India Temukan Infeksi Jamur Hitam Mematikan pada Pasien Covid-19

Para pria bersorak saat mereka disiram air selama perayaan Holi, di tengah penyebaran Covid-19 di Prayagraj, India, Senin (29/3/2021). - Antara/Reuters
11 Mei 2021 14:37 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — India menemukan kasus infeksi jamur hitam pada pasien Covid-19 yang dapat merusak fitur wajah dan berakibat fatal. Kasus ini ditemukan seiring dengan pertumbuhan jumlah kasus yang sangat cepat.

Seperti dilansir dari Bloomberg pada Senin (10/5/2021), infeksi mucormycosis atau jamur hitam dapat merusak sinus atau paru-paru ketika spora dihirup, kata Dewan Riset Medis India (ICMR) dalam sebuah peringatan kesehatan yang dikeluarkan Minggu (9/5/2021).

Pasien yang menjalani pengobatan di ICU menjadi yang paling rentan. Infeksi ini sebetulnya langka, tetapi mematikan. Menurut laporan media loka, sejumlah penderita Covid-19 kehilangan rahang atas dan mata setelah tertular.

Dengan kasus baru harian hingga 300.000, dokter di ICU melihat adanya gejala kasus jamur hitam tersebut. Penularan kemungkinan terjadi lewat tabung oksigen melalui hidung.

Jamur dapat menyerang melalui saluran pernapasan, dan telah muncul di India sebelum pandemi Covid-19, menurut New York Times.

Sejumlah gejala seperti rasa nyeri dan kemerahan pada sekitar mata dan hidung, sesak napas, muntah darah, dan kondisi mental yang berubah, kata ICMR.

Dokter disarankan untuk memantau kadar glukosa darah orang yang terkena dan menggunakan air steril pada alat pelembab udara untuk terapi oksigen.

ICMR memperingatkan agar tidak menggunakan steroid secara berlebihan karena ada indikasi bahwa steroid dapat memperburuk infeksi.

Infeksi jamur menjadikan gelombang Covid-19 di India semakin kompleks. Mutasi virus di India membuktikan penanganan virus semakin sulit. Di saat yang sama, krisis tempat tidur rumah sakit, tabung oksigen, obat-obatan Covid, dan vaksin masih terjadi.

Para ahli telah memperingatkan bahwa besarnya wabah di India pasti akan menghasilkan mutasi virus baru dan efek samping dari virus yang mungkin tidak terlihat di tempat lain.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia