BPOM dan Kemenristek Tegaskan Belum Ada Obat yang Sembuhkan Covid-19

Ali Ghufron Mukti memperoleh suntikan vaksin flu di stan Biofarma, di sela-sela Semina Nasional Pekan Imunisasi Dunia. - Bisnis.com/yr
18 Agustus 2020 15:37 WIB Mutiara Nabila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 membuat repot warga di seluruh duia. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Kementerian Riset dan Teknologi merangkap sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi (Kemenristek/BRIN) menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada obat khusus untuk menyembuhkan Covid-19.

Anggota Komite Nasional Penilai Obat BPOM Anwar Santoso mengatakan bahwa BPOM harus menjamin semua obat yang beredar dan dikonsumsi masyarakat sudah layak dan mendapat izin edar. Adapun, menghadapi pandemi Covid-19 ini, belum ada obat yang khusus bisa menyembuhkan.

Baca juga: Muncul Klaster Pernikahan, Satu RT di Sukoharjo Diisolasi

“Untuk obat beberapa uji klinis sedang dilaksanakan, tapi sampai sekarang belum ada yang aman dan manjur untuk mengobati Covid-19,” tegasnya, Selasa (18/8/2020).

Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kemenristek/BRIN Ali Ghufron Mukti menambahkan bahwa dalam mengobati para pasien Covid-19, baik Kemenkes dan BPOM sudah memiliki standar, seperti menggunakan ibat-obat antivirus.

“Obat standar juga kita juga ada acuannya, baik dari Kemenkes dan juga dari BPOM, itu intinya menyangkut antivirus, imunomodulator, kemudian antibiotik juga sedang banyak kita uji. Secara umum seperti itu dan sekarang masih banyak yang dalam proses penelitian.

Baca juga: Ini Urutan Sebaran Kasus Corona di Dunia Berdasarkan Letak Benua

Namun, Ghufron menegaskan sampai sekarang belum ada yang bisa diklaim menjadi satu obat khusus Covid-19.

“Meskipun banyak yang klaim, tapi yang masuk dalam konsorsium belum ada satupun obat spesifik khusus untuk Covid-19,” jelasnya.

Kemenristek/BRIN baru-baru ini membentuk konsorsium riset dan inovasi untuk penanganan Covid-19 untuk menyelesaikan berbagai persoalan, baik pencegahan, vaksin, alat kesehatan, obat, dan terapi.

Saat ini, Ghufron menyebut saudah ada 61 inovasi baru hasil analisis dan penelitian yang sudah dilakukan dari para anggota konsorsium tersebut, di antaranya alat-alat rapid test dan PCR.

Sumber : Bisnis.com