Virus Corona yang Bermutasi di Cerpelai Menginfeksi Manusia di 7 Negara

Ilustrasi - Freepik
19 November 2020 21:27 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Tujuh negara melaporkan mutasi virus Corona baru terkait cerpelai (mink) pada manusia. Mutasi tersebut diidentifikasi sebagai varian mink Covid-19 karena telah berulang kali ditemukan pada keduanya.

Ketidakpastian seputar implikasi dari penemuan varian Covid-19 cerpelai pada manusia membuat Denmark, produsen bulu cerpelai terbesar di dunia, meluncurkan upaya pemusnahan secara nasional awal bulan ini.

Pemusnahan tersebut dipicu oleh penelitian dari badan kesehatan masyarakat Denmark, Statens Serum Institut (SSI), yang menunjukkan bahwa varian cerpelai yang disebut C5 lebih sulit untuk dinetralkan oleh antibodi dan berpotensi mengancam kemanjuran vaksin.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (19/11/2020) selain Denmark ada sejumlah negara lain yang juga melaporkan infeksi virus corona C5. Negara-negara itu termasuk Belanda, Afrika Selatan, Swiss, Kepulauan Faroe, Rusia, dan Amerika Serikat

Meskipun ada reaksi politik, pemusnahan terus berlanjut, dan petani memiliki waktu yang tak banyak untuk menyisihkan semua cerpelai di negara itu. Namun, perselisihan tentang pemusnahan tersebut telah memaksa pengunduran diri Menteri Pertanian Denmark, Mogens Jensen.

Sampai saat ini belum ada laporan luas tentang varian cerpelai pada manusia di luar Denmark. Tetapi para ilmuwan yang mengunggah sekuensing virus dan informasi varian ke Gisaid, sebuah inisiatif basis data global, mengatakan telah ada tanda-tanda varian cerpelai di seluruh dunia.

Francois Balloux, direktur institut genetika University College London mengatakan para peneliti mengetahui ada varian cerpelai di tujuh negara, tapi masing-masing hanya memiliki sekitar 20 genom yang terbilang sedikit.

“Pada pekan lalu, Denmark mengunggah 6.000 urutan genom dan dengan itu kami dapat mengidentifikasi 300 atau lebih varian lain pada virus yang menginfeksi manusia di Denmark,” ujarnya..

Dia melanjutkan bahwa implikasi temuan tersebut menjadi indikasi perlunya menyisihkan cerpelai yang dibudidayakan. Menurutnya, reservoir inang yang lebih besar berarti lebih banyak infeksi yang bisa terjadi pada manusia.

Poin utamanya, kata Balloux, adalah kendati mutasinya tidak menakutkan tetapi Denmark memiliki lebih banyak cerpelai, lebih dari tiga kali lipat daripada jumlah manusia. Hal ini akan meningkatkan risiko penularan secara signifikan.

Seshadri Vasan dari University of New York mengatakan prevalensi mutasi terkait cerpelai di Denmark terbukti dalam basis data Gisaid. Negara itu memiliki 329 urutan varian F, yang secara kasar memetakan banyak individu dengan beberapa duplikat.

Dia melanjutkan catatan dalam data yang sama untuk negara-negara lain. Belanda memiliki enam varian, Afrika Selatan dan Swiss punya dua, sementara Kepulauan Faroe, Rusia, dan Amerika Serikat memiliki satu.

Vasan menjelaskan beberapa varian F manusia dan cerpelai berasal dari sampel yang dikumpulkan di Denmark pada bulan Juni, ini bisa menunjukkan bahwa pergerakan manusia, hewan, dan barang dapat menyebarkan varian F ini ke negara-negara lainnya.

Namun, karena basis data Gisaid hanya mencakup informasi pasien yang tidak lengkap, dia mengatakan tidak mungkin untuk mengetahui dengan tepat bagaimana dan kapan penyebaran virus corona cerpelai itu terjadi.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia