Setelah Didemo, Raja dan Ratu Thailand Turun ke Jalan Temui Pendukungnya

Raja Maha Vajiralongkorn dan istrinya, Ratu Suthida, dalam acara pernikahan mereka yang ditayangkan oleh televisi Thailand. Keduanya menikah di kediaman raja di Bangkok, Thailand, Rabu (1/5/2019). - Reuters
03 November 2020 16:17 WIB Reni Lestari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Di bawah tekanan yang meningkat dari pengunjuk rasa yang menuntut reformasi, Raja dan Ratu Thailand menemui pendukungnya di Bangkok, Minggu pekan lalu. Mereka berbaur dengan warga di jalan setelah menghadiri upacara keagamaan di dalam Grand Palace.

Kerumunan tersebut adalah aksi balasan dari pengunjuk rasa yang menuntut reformasi demokrasi dan monarki Thailand.

Kerumunan pendukung kerajaan menunggu berjam-jam di luar tembok putih kompleks istana untuk menyambut mereka, membawa potret Raja Maha Vajiralongkorn dan Ratu Suthida dan mengibarkan bendera nasional. Hampir semuanya mengenakan kemeja kuning, menandakan kesetiaan pada mahkota.

"Saya datang ke sini hari ini dengan membawa hati saya. Lahir sebagai orang Thailand, kita harus berterima kasih kepada monarki. Jika ada yang ingin memprotes pemerintah, mereka bisa melakukannya. Tapi mereka tidak boleh menyentuh monarki," kata seorang pengusaha wanita, Pakawarin Damrongrotthawee, dilansir Channel News Asia, Selasa (3/11/2020).

Saat pasangan kerajaan itu muncul, anggota kerumunan meneriakkan "Hidup Raja!" dan mencium kaki raja saat pasangan itu lewat, beberapa menyekanya dengan handuk. Beberapa penonton mengulurkan tangan untuk menyentuh tangannya, dan memberikan mawar kuning kepada pasangan itu saat mereka lewat. Anggota keluarga kerajaan lainnya mengikuti setelah mereka.

"Saya ingin mendorongnya, karena sekelompok orang Thailand memiliki sikap yang salah terhadap monarki. Saya ingin mereka memahami bahwa monarki adalah bagian dari masyarakat Thailand dan Thailand tidak akan pernah bisa bertahan tanpa monarki," kata Siraseth Limpisuree, 55 tahun.

Para pengunjuk rasa yang dipimpin mahasiswa mengatakan bahwa istana menjalankan kekuasaan dan pengaruh yang tidak semestinya untuk monarki konstitusional. Mereka menuntut kerajaan lebih bertanggung jawab di bawah hukum.

Tuntutan untuk mereformasi monarki telah menghancurkan tabu dengan cara yang tampaknya tidak terpikirkan beberapa bulan yang lalu. Institusi kerajaan secara tradisional dilihat sebagai landasan bangsa dan yang kebal kritik.

Namun, pondasi lembaga itu terguncang oleh kematian ayah Vajiralongkorn, Raja Bhumibol pada 2016, setelah tujuh dekade naik takhta, membuatnya rentan terhadap kritik, meskipun ada undang-undang yang tegas melarang pencemaran nama baik monarki yang dapat membawa hukuman penjara hingga 15 tahun.

Protes dimulai pada Juli dan awalnya menuntut perubahan politik, termasuk pemilihan umum baru dan konstitusi yang lebih demokratis. Namun tuntutan paralel untuk reformasi monarki telah menjadi pusat perhatian.

Ribuan orang berbaris di Kedutaan Besar Jerman di Bangkok Senin lalu, memohon kepada pemerintah Angela Merkel untuk menyelidiki apakah raja Thailand telah menjalankan kekuasaan politik selama masa tinggalnya yang diperpanjang di Bavaria.

Pada Kamis pekan lalu, pengunjuk rasa meletakkan karpet merah di jalan kota besar dan menggelar peragaan busana satir, memparodikan sebuah acara yang diadakan pada saat yang sama oleh Putri Sirivannavari Nariratana, putri raja yang merupakan perancang busana.

Para pendukung kerajaan membalas aksi unjuk rasa tersebut dengan menggelar kerumunan serupa. Mereka mengecam para pengunjuk rasa karena mengangkat masalah tersebut, meningkatkan risiko konfrontasi atau intervensi kekerasan oleh tentara.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia