Militer AS Kembangkan Teknologi Telepati, Baca Pikiran Orang di Medan Perang

Militer AS mengembangkan teknologi telepati untuk membaca pikiran tentara di medan perang - Reuters/Oleg Popov
15 Desember 2020 15:27 WIB Desyinta Nuraini News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Laboratorium Penelitian Komando Pengembangan Kemampuan Tempur Angkatan Darat Amerika Serikat berhasil membedakan sinyal otak dan mengembangkan teknologi telepati.

Dipersenjatai dengan algoritma dan matematika yang kompleks, para peneliti dapat mengidentifikasi sinyal otak mana yang mengarahkan gerakan, atau sinyal yang relevan dengan perilaku, dan kemudian menghilangkan sinyal tersebut dari sinyal otak lain yang dianggap tidak relevan dengan perilaku.

Dr Hamid Krim, seorang manajer program di Kantor Riset Angkatan Darat berpendapat bahwa teknologi telepati ini pada akhirnya dapat memberi tentara AS keunggulan di garis depan. “Tujuan dari proyek AS-Inggris yang cukup besar ini disebut sebagai antarmuka mesin-otak," ujarnya seperti dilansir dari Express UK, Selasa (15/12/2020).

BACA JUGA : TNI AD Kirim Ratusan Prajurit ke Amerika Serikat

Dengan kata lain kata Krim, pihaknya mencoba untuk membuat otak manusia dan mesin terlibat dalam komunikasi dan dialog dupleks, sehingga jika mesin benar-benar dapat membaca 'pikiran', pada gilirannya dapat memberi sinyal umpan balik kepada seseorang untuk membuat pesanan.

“Apa yang dapat mereka lakukan adalah merancang metodologi dan sekarang algoritma matematika yang benar-benar dapat memisahkan perilaku yang relevan dan yang tidak relevan. Itu benar-benar luar biasa, karena di masa depan, potensi dampaknya pada banyak hal berbeda," jelasnya.

Dia menturkan, jika seorang tentara berada dalam situasi di mana mereka tidak dapat berbicara, atau tidak dapat berbicara dengan suara keras untuk melakukan percakapan, mereka dapat melakukan percakapan diam-diam dengan mesin, yang pada gilirannya dapat berkomunikasi dengan tentara lain. "Jadi, dalam arti tertentu, Anda dapat membangun komunikasi diam," imbuhnya.

Penelitian ini juga dapat memiliki konsekuensi untuk mendeteksi stres. “Katakanlah misalnya, orang tersebut mungkin mulai stres, lelah, atau terlibat dalam suatu aktivitas, terkadang Anda lupa atau Anda menolak untuk mengakui bahwa Anda mulai lelah. Mungkin, jika mesin dapat mengingatkan Anda tentang hal itu, atau mampu memberi umpan balik, dalam arti tertentu, maka lebih baik," tutur Krim.

BACA JUGA : Ada Tentara di Markas FPI, Refly Harun: Koopsus TNI Hanya

Adapun eksperimen tersebut juga melibatkan peneliti dari University of Southern California, Duke dan New York University, bekerja sama dengan para ahli dari Oxford University dan Imperial College London. Ini melibatkan pemantauan tindakan monyet yang meraih bola untuk memisahkan sinyal gerak otak dari aktivitas lain.

Mereka sekarang mencari sinyal lain untuk diidentifikasi, di luar gerakan.“Hasilnya sudah ada sekarang, apakah mereka berhasil untuk keperluan medis atau sesuatu seperti besok, mungkin tidak, itu akan memakan waktu. Tapi, salah satu aplikasi lainnya jelas untuk prostesis, bisa dibayangkan mungkin, prostesis yang lebih pintar dan lebih cerdas yang dapat bereaksi, seperti tangan kita akan bereaksi terhadap pikiran di otak kita," kata Krim.

Kapan akan tersedia? Krim mengatakan bergantung pada minat, ekonomi, dan faktor lainnya. Namun, meskipun kemajuan signifikan dibuat dengan antarmuka otak manusia, kemajuan teknologi terhambat oleh kerumitan otak yang membingungkan. Dasar neurologis untuk kondisi emosional masih jauh dari pemahaman.

BACA JUGA : Panglima TNI : Lihat Tentara Tidak Netral saat Pemilu

Selain itu, melatih otak untuk melakukan tugas yang paling sederhana sekalipun melalui antarmuka yang terhubung dengan komputer membutuhkan waktu yang sangat lama. Namun, Dr Krim yakin "komunikasi dupleks penuh" akan segera terjadi. "Ini bukan hanya kue di langit - ini mungkin, beberapa tahun, mungkin satu dekade atau sesuatu di masa mendatang, tetapi bagaimanapun, ini realistis," tegasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia