Epidemiolog UGM Sebut GeNose Cocok untuk Transportasi Umum, Ini Alasannya

Hasil pemeriksaan Genose C19 ini akan keluar dalam waktu sekitar 3 menit. Pemeriksaan dilakukan 1 kali tanpa pengulangan. - KAI
02 Februari 2021 16:57 WIB Rahmi Yati News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Penggunaan alat deteksi Covid-19, GeNose C19 di moda transportasi khususnya kereta api saat ini masih menuai pro dan kontra di berbagai kalangan.

Epidemiolog Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada Riris Andono Ahmad menilai GeNose merupakan alat screening yang memang dibutuhkan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mengamankan koridor perjalanan di tengah pandemi saat ini.

"Kepentingannya KAI kan mengamankan perjalanan. Sebenarnya agar orang yang selama di dalam koridor perjalanan itu aman, sehingga kemudian itu [GeNose] menjadi lebih penting," katanya saat siaran langsung bersama Kemenhub, Senin (1/2/2021).

Dia mengibaratkan GeNose sebagai alat Radiologi atau MRI yang ada di rumah sakit yang hanya memberikan gambaran suatu penyakit. Untuk mengetahui diagnostik pastinya tentu harus dilakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan alat diagnostik yang lebih spesifik.

GeNose diklaim memiliki kinerja yang sensitif, bukan spesifik, sehingga akan ada kemungkinan post positif. Dengan kata lain, bila seseorang mendapati hasil GeNose yang positif, harus dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan seperti PCR untuk memastikan positif atau negatif terinfeksi Covid-19.

"Dalam tanda kutip kita hanya ingin memisahkan orang yang sehat dan terinfeksi agar tidak menularkan, sehingga ada level kesalahan yang bisa maklumi. Artinya setelah dia diuji dengan GeNose dan katakanlah hasilnya positif, ini harus dibuktikan lagi dengan satu alat diagnostik yang lebih bisa memberi bukti bahwa ada virusnya," terang Riris.

Dia menilai GeNose sudah relatif pas digunakan untuk mengamankan koridor-koridor moda perjalanan atau pun perkumpulan-perkumpulan besar yang terjadi sesaat dan butuh assesment yang cepat pula.

"Akan lebih baik memang kalau kemudian spesifitasnya tetap tinggi, tapi saya rasa untuk kepentingan mengamankan koridor perjalanan, [GeNose] dengan kinerja yang ada menurut saya sudah relatif tepat," ungkapnya.

Sebelumnya, VP Public Relations KAI Joni Martinus mengatakan hasil pemeriksaan GeNose yang menunjukkan negatif berlaku 3 x 24 jam sejak dikeluarkannya print-out, sedangkan jika hasilnya positif, calon penumpang tidak diperbolehkan naik kereta api.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia