Ini Kelompok yang Diprioritaskan Mendapat Vaksin Covid-19 di Indonesia

Relawan dan Tenaga Kesehatan melakukan simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat, Kamis (6/8/2020). - JIBI/Bisnis.com/Rachman
26 Agustus 2020 17:57 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Bio Farma masih mengembangkan vaksin Covid-19 bersama perusahaan asal China Sinovac. Ada beberapa kelompok yang diprioritaskan untuk mendapatkan vaksin pertama kali.

Kepala Lembaga Biologi Molekular Eijkman Amin Soebandrio mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo sudah meminta agar produksi vaksin ditambah kapasitasnya dari 150.000 menjadi 250.000. Harapannya, apabila vaksin yang sedang dalam uji klinis fase III saat ini berhasil, maka bisa dibuat juga oleh perusahaan lain.

“Ini sebagai upaya supaya produksi vaksinnya bisa dipercepat, jadi terbuka untuk nanti dikembangkan oleh perusahaan farmasi lain yang sudah memiliki unit uji kesehatan,” kata Amin, Rabu (26/8/2020).

Adapun, dengan vaksin yang tengah diuji, diperkirakan per orang perlu dua kali disuntik vaksin. Setidaknya harus ada 350.000 vaksin untuk memenuhi kebutuhan saat ini.

Amin menyebutkan, nanti ketika vaksin sudah berhasil diproduksi, ada beberapa kalangan yang akan diprioritaskan.

“Kami akan memprioritaskan frontliner di bidang kesehatan, keamanan, dan ketertiban. Baru populasi usia lanjut, usia di atas 60, termasuk dengan komorbid dan sebagainya,” ujar Amin.

Setelah itu, yang menjadi prioritas selanjutnya adalah orang yang pekerjaannya rentan terpapar, lalu orang yang memastikan bahwa fungsi sosial tetap berjalan seperti pemerintah.

“Termasuk pimpinan pemerintahan. Karena kalau pemerintahan sakit akan timbul masalah. Itu yang akan menjadi prioritas,” ujarnya.

Dari keempat itu siapa yang mau duluan? Amin menyatakan nanti akan dibahas lagi.

Menurutnya, meski nantinya vaksin sudah berhasil diproduksi dan diperbanyak, bukan berarti masalah sudah selesai. Pasalnya, distribusi vaksin dan penyuntikkannya akan menjadi kendala mengingat banyak wilayah-wilayah yang sulit dijangkau dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) yang ahli untuk melakukan penyuntikkan dengan baik dan benar.

“Misalnya kita bisa mobilisasi 1.000 orang entah itu petugas kesehatan atau mahasiswa, kita kerahkan 1.000 orang, berarti kalau ingin mencapai 1 juta dosis per hari. 1 orang harus menyuntik 1.000 orang. Apa nggak bengkak jempolnya tuh. Kalau 1.000 orang berarti semenit harus berapa orang?” imbuhnya.

Dia menambahkan, masalah vaksin ini tidak hanya masalah ketersediaan laboratorium dan industri, tapi juga masalah distribusi. Produsen dan pemerintah harus memastikan bisa mengantar vaksin hingga ke pelosok.

Delivery juga dan keseimbangan demand dan supply [vaksin] harus kita bicarakan,” ucapnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia