Studi: Vaksin Pfizer-BioNTech SE Ampuh terhadap Mutasi Virus Corona

Ilustrasi - Freepik
08 Januari 2021 21:17 WIB Aprianto Cahyo Nugroho News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Sebuah studi menunjukkan vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer Inc. dan BioNTech SE dapat mengatasi varian virus Corona yang bermutasi yang muncul di Inggris dan Afrika Selatan.

Dilansir dari Bloomberg, studi yang dilakukan oleh para peneliti di University of Texas dan didukung oleh Pfizer dan BioNTech ini menunjukkan bahwa vaksin tersebut kemungkinan akan menghasilkan respons kekebalan pelindung terhadap strain virus corona baru yang disebut mutasi N501Y pada spike protein virus. Studi ini dirilis sebelum publikasi dan tinjauan oleh pihak lain.

Penelitian tersebut meneliti respons terhadap virus bermutasi yang terdapat dalam serum darah yang diambil dari 20 orang yang divaksinasi dengan vaksin mRNA perusahaan.

Penelitian tidak mempelajari mutasi lain pada spike protein. Namun, temuan itu konsisten dengan respons terhadap panel yang terdiri dari 15 pseudovirus yang membawa spike dengan mutasi lain yang ditemukan pada strain SARS-CoV-2 yang beredar.

Para eksekutif di BioNTech serta dari Moderna Inc., pengembang vaksin mRNA lainnya, mengatakan bahwa mereka yakin vaksin mereka melindungi terhadap strain virus baru. Studi University of Texas adalah salah satu yang pertama mendukung klaim tersebut.

Penelitian ini dilakukan ketika Covid-19 menyebar secara global dengan laju infeksi harian tertinggi, yang kemungkinan dipercepat oleh munculnya strain virus baru, dan ketika negara-negara mulai meluncurkan program vaksinasi.

Varian virus baru Inggris, yang telah diidentifikasi di seluruh AS serta di negara-negara mulai dari Korea Selatan hingga Kanada, diperkirakan 57 persen hingga 70 persen lebih menular daripada jenis virus corona biasa.

Virus memiliki kesempatan untuk berubah melalui mutasi yang muncul secara alami saat mereka bereplikasi dan bersirkulasi di inang mereka. Beberapa virus  seperti influenza berevolusi dengan cepat dengan ribuan mutasi dan garis keturunan yang berbeda, sementara virus lain cenderung lebih stabil.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia