Begini Cara Bio Farma Mencegah Pemalsuan Vaksin Covid-19

Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). Vaksin COVID-19 buatan Indonesia yang diberi nama vaksin Merah Putih tersebut ditargetkan selesai pada pertengahan tahun 2021. ANTARA FOTO - Dhemas Reviyanto
29 Oktober 2020 08:17 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Holding BUMN Farmasi, PT Bio Farma (Persero) melengkapi produk vaksin dengan dua dimensi (2D) data matriks berstandar GS1 untuk mencegah pemalsuan dan duplikasi vaksin Covid-19.

"Kami lakukan juga dengan dua dimensi data matriks yang akan ditempel sehingga bisa dideteksi, dan tidak akan mudah untuk dipalsukan," kata Kepala Divisi Unit Klinik dan Imunisasi Bio Farma Mahsun Muhammadi pada Rabu (28/10/2020), dikutip Antara.

BACA JUGA: Bulan Depan, Bio Farma Datangkan 15 Juta Dosis Bulk Vaksin Sinovac

Mahsun menuturkan pengemasan vaksin Covid-19 dilakukan sedemikian rupa sesuai standar untuk menjamin kualitas vaksin tetap baik sampai di lokasi pengiriman.

Setiap label vial vaksin yang didistribusikan pada awal 2021 sudah dilengkapi dengan 2D data matriks yang memuat kode serialisasi yang dibuat secara acak untuk menghindari duplikasi.

"Di box-nya kami siapkan dengan standar GS1, jadi ada kode seri tersendiri sehingga ini menghindari duplikasi agar bisa di-'tracking' (dilacak) semuanya," ujarnya.

Bio Farma juga sudah menyiapkan aplikasi Bio Tracking untuk pengecekan keaslian produk vaksin Bio Farma. Bio Tracking merupakan aplikasi portabel atau bisa digunakan pada telepon pintar yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk mengetahui keaslian dan informasi produk.

"Kami menyiapkan namanya Bio Tracking, posisi GPS, temperaturnya juga kita cek, ada sensor di pintunya, juga check point-nya, alur jalannya juga bisa kita deteksi, di konsumen akhir ini dengan handphone nanti bisa di deteksi dengan barcoding tertentu dengan dua dimensi data matrix," tuturnya.

Bio Farma akan mendistribusikan vaksin Covid-19 sampai ke dinas kesehatan provinsi dengan transportasi berpendingin.

Kemudian dari dinas kesehatan provinsi akan didistribusikan ke Dinas kesehatan kabupaten/kota lalu ke puskesmas hingga akhirnya ke tangan konsumen.

Sementara itu, distribusi vaksin Covid-19 ke swasta tidak akan melalui dinas kesehatan, tapi melalui distributor yang akan masuk ke rumah sakit atau klinik-klinik swasta

"Tapi swasta saya kira berikutnya setelah yang pemerintah ini semua 'clear', aman baru nanti kami bergerak ke swasta," ujarnya.

Sumber : Bisnis.com