Menteri PPPA Ingatkan Pentingnya Mendidik dan Melindungi Anak
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menegaskan masa depan Indonesia ditentukan cara mendidik dan melindungi anak menuju Generasi Emas 2045.
Kemenkes menyiagakan antibisa ular di puskesmas rujukan wilayah Baduy untuk mengantisipasi risiko gigitan saat warga beraktivitas di ladang. /Antara.
Harianjogja.com, LEBAK—Kementerian Kesehatan menaruh perhatian khusus terhadap risiko gigitan ular di wilayah adat Baduy, Kabupaten Lebak, Banten, dengan menyiagakan antibisa di puskesmas rujukan yang memiliki tenaga kesehatan terlatih.
Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengatakan kesiapsiagaan antibisa ular menjadi penting mengingat sebagian besar masyarakat Baduy beraktivitas sebagai petani di ladang dan kawasan hutan yang rawan gigitan satwa berbisa.
Langkah tersebut merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga layanan kesehatan masyarakat adat, terutama pada kondisi darurat yang berpotensi mengancam keselamatan jiwa.
Menurut Kunta, antibisa ular atau antivenom tidak dapat diberikan secara sembarangan dan harus melalui prosedur medis yang ketat.
“Kalau antibisa kan tidak bisa sembarangan. Itu harus dicek dengan cukup. Antibisa sudah tersedia di puskesmas, tapi memang tidak banyak,” ujarnya di Jakarta, Kamis.
Apabila terjadi kasus gigitan ular, penanganan awal dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran racun sebelum pasien dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki antibisa.
Kunta mengakui jarak tempuh menuju puskesmas rujukan dari wilayah Baduy dapat mencapai sekitar satu setengah jam perjalanan. Meski demikian, Kemenkes memastikan koordinasi lintas layanan terus dilakukan agar penanganan dapat diberikan secepat mungkin.
“Minimal diikat dulu supaya tidak menyebar. Nanti puskesmas akan datang memberikan penanganan,” katanya.
Selain kesiapsiagaan antibisa, Kemenkes juga terus memperkuat layanan kesehatan dasar di wilayah Baduy melalui pemeriksaan kesehatan rutin dan edukasi kepada masyarakat.
“Yang paling penting mereka mau cek kesehatan. Dari situ kita bisa tahu betul apa masalahnya,” ujar Kunta.
Di sisi lain, masyarakat Baduy menilai ketersediaan antibisa ular masih menjadi kebutuhan penting. Narja, warga Desa Cihuni, Baduy Luar, mengatakan risiko gigitan ular cukup tinggi saat warga bekerja di ladang.
Menurut dia, antibisa tidak diminta tersedia dalam jumlah besar, melainkan sebagai langkah antisipasi dalam kondisi darurat.
“Bukan nyediain, tapi buat jaga antisipasi saja. Masalah obat bisa itu, Pak Kapus juga sering nangis, soalnya susah, nggak ada,” tuturnya.
Kesiapsiagaan antibisa ular di wilayah Baduy diharapkan dapat meminimalkan risiko fatal akibat gigitan ular, sekaligus memperkuat perlindungan kesehatan bagi masyarakat adat yang tinggal di wilayah terpencil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menegaskan masa depan Indonesia ditentukan cara mendidik dan melindungi anak menuju Generasi Emas 2045.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Sabtu 26 September 2026 tersedia 10 perjalanan. Cek jadwal dari Jogja dan Kutoarjo selengkapnya.
Jadwal KA Bandara YIA Sabtu 26 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA serta waktu tempuhnya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 26 September 2026 dari Palur menuju Jogja/Tugu tersedia mulai pukul 05.00 WIB. Simak jadwal lengkapnya.
Jadwal KRL Jogja-Solo Sabtu 26 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal setiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Subsidi BBM dan LPG 3 kg 2027 turun Rp11,4 triliun. DPR menyoroti data penerima subsidi dan tingginya exclusion error pemerintah.