Vaksin Covid-19 Sinovac Paling Lemah dalam Respon Imun, Benarkah?

Botol vaksin CoronaVac SARS-CoV-2 Sinovac ditampilkan di acara media di Beijing, China, pada 24 September. - Bloomberg\\r\\n
20 Desember 2020 21:17 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Vaksin Covid-19 buatan Sinovac BionTech disebut-sebut sebagai vaksin dengan efikasi terlemah dibandingkan kandidat lainnya yang saat ini tengah dikembangkan di berbagai negara.

Hal itu melansir dari Aljazeera yang mengutip sebuah tabel perbandingan efektifitas vaksin covid-19 yang saat ini sedang dikembangkan.

Dalam tabel yang mereka tampilkan disebutkan jika tabel itu merupakan keluaran dari organisasi kesehatan dunia (WHO). Tapi di laman resmi WHO tidak ditemukan berdasarkan penelusuran Bisnis.

Dalam tabel itu, terdapat 10 vaksin yang diungkapkan vaksin yang memiliki imun respons paling tinggi adalah buatan Novavac dan CanSino. 

Sedangkan buatan AstraZeneca 70 persen, buatan Pfizer 95 persen, Gamaleya, Jhonson, dan Sinopharm Moderate, Moderna 94,5 persen, buatan Inovio Cepi belum ada laporan. Sedangkan untuk buatan Sinovac dalam tabel itu masuk dalam kategori rendah dalam respons imun.

Data tersebut dilaporkan pada 24 November 2020 lalu. Seperti diketahui, hingga saat ini, uji coba klinis vaksin Sinovac masih berjalan dan belum diungkapkan hasilnya.

Sempat muncul kabar jika vaksin itu efektif hingga 95 persen, namun oihak Sinovac menyatakan belum ada hasil pasti dari uji coba.

Uji coba vaksin tersebut dilakukan di beberapa negara termasuk Brasil dan Indonesia.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah mendatangkan sebanyak 1,2 juta dosis vaksin jadi pada 6 Desember lalu

Media itu juga mencantumkan daftar negara yang telah memesan vaksin tersebut, dimana Uni Eropa dan AS menjadi negara terbesar pemesan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ada lebih dari 150 vaksin yang sedang dikembangkan untuk COVID-19.

Beberapa vaksin semakin dekat untuk dirilis saat melewati fase ketiga uji coba pada manusia.

Menurut kepala ilmuwan WHO, Dr Soumya Swaminathan, uji coba tahap pertama pada manusia biasanya dilakukan pada 30 hingga 50 orang untuk memastikan vaksin tersebut aman dan tidak memiliki efek samping yang tidak terduga. Tahap dua melibatkan uji coba yang lebih besar yang mulai melihat imunogenisitas vaksin, yaitu apakah vaksin tersebut memunculkan respons imun yang diperlukan. Uji coba fase tiga biasanya melibatkan puluhan ribu orang dan menguji kemanjuran vaksin, yaitu seberapa baik vaksin itu melindungi seseorang dari infeksi, serta keamanannya dalam kelompok besar.

Vaksin yang dibuat di Rusia dan China dirilis sebelum tahap ketiga uji coba pada manusia. Demikian menurut data tersebut.

Hampir 4,4 miliar dosis dari berbagai vaksin telah dipesan sebelumnya di seluruh dunia, menurut penghitungan oleh kantor berita Reuters.

Persaingan sengit internasional untuk mengunci pesanan vaksin senilai miliaran dolar telah berlangsung selama berbulan-bulan, dan beberapa perusahaan akan mulai mengirimkan jutaan dosis segera pada pertengahan Desember.

Vaksin AstraZeneca-Oxford memiliki keunggulan praktis dibandingkan beberapa yang lain karena dapat disimpan pada dua hingga delapan derajat Celcius (35.6-46.6 derajat Fahrenheit) daripada minus 70 derajat Celcius (-94 derajat Fahrenheit) yang dibutuhkan untuk vaksin Pfizer, sebagai contoh.

AstraZeneca, yang telah berjanji tidak akan mendapatkan keuntungan dari vaksin selama pandemi, telah mencapai kesepakatan dengan pemerintah dan organisasi kesehatan internasional yang menetapkan biayanya sekitar $ 2,50 per dosis. Vaksin Pfizer akan menelan biaya sekitar US$20 per dosis, sedangkan Moderna akan menelan biaya US$15-25, berdasarkan perjanjian yang dibuat oleh perusahaan untuk memasok vaksin mereka kepada pemerintah AS.

Sumber : Bisnis.com