Seberapa Penting Sains Jadi Rujukan Menangani Pandemi? Ini Kata Pakar..

Rektor UII Profesor Fathul Wahid. - @Youtube.
15 Januari 2021 13:17 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah pakar melakukan pembahasan terkait pentingnya sains sebagai rujukan dalam mengambil kebijakan penanganan pandemi Covid-19. Hal ini dibahas secara daring oleh Lembaga Kebudayaan Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) Embun Kalimasada secara daring.

Rektor UII Profesor Fathul Wahid memberikan gambaran betapa sains selayaknya menjadi rujukan dalam menentukan setiap kebijakan penanganan pandemi. Namun pihaknya melihat belum semua negara menjadi sains sebagai rujukan utama.

BACA JUGA : Kapan Pandemi Covid-19 Berakhir? Ini Prediksi Terbaru 

“Negara, pemerintah, lintas teritorial perlu merepsons pandemi, berkaca di AS jadi cermin terkait hubungan antara politik dan sains. Di mana ada sebuah majalah ilmiah di AS yang secara terang-terangan mendukung capres Joe Biden. Ini tidak lazim sebuah majalah ilmiah mendukung kandidat presiden, ini pertama kali. Alasannya ternyata karena melihat [bahwa presiden AS sebelumnya] tidak menghargai sains sama sekali dalam menangani pandemi,” kata Fathul melalui Youtube Embun Kalimasada sebagaimana dipantau Harianjogja.com, Kamis (14/1/2021).

Ia mengatakan, diskusi Laporan Tahunan Islam Indonesia 2020 ini untuk melihat dari berbagai perspektif, apakah saran pakar didengar dengan serius diakomodasi dalam pengambilan kebijakan. Menurutnya berdasarkan penelitian salah satu lembaga pendorong sains terbuka di Swiss dengan melibatkan responden 25.000 sainstis dunia. Urutan tertinggi Selandia Baru di angka 77% pakar menyatakan bahwa negara tersebut menggunakan sains sebagai dasar pengambilan kebijakan, kemudian Chile 22%, Brasil 23%, Inggris 24% dan AS 18%.

“Sayangnya tidak ada data spesifik terkait Indonesia. Ini penting untuk melihat pemerintah kita apakah sudah menjadikan sains ilmu pengetahuan sebagai dasar untuk pengambilan kebijakan. Ketika politik dan sains bergabung, tujuan sains dan politik itu sama yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan manusia,” katanya.

BACA JUGA : KABAR KAMPUS: Pakar UGM Sebut Kecanduan Internet

Rektor Universitas Nahdatul Ulama (UNU) Jogja Profesor Purwo Santoso dalam diskusi itu sepakat tentang pentingnya sains sebagai rujukan dalam mengambil kebijakan oleh pemerintah. Ia menyorot tentang keterkaitan antara ilmu satu dengan lainnya yang seharusnya saling melengkapi sehingga bisa memberikan manfaat terutama diadopsi pengambil kebijakan.

“Kenapa ilmu satu dengan yang lain ini harus saling melengkapi sehingga tidak terjadi arogansi disiplin ilmu, di mana harus disiplin ilmu sendiri-sendiri [yang masing-masing diunggulkan],” katanya.