Awas! Penyakit Obesitas Jadi Masalah Serius Indonesia, Ini Alasannya

Ilustrasi obesitas. Seseorang dengan kondisi obesitas (IMT >25) harus segera mencari bantuan profesional untuk intervensi sesuai dengan kondisinya. - Istimewa
03 Maret 2021 20:17 WIB Laurensia Felise News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah menggelar kampanye untuk menekan kasus gemuk berlebih dalam rangka memperingati Hari Obesitas se-Dunia yang jatuh setiap 4 Maret. Obesitas menjadi penyakit tidak menular berbahaya secara global.

Cut Putri Arianie, Direktur Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, mengatakan dampak obesitas tidak bisa dianggap remeh karena bisa menggangu kesehatan tumbuh, sosial, dan mental seseorang.

"Obesitas ini bisa menimbulkan berbagai penyakit seperti jantung, diabetes, asam urat, gangguan pernafasan, gagal ginjal dan lain-lainnya. Kemudian produktifitas seseorang jadi menurun. Bahkan mengganggu mental mereka," katanya secara virtual pada acara webinar Hari Obesitas se-Dunia, Rabu (3/3/2021).

Obesitas menjadi masalah serius di dunia dan Indonesia. Penyakit ini bisa menimpa balita, anak-anak, remaja, dewasa maupun lansia. Polemik ini tentunya dapat dicegah bahkan diatasi dengan kesadaran dari individu.

Tidak imbangnya makanan yang dikonsumsi dan dikeluarkan memicu tumbuhnya timbunan lemak. Aktivitas yang rendah juga kurangnya gizi seimbang membuat berat badan terus melonjak.

Faktor lingkungan jadi pemicu kebiasaan seseorang untuk makan dengan jumlah banyak dan juga malas beraktifitas. Kemudian ada juga faktor genetik. Kedua faktor tersebut bisa cegah dengan mengubah menjadi gaya hidup yang sehat.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia Prof. Nurpudji Taslim menambahkan modifikasi gaya hidup adalah dasar dari perawatan dan pencegahan penyakit obesitas.

"Seseorang dengan kondisi obesitas (IMT >25) harus segera mencari bantuan profesional untuk intervensi sesuai dengan kondisinya. Obesitas dapat dicegah dengan pola makan sehat yang seimbang, berolahraga minimal 150 menit per minggu, dan memonitor IMT secara rutin,” kata Nupudji.

Sumber : Bisnis.com