Erick Thohir Ungkap Alasan Pemerintah Tak Lakukan Lockdown

Petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Klas 1 Soetta memeriksa suhu tubuh Menteri BUMN Erick Thohir saat melakukan peninjauan kesiapan Bandara dalam menghadapi COVID-19 di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (11/3/2020). - Antara Foto, Muhammad Iqbal
15 September 2020 17:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Menteri BUMN yang juga Ketua Pelaksana Satgas COVID-19 Erick Thohir mengungkapkan alasan pemerintah tidak mengambil kebijakan kuncitara atau lockdown dalam masa pandemi COVID-19, yakni bukan semata-mata mementingkan sektor ekonomi.

“Pemerintah tidak lockdown bukan suatu keputusan seakan-akan hanya memproteksi kepentingan ekonomi, saya rasa tidak,” kata Erick dalam paparannya pada Kick Off Webinar Series yang bertajuk Transportasi Sehat, Indonesia Maju di Jakarta, Selasa (15/9/2020).

BACA JUGA : Pemkot: Tak Ada Kampung yang Lockdown di Kota Jogja

Erick menjelaskan tidak ada satu negara pun yang memiliki formula dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini.

“Tidak ada negara yang punya formula dengan pemulihan ekonomi. Formula masing-masing negara sangat berbeda karena belum pernah terjadi seperti ini, kesehatan berdampak kepada dunia usaha dan moneter,” katanya.

Dibandingkan dengan negara G20 lainnya, seperti Amerika Serikat, Prancis dan Italia, Erick menilai Indonesia masih memiliki posisi yang sangat baik.

“Kalau kita lihat negara-negara G20 lainnya apakah India minus 23 persen, Inggris, Prancis Amerika Serikat, kita dalam posisi sangat baik. Dibandingkan Aisa Tenggara juga sama seperti itu jika dibandingkan Malaysia, Filipina Singapura, Thailand dan lainnya,” ujarnya.

Untuk itu, dia mengatakan tahun ini harus fokus terlebih dahulu ke sektor kesehatan dengan melaksanakan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. “Kalau melihat tren ini, maka ini timeline yang disepakati komite tidak bisa dibalik-balik. Testing, tracing, treatment sebuah keharusan,” katanya.

Ia berharap vaksinasi secara masif dan agresif bisa mulai dilakukan tahun depan yang beriringan dengan stimulus investasi yang juga akan bergerak.

“Kalau vaksin diharapkan dimulai awal tahun depan ya tentu bagaimana investasi stimulus ekonomi terus berjalan seiring tanpa melupakan bantuan produktif. Kita berharap nantinya sudah banyak riset menyatakan pertumbuhan ekonomi tahun depan kita lihat Indonesia bisa kembali positif. Tetapi kalau tumbuh benar-benar sebelum COVID baru kuartal I 2022,” katanya.

BACA JUGA : PB IDI: Pemberlakukan New Normal Lebih Efektif Ketimbang

Setelah Indonesia Sehat berhasil dicapai, lanjut Erick, maka langkah selanjutnya adalah Indonesia Tumbuh.

“Nomor 1 adalah prioritas Indonesia sehat. Kita enggak pernah bicara Indonesia tumbuh kalau Indonesia sehatnya tidak berjalan baik. Kita tidak bicara Indonesia bekerja kalau Indonesia tidak fokus kepada kesehatan. Karena itu prioritas rakyat aman dari COVID dan tentu reformasi layanan kesehatan jadi penting,” katanya.

Erick menilai pandemi COVID-19 menjadi kesempatan untuk mereformasi sistem kesehatan atau transformasi untuk ekonomi.

Sumber : Antara