Wedhus Gembel Capai 3 Km, Warga Turgo Diungsikan

Luncuran awan panas Gunung Merapi menuju hulu Sungai Krasak sekitar pukul 12.44 WIB terlihat dari Kawasan Turi, Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (7/1/2021). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
28 Januari 2021 07:07 WIB Hafit Yudi Suprobo News Share :

SLEMAN—Warga Dusun Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman diungsikan setelah Gunung Merapi mengeluarkan awan panas dengan jarak terjauh tiga kilometer ke arah barat daya.

Mereka yang mengungsi terdiri dari kelompok rentan yakni lansia dan anak-anak. Berdasarkan pantauan Harian Jogja pada Rabu (27/1/2021), pengungsi sampai ke barak pengungsian Purwobinangun, Pakem, Sleman, pada sekitar pukul 17.12 WIB. Pengungsi diangkut menggunakan kendaraan truk milik Basarnas, BPBD Kabupaten Sleman, Satpol-PP Kabupaten Sleman, Polisi, dan kendaraan pribadi milik pengungsi.

Terakhir wilayah Turgo terkena dampak letusan Merapi pada November 1994. Saat itu luncuran awan panas Merapi terjadi akibat runtuhnya kubah lava membawa korban puluhan warga. Sebagian besar korban jiwa berada di rumah warga yang sedang menggelar hajatan.

Kepala BPBD Kabupaten Sleman, Joko Supriyanto, menyatakan jumlah warga Turgo sebanyak 500 orang tetapi tidak semua diungsikan. Upaya evakuasi warga Turgo dilakukan, kata Joko, setelah dirinya dihubungi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). "Jadi gini, karena ada peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi. BPPTKG menyebutkan ada potensi aktivitas vulkanik lebih besar Gunung Merapi. Maka, kami mengambil langkah pengungsi dibawa ke sini [barak Purwobinangun] karena di sana (SD Sanjaya Tritis) tempatnya kecil dan belum memenuhi protokol kesehatan," ujarnya.

BPBD Kabupaten Sleman menyiapkan dua barak pengungsian bagi warga Turgo, yakni barak Purwobinangun, dan barak Pandanpuro, Hargobinangun. Dua barak disiapkan bagi 150 warga dusun Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman untuk sementara waktu mengungsi. "Kapasitas barak hanya 100 orang, lainnya ada lagi di Barak Pandanpuro, Hargobinangun, Pakem, Sleman," ujar Joko.

Evakuasi warga baru menyasar warga Dusun Turgo, belum menyasar warga di Dusun Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman. "Seperti Tunggularum itu kan masih 7,5 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Sedangkan, Turgo ini jaraknya sekitar 6,5 kilometer. Kalau barak pengungsian Purwobinangun, Pakem, Sleman, jaraknya sekitar 15 kilometer sampai 20 kilometer," ungkapnya.

Logistik juga sudah disiapkan untuk pengungsi. Dapur umum milik Tagana Kabupaten Sleman juga sudah disiapkan di barak pengungsian.

Awan panas yang terjadi di Gunung Merapi membuat warga di Dusun Kalitengah Lor dan Kalitengah Kidul, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, sempat kaget dan berlari keluar rumah. Mereka keluar rumah saat terjadi awan panas yang cukup besar sekitar pukul 13.35 WIB. "Sejumlah warga Kalitengah Lor dan Kalitengah Kidul sempat merasa kaget dan berlari keluar rumah saat terjadi awan panas cukup besar dari Merapi pada siang tadi [kemarin]. Namun, tidak terlalu lama, dan saat ini mereka sudah kembali ke rumah masing-masing," kata Panewu Cangkringan Suparmono.

Menurut dia, sampai saat ini kondisi di Kalitengah Lor maupun Kalitengah Kidul masih relatif aman dan tidak terpantau adanya hujan abu di wilayah setempat. "Tidak ada evakuasi warga lereng Merapi. Mereka tidak diungsikan ke barak. Saat ini sudah pulang ke rumah masing-masing," katanya. "Di wilayah paling atas Glagaharjo saat ini masih siaga personel Babinkamtibmas dan Babinsa serta sejumlah sukarelawan, sejauh ini masih aman dan tidak ada pengungsian," katanya.

Awan Panas

Aktivitas guguran Gunung meningkat signifikan pada Rabu. BPPTKG mencatat dari pukul 00.00 WIB-14.00 WIB, setidaknya terjadi 36 kali guguran awan panas. Kepala BBPTKG, Hanik Humaida, menuturkan awan panas memiliki jarak luncur antara 0,5-tiga kilometer ke arah barat daya. “Awan panas mengarah ke hulu sungai Krasak dan Boyong. Tercatat dengan amplitude 15-60 mm, dengan durasi 83-197 detik,” ujarnya, Rabu.

Awan panas tersebut kata dia, masih dalam radius bahaya yang direkomendasikan BPPTKG, yakni lima km dari puncak, yang mengarah ke Kali Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng dan Putih. Masyarakat diimbau tidak lakukan aktivitas dalam area rekomendasi bahaya tersebut.

Hujan abu dengan intensitas tipis dilaporkan terjadi di sejumlah lokasi, seperti di beberapa desa di Kecamatan Tamansari, kabupaten Boyolali dan Kota Boyolali. “Hujan abu yang terjadi merupakan akibat dari awan panas guguran,” katanya.

Masyarakat diharapkan mengantisipasi akibat gangguan abu vulkanik seperti menggunakan masker, kacamata serta menutup sumber air. Di samping itu masyarakat juga diminta untuk mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di puncak.

AirNav sempat menerbitkan Ashtam yang berisi peringatan bagi pilot terhadap potensi abu vulkanik Gunung Merapi seusai Merapi erupsi, kemarin siang. "Ashtam, warning buat seluruh penerbangan terhadap potensi abu vulkanik," kata GM AirNav Cabang Jogja, Ratna Mustikaningsih.

Menurut Ratna, Ashtam berbeda dengan Notam (notice to airmen). Hingga kemarin petang, belum ditemukan abu vulkanik di Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo sehingga bandara tersebut tetap beroperasi. "Itu bukan Notam, Ashtam setiap saat kami update. Penerbangan diatur untuk menjauhi area potensi abu vulkanik, di Bandara Adisutjipto, Adisoemarmo, dan Kulonprogo [YIA]," jelasnya.

Hujan Abu

Erupsi Gunung Merapi mengakibatkan hujan abu cukup tebal di sejumlah desa di Kabupaten Boyolali. Sekretaris Desa Sangup, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, Sri Hartanto, mengatakan dampak guguran awan panas dari Gunung Merapi berupa hujan abu di desa setempat yang posisinya di timur puncak gunung itu. "Hujan abu yang mengguyur di Desa Sangup terjadi sekitar pukul 12.30 WIB. Hujan abu di Sangup juga bercampur pasir lembut," kata dia.

Dampak awan panas dari Gunung Merapi, berupa hujan abu cukup tebal, di bagian daerah atas, seperti Dukuh Beling dan Sudimoro. Hujan abu di Desa Sangup sebenarnya dimulai sekitar pukul 06.00 WIB, tetapi kondisinya tipis, sedangkan sekitar pukul 12.30 WIB turun hujan abu cukup tebal.

Kendati demikian, kata dia, situasi warga setempat tetap kondusif. Mereka di rumah masing-masing dan menghentikan kegiatan rutin sehari-hari akibat peristiwa alam itu. Ia mengatakan guguran awan panas berakibat debu vulkanik yang terbawa angin ke arah timur dan turun di Desa Sangup, Kecamatan Tamansari, dan sekitarnya. Hujan abu juga terjadi di Desa Lanjaran, Mriyan (Kecamatan Tamansari), dan Sruni, Cluntang, Kecamatan.

Namun, guguran awan panas Merapi tidak sampai berdampak di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III lainnya di Boyolali atau sisi utara. Bahkan, di tiga desa di Kecamatan Selo, yakni Tlogolele, Klakah, dan Jrakah, kondisinya relatif aman. Kepala Desa Tlogolele Sunguadi mengatakan wilayah setempat aman dan terkendali dari bahaya erupsi Merapi. Namun, sekitar 150 warga rentan, anak balita, dan lansia masih menempati pengungsian sementara di Desa Tlogolele.

Kepala Desa Klakah Sumarwoto juga mengatakan wilayahnya aman dari dampak erupsi Merapi, antara lain tidak ada hujan abu. Namun, katanya, warga tetap waspada terkait dengan perkembangan aktivitas vulkanik Merapi.