Kekayaan Charlie Kirk, Tewas Ditembak di Utah Valley University
Charlie Kirk, aktivis konservatif dan pendukung Presiden AS Trump, seorang yang vokal dan pendiri Turning Point USA, ditembak hingga tewas
Petugas medis mengambil sampel darah para pedagang dalam tes cepat atau Rapid Diagnostic Test (RDT) Covid-19 di Pasar Bantul, Bantul, Rabu (24/06/2020)./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JAKARTA – Di tengah pandemi Covid-19, salah satu cara untuk mengetahui apakah terinfeksi virus Corona adalah dengan melakukan tes cepat atau rapid test.
Dokter Spesialis Patologi Klinik dari Rumah Sakit Cicendo Bandung, Shinta Stri Ayuda mengatakan bahwa rapid test hanya untuk mendeteksi imun tubuh dan antibodi yang bereaksi apabila terkena virus.
Rapid test bisa menjadi pilihan di tengah pandemi Covid-19, karena bisa dilakukan di mana saja, dengan cepat, dan mudah.
“Pemeriksaan ini paling lama 10-15 menit, bisa mendeteksi berbagai virus atau antigen lain, tidak hanya Covid-19,” ungkapnya, Senin (27/7/2020).
Shinta mengungkap, pada masa pandemi, ketika Virus Corona menyebar di mana-mana, tes cepat cukup mudah dan praktis, terutama untuk di daerah terpencil atau daerah sulit.
Untuk keakuratannya, Shinta menjelaskan bahwa rapid test merupakan metode deteksi antibodi, sedangkan antibodi baru muncul bila tubuh sudah terpapar oleh virus dengan jangka waktu rata-rata 7-14 hari.
“Kalau sudah terpapar tubuh kita akan memunculkan antibodi. Jadi rapid test memang bukan buat diagnosi, tapi untuk screening, kalau untuk diagnosa harus diperiksa RNA virusnya, misalnya lewat swab PCR, tapi rapid test ini bisa membantu diagnosis,” jelasnya.
Setiap alat rapid test mempunyai garis kontrol, kalau garis tersebut tidak timbul berarti ada gangguan di alatnya atau ada kontaminasi pada sampel darah.
“Jadi ketika tes sel darah tidak boleh pecah, darah juga tidaka boleh terganggu oleh adanya lemak darah tinggi, jadi kalau kolestrol atau trigliserid darah tinggi ini juga akan berpengaruh. Rapid test mudah, tapi penghalangnya ini juga harus kita singkirkan,” ungkapnya.
Oleh karena itu, rapid test disarankan dilakukan pada orang yang sehat atau tidak punya penyakit penyerta.
Sementara, orang dengan penyakit penyerta atau komorbid atau orang lanjut usia disarankan memeriksakan diri menggunakan tes PCR.
“Karena kalau rapid tes, kita bisa saja memproduksi antibodi yang mirip ketika hanya kena influenza biasa atau untuk Covid-19. Jadi, di sini bisa ada reaksi silang dengan virus lainnya. Maka ketika reaktif belum tentu positif Covid-19, atau kalau nonreaktif belum tentu negatif Covid-19,” tambahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Charlie Kirk, aktivis konservatif dan pendukung Presiden AS Trump, seorang yang vokal dan pendiri Turning Point USA, ditembak hingga tewas
Tahura Bunder Gunungkidul menjadi alternatif wisata saat libur panjang. Hutan pinus, Sungai Oya, dan penangkaran rusa menarik wisatawan keluarga
KPK menargetkan pelimpahan kasus dugaan korupsi kuota haji yang menjerat Yaqut Cholil Qoumas dilakukan setelah penyelenggaraan haji 2026 selesai.
Jepang menerapkan AI pencegah bunuh diri di stasiun dan gedung. Teknologi ini disebut telah membantu menyelamatkan dua orang.
Harga patokan ekspor emas turun 1,43 persen pada awal Juni 2026. Kemendag menyebut pergeseran investasi dan aksi profit-taking menjadi penyebabnya.
Prabowo Subianto siap menghadapi korupsi, penyelundupan, dan ekonomi ilegal demi transformasi ekonomi nasional serta memperkuat NKRI.