Advertisement
ILO Ramal Lebih dari 200 Juta Orang Tetap Nganggur pada 2022
Sejumlah buruh pabrik pulang kerja di kawasan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, Jumat (17/4/2020). - ANTARA FOTO/Fauzan
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Organisasi Buruh Internasional (International Labour Organization/ILO) memperkirakan setidaknya lebih dari 200 juta orang diperkirakan akan tetap menganggur dalam skala global pada 2022.
Angka prediksi itu jauh di atas tingkat sebelum pandemi, dengan pemulihan pasar pasar tenaga kerja yang lemah memperburuk ketimpangan yang telah ada.
Advertisement
Dilansir Antara pada Rabu (2/6/2021), ILO memperkirakan prospek pengangguran meningkat menjadi 205 juta pada tahun depan. Angka ini masih jauh di atas 187 juta yang tercatat pada 2019 sebelum krisis akibat virus corona merajalela.
Menurut model ILO, angka tersebut setara dengan tingkat pengangguran global sebesar 6,3 persen tahun ini, yang diperkirakan turun menjadi 5,7 persen tahun depan. Namun, masih lebih tinggi pada tingkat pra-pandemi yang sebesar 5,4 persen pada 2019.
“Pertumbuhan lapangan kerja tidak akan cukup untuk menutupi kerugian yang diderita hingga setidaknya 2023,” demikian pernyataan ILO dalam sebuah laporan World Employment and Social Outlook: Trends 2021.
Ekonom ILO Stefan Kuehn, yang juga merupakan penulis utama laporan tersebut, mengatakan bahwa dampak yang sebenarnya terhadap pasar tenaga kerja bahkan lebih besar saat pengurangan waktu kerja yang diberlakukan terhadap banyak pekerja, serta sejumlah faktor lainnya, turut dihitung.
Secara keseluruhan, diperkirakan hilangnya jam kerja pada 2020 dibandingkan dengan 2019 setara dengan 144 juta pekerjaan penuh waktu pada 020, suatu kekurangan yang masih mencapai 127 juta pada kuartal kedua tahun ini.
“Pengangguran tidak menggambarkan dampak yang terjadi terhadap pasar tenaga kerja,” kata Kuehn, yang juga menyebut bahwa meski perekrutan di Amerika Serikat telah kembali dilakukan usai hilangnya pekerjaan secara besar-besaran, banyak pekerja di area lain, terutama di Eropa, yang masih bekerja di bawah skema jam kerja yang dikurangi.
Perempuan, anak muda dan dua juta orang yang bekerja di sektor informal telah merasakan dampak yang paling berat, dengan 108 juta lebih banyak pekerja kini masuk dalam kategori miskin atau sangat miskin dibandingkan dengan 2019, menurut ILO.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Wisatawan Lumajang Tersambar Petir, Satu Tewas di Pantai Bambang
- Gempa M 6,5 Guncang Maluku Barat Daya, Warga Berhamburan
- Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Negara yang Diizinkan Melintas
- Kualitas Udara Jakarta Memburuk saat Arus Balik, Kategori Tidak Sehat
- Antrean Truk di Ketapang Mengular 12 Jam, Sopir Keluhkan Layanan
Advertisement
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026: Tarif Rp8.000
- Akses Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Ditutup Sementara, Ini Alasannya
- Jadwal KRL Solo ke Jogja Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026
- Remaja Bandungan Tewas Tenggelam di Rawa Pening Saat Liburan Keluarga
- Sinergi Lintas Sektor Gedongtengen Bersihkan Jalan Letjen Suprapto
- Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Berpotensi Hujan
Advertisement
Advertisement








