Tak Akan Berlakukan Pembatasan, Singapura Anggap Covid-19 Seperti Flu Biasa

Patung Merlion berdiri di depan gedung-gedung pencakar langit di Singapura, Selasa (24/3/2020). - Bloomberg/Wei Leng Tay
26 Juni 2021 19:47 WIB Janlika Putri Indah Sari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Singapura menyatakan Covid-19 bakal diperlakukan layaknya penyakit endemik seperti flu.

Negara tersebut tidak akan memberlakukan peraturan ketat untuk menghentikan penularan Covid-19. Tidak akan ada karantina pelancong, dan tidak perlu diisolasi bagi yang sudah kontak dengan penderita.

Negeri Jiran tersebut juga berencana tidak lagi mengumumkan jumlah kasus harian Covid-19. Namun, pemerintah tetap mendorong masyarakat melakukan tes untuk pergi ke toko atau pergi bekerja.

Mengutip dari news.com, Sabtu (26/6/2021), para menteri senior Singapura mengatakan langkah itu adalah kondisi normal baru dari bagian hidup bersama Covid-19.

“Kabar buruknya adalah bahwa Covid-19 mungkin tidak akan pernah hilang. Kabar baiknya adalah mungkin untuk hidup normal dengannya di tengah-tengah kita,” tulis Menteri Perdagangan Singapura Gan Kim Yong, Menteri Keuangan Lawrence Wong dan Menteri Kesehatan Ong Ye Kung dalam editorial di Straits Times minggu ini.

Itu berarti virus Covid-19 akan terus bermutasi, dan dengan demikian bertahan di bersama masyarakat.

Seperti kebanyakan negara, Singapura memiliki puncak kasus pada awal tahun lalu hingga mencapai 600 kasus sehari pada pertengahan April.

Namun, gelombang lebih kecil pada bulan Agustus lalu membuatnya kini stabil dengan sekitar 20-30 kasus setiap hari.

Singapura telah mencatat 35 kematian secara total. Negara tersebut memiliki kontrol perbatasan yang ketat dengan tes pada saat kedatangan masuk negara tersebut, karantina hotel dan perintah tinggal di rumah.

Menteri Kung, Yong dan Wong yang membentuk gugus tugas multi-kementerian Covid-19 Singapura mengatakan setiap tahun, banyak orang terkena flu. Sebagian besar sembuh tanpa perlu dirawat di rumah sakit, dan dengan sedikit atau tanpa pengobatan.

Tetapi sebagian kecil, terutama orang tua dan mereka yang memiliki penyakit penyerta, bisa sakit parah, dan beberapa meninggal.

“Kita tidak bisa memberantasnya, tapi kita bisa mengubah pandemi menjadi sesuatu yang tidak terlalu mengancam, seperti influenza atau cacar air, dan melanjutkan hidup kita,” kata ketiganya.

Vaksinasi adalah kuncinya. Singapura akan memberikan dua pertiga dari penduduknya. Setidaknya satu suntikan dalam beberapa minggu, dan dua pertiga divaksinasi penuh pada awal Agustus. Singapura telah mencatat beberapa penduduk setempat yang divaksinasi lengkap terkena Covid-19, tetapi tidak satupun dari mereka yang memiliki gejala serius.

Para menteri mengatakan Covid-19 bisa dijinakkan jika tidak ditaklukkan. Mereka menata apa yang mereka sebut sistem normal baru.

“Alih-alih memantau jumlah infeksi Covid-19 setiap hari, kami akan fokus pada hasil. Berapa banyak yang jatuh sakit parah, berapa banyak di unit perawatan intensif, berapa banyak yang perlu diintubasi untuk oksigen, dan sebagainya. Ini seperti bagaimana kita sekarang memantau influenza," ujar para menteri Singapura.

Sumber : JIBI/Bisnis.com