Gawat! 138.000 Pengendara Memaksa Mudik

Petugas memaksa kendaraan yang diduga pemudik untuk putar balik di Posko Pemantauan di Prambanan, Sleman, Jumat (7/5/2021). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
11 Mei 2021 18:47 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Staf Khusus Kementerian Perhubungan Adita Irawati menyebutkan banyak kendaraan yang lolos pada masa pelarangan mudik dilakukan mulai 6 Mei 2021 lalu.

Dikhawatirkan terjadi penularan Covid-19 di perjalanan dan wilayah tujuan tak mampu melakukan penanganan.

Adita menjelaskan mengapa mudik ini sebaiknya tidak dilakukan. Pertama, mudik bisa dikatakan sebagai ritual masyarakat setiap tahun yang tidak hanya dilakukan oleh saudara-saudara kita yang muslim dan merayakan lebaran Idulfitri, tapi juga yang nonmuslim untuk yang memanfaatkan hari libur untuk bepergian dan wisata.

Kegiatan ini menyebabkan mobilitas massa yang masif dan dilakukan dalam kurun waktu yang bersamaan.

“Dari pembelajaran-pembelajaran dan dari pola-pola yang kami amati, mobilitas itu memang punya potensi untuk menjadi tempat penularan dan juga mempunyai potensi untuk menimbulkan lonjakan kasus. Itu sudah beberapa kali kita alami,” kata Adita pada dialog Serba-Serbi Covid-19, Selasa (11/5/2021).

Pemerintah baik melalui Satgas Covid-19 dan Kementerian yang lain sudah menyampaikan agar masyarakat berhati-hati kalau melakukan perjalanan dan liburan panjang, karena efeknya bisa fatal.

Kemudian, ketika sudah sampai di kampung halaman, belum tentu daerah tujuan punya akses terhadap testing dan tracing yang mencukupi. Oleh karena itu, masyarakat yang punya rencana mudik jadi kita juga harus menyadari.

“Ini juga harus kita perhatikan ya, mungkin anda sehat tapi ketika anda nanti sampai daerah kemudian tertular, belum tentu nanti bisa betul-betul ditangani dengan baik itu karena ketersediaan dari alat-alat itu kan juga tidak sama,” imbau Adita.

Per hari ini, Kemenhub mencatat khususnya untuk yang kendaraan pribadi dan sepeda motor itu lebih dari 138.000 perhari yang mobil yang keluar dari Jakarta dan motor juga banyak sekali.

Sebagian memenuhi syarat, tapi sebagian yang lain itu adalah pihak-pihak yang ‘ngeyel’. Pun sudah diminta putar balik, mereka masih aja yang bersikeras untuk tetap berangkat mudik.

“Jadi saya pikir kita masih ada beberapa hari untuk periode larangan mudik, mudah-mudahan banyak yang masih bisa menahan diri. Dan kalaupun yang sudah sampai juga menyadari betul bahwa di daerahnya ini mereka harus bisa betul-betul menerapkan protokol kesehatan dan syukur mencoba testing,” ujar Adita.

Jangan sampai para pemudik yang lolos menjadi pembawa virus ke kampung halaman dan membahayakan keluarga serta para tetangga di lingkungan sekitar.

“Bayangkan kalau misalnya terjadi penularan massal, dan sudah ada contohnya ada yang mudik di satu kampung, kemudian dari satu orang tersebut menularkan keluarganya, kemudian menularkan ke tetangganya karena ikut beribadah bersama dan akhirnya daerah tersebut menjadi chaos,” kata Adita.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia