Kerusuhan di Afrika Selatan Tewaskan 72 Orang

Mantan Presiden Afsel Jacob Zuma - Reuters/Thomas Mukoya
14 Juli 2021 10:17 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kerusuhan di Afrika Selatan  yang dipicu oleh pemenjaraan mantan Presiden Jacob Zuma terus meningkat, meskipun ada seruan untuk tenang dari pejabat senior dan pengerahan ribuan tentara ke jalan-jalan untuk memperkuat polisi.

Presiden Cyril Ramaphosa menggambarkan kekerasan dan protes yang mematikan sebagai yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam 27 tahun sejak berakhirnya rezim apartheid.

Korban tewas akibat kerusuhan selama hampir seminggu meningkat menjadi 72, beberapa dari luka tembak, sementara 1.300 orang telah ditangkap.

BACA JUGA : Kerusuhan Etnis Pecah di Ethiopia, 100 Orang Lebih Tewas

Sepuluh orang tewas dalam kerumunan massa pada Senin malam di sebuah mal, kata para pejabat.

Beberapa orang lainnya dilaporkan tewas saat tumpukan barang di gudang ambruk dan empat petugas polisi terluka.

“Kami yakin lembaga penegak hukum kami dapat melakukan pekerjaan mereka dengan sukses. Situasi saat ini di lapangan berada di bawah pengawasan ketat dan kami akan memastikan itu tidak akan memburuk lebih lanjut,” ujar Menteri Kepolisian, Bheki Cele seperti dikutip TheGuardia.com, Rabu (14/7/2021).

Dikatakan, akibat kerusuhan itu terjadi gangguan berupa risiko kekurangan obat-obatan dan bahan makanan yang parah di seluruh Afrika Selatan.

Gelombang kekerasan telah mengganggu peluncuran vaksinasi di Afrika Selatan selain akses ke layanan kesehatan penting termasuk pengumpulan obat oleh pasien yang menderita tuberkulosis dan HIV, menurut  kementerian kesehatan.

Mereka yang telah berjanji untuk vaksinasi di daerah yang dilanda kerusuhan telah disarankan untuk menjadwal ulang.

Ada juga laporan tentang klinik yang dijarah dan masalah dengan pengiriman oksigen ke rumah sakit yang merawat korban gelombang ketiga infeksi Covid-19 yang mencengkeram negara itu.

Kerusuhan sejauh ini terbatas pada dua provinsi terpadat di Afrika Selatan yakni Gauteng, di mana Johannesburg, kota terbesar dan pusat kekuatan ekonomi berada dan KwaZulu-Natal, provinsi asal Zuma. Sedangkan, beberapa jalan raya utama Afrika Selatan diblokir.

Sebanyak 26 orang tewas di KwaZulu-Natal dan 19 di Gauteng, termasuk 10 yang tewas dalam kerumunan massa saat penjarahan Mal Ndofaya di Soweto.

Penjarah kabur dengan televisi besar, oven microwave, pakaian dan linen. Beberapa di antaranya mengendarai mobil dan truk pickup ke toko-toko untuk membantu memindahkan barang-barang.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia