak jelas, kata Moriuchi dari Universitas Nagasaki, meskipun beberapa studi klinis telah menunjukkan bahwa efek vaksinasi berlangsung setidaknya selama enam bulan.
 
Moriuchi mengatakan bahwa tes laboratorium tingkat antibodi dalam darah orang yang telah menerima dua dosis vaksin mRNA telah menunjukkan bahwa antibodi penetral jauh lebih kuat daripada yang diinduksi oleh vaksin influenza konvensional.
 
"Bahkan jika darah orang-orang itu diencerkan rata-rata 500 kali, itu dapat menahan virus corona konvensional atau varian alfa," katanya. “Untuk varian delta, darah yang diencerkan hingga 150 kali rata-rata masih berfungsi menghambat virus, jadi efeknya akan bertahan lebih lama.”
 
Sebagai perbandingan, individu yang telah menerima vaksin influenza memiliki perlindungan yang jauh lebih rendah terhadap penyakit itu, karena darah yang diencerkan lebih dari sekitar 10 kali rata-rata tidak akan melindungi terhadap penyakit itu, kata Moriuchi.
 
"Mempercepat vaksinasi dua dosis harus didahulukan, daripada suntikan ketiga untuk mengekang infeksi secara lebih efektif."

Mengutip kesenjangan global yang sangat tidak merata dalam pasokan vaksin, kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus juga menolak suntikan booster, dengan mengatakan bahwa sekitar 75 persen vaksin telah diberikan hanya di 10 negara, sementara hanya 1 persen negara berpenghasilan rendah telah menerima setidaknya satu dosis.

Beberapa negara, seperti Jepang, telah melakukan persiapan untuk mengamankan suntikan booster jika tersedia. Kementerian kesehatan pekan lalu menandatangani kontrak untuk mendapatkan 50 juta dosis tambahan vaksin Moderna yang akan dipasok mulai awal tahun depan yang memungkinkan Jepang mendapatkan pengiriman vaksin perusahaan dan kandidat booster yang diperbarui.
 
Israel bulan ini mulai menawarkan booster kepada beberapa orang dengan sistem kekebalan yang lemah, dan negara tersebut sedang mempertimbangkan apakah akan memperluas program tersebut kepada orang lain, terutama mereka yang lebih tua.
 
Meskipun hampir separuh orang Amerika telah divaksinasi penuh, kasus belum terhentikan, karena banyak yang masih enggan untuk divaksinasi.
 
AS mengalami lonjakan rata-rata mingguan untuk infeksi baru harian menjadi hampir 64.000 kasus, tertinggi sejak April, menurut Our World in Data. Kebangkitan serupa dalam kasus baru juga berkembang di negara lain seperti Inggris, yang bertepatan dengan munculnya varian delta yang sangat menular secara global.
 
Dr. Anthony Fauci, pakar penyakit menular AS, mengatakan pada hari Minggu (25/7/2021) bahwa orang-orang di AS mungkin memerlukan suntikan tambahan. Sementara itu, CDC pada hari Selasa (27/7/2021) memperketat kebijakan masker dalam ruangannya, dengan mengatakan bahwa bahkan individu yang divaksinasi sepenuhnya harus melanjutkan mengenakan masker di dalam ruangan di depan umum di beberapa bagian negara dengan area transmisi yang substansial.
 
Tetapi Badan Obat Eropa dan CDC dan FDA menyatakan bahwa suntikan booster tidak diperlukan untuk saat ini, dengan regulator AS meminta orang yang tidak divaksinasi untuk mendapatkan suntikan mereka sesegera mungkin untuk melindungi diri mereka sendiri dan komunitas mereka.

Sumber : bisnis.com