Advertisement

Menteri Luhut Klaim Tak Ada Gelombang Kedua Corona, Ini Alasannya

Newswire
Kamis, 13 Agustus 2020 - 19:57 WIB
Bhekti Suryani
Menteri Luhut Klaim Tak Ada Gelombang Kedua Corona, Ini Alasannya Luhut Binsar Panjaitan - Antara/M. Agung Rajasa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA--Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meyakini tidak ada gelombang kedua (second wave) penyebaran COVID-19 di Indonesia.

Hal itu lantaran jika wabah COVID-19 pecah (outbreak) seharusnya terjadi pada momentum mudik Lebaran lalu atau saat dibukanya kembali sejumlah titik pariwisata. Namun, menurut Luhut, dalam momentum-momentum tersebut kasus COVID-19 masih terkendali.

Advertisement

BACA JUGA:  Simak! Ini Barang Paling Laris saat Ramadan-Lebaran versi Tokopedia

"Saya sebenarnya sangat takut waktu selesai Lebaran. Bagaimana pun suka tidak suka yang pulang kampung kan banyak, tapi Alhamdulillah terkendali. Kemudian, (reaktivasi wisata) Bali. Bali tidak terjadi apa-apa. Jadi saya sih optimis kita tidak ada second wave," katanya dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional Apindo secara daring, Kamis (13/8/2020).

Menurut Luhut, jika pun nantinya terjadi penyebaran wabah gelombang kedua, pemerintah telah memiliki rencana cadangan. Kapasitas penanganan seperti di Wisma Atlet, hingga obat-obatan dan peralatan medis yang mumpuni diklaim Luhut mampu untuk menghadapi gelombang kedua itu.

Belum lagi dengan semakin berkembangnya pengobatan herbal yang banyak dimanfaatkan masyarakat. Ia menyinggung soal minuman herbal Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang ampuh menyembuhkan sejumlah pasien COVID-19. Begitu pula minuman arak Bali yang menurut Gubernur Bali mampu menyembuhkan pasien di wilayah setempat.

"Yang seperti ini menjadi yang tidak dihitung oleh orang asing bahwa di Indonesia banyak hal-hal yang aneh. Bahkan disebutkan kita membohongi. Tapi kearifan lokal kan suka-suka dia," katanya.

Ia menambahkan penanganan COVID-19 di Indonesia tidak bisa disamakan dengan penanganan di Singapura. Apalagi, karakteristik Singapura dengan Indonesia sangat berbeda jauh mulai dari jumlah populasi hingga kondisi daerah kumuh (slum area) di negara tersebut.

"Memang kalau orang normal seperti membandingkan Singapura, enggak adil juga. Dia cuma 7 juta penduduk dan tidak punya slum area. Kita kan ada slum area, tapi Alhamdulillah juga, slum area kita tidak ada outbreak yang sampai tidak terkendali," ujar Luhut Pandjaitan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

alt

Kejar Target PAD, BKAD Kulonprogo Gerilya Tagih Piutang ke Wajib Pajak

Kulonprogo
| Selasa, 30 Mei 2023, 17:37 WIB

Advertisement

alt

Ada Tenda Terapung untuk Pengalaman Berkemah yang Berbeda, Mau Coba?

Wisata
| Senin, 29 Mei 2023, 15:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement