Mendunia, Ini Deretan Kereta Buatan Indonesia

Kereta pesanan Filipina buatan PT INKA. - PT INKA.
28 Juni 2020 10:57 WIB Danang Nur Ihsan News Share :

Harianjogja.com, SOLO -- Indonesia bukan pemain kemarin sore dalam persaingan pasar ekspor kereta api. Kereta buatan Indonesia sudah banyak yang mendunia. Sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, beberapa waktu lalu, ekspor kereta Indonesia pada 2016 mencapai US$65,98 juta atau setara Rp924 miliar dengan kurs Rp14.000/dolar Amerika Serikat.

Jumlah tersebut setara dengan 4,3% pasar ekspor kereta dunia serta mengalahkan nilai ekspor kereta Belanda sebesar US$63 juta maupun Norwegia US$48,8 juta.

PT INKA menjadi andalan Indonesia untuk menjadi pemain kelas dunia dalam persaingan pembuatan kereta api. Hal itu tergambar saat  rangkaian kereta buatan Indonesia tiba di South Harbour, Manila, Filipina, 11 Desember 2019.

BACA JUGA : Tinggal Tersisa Dua Kereta Jarak Jauh Relasi Jogja

Ada dua rangkaian kereta diesel multi unit (DMU) buatan PT INKA yang tiba di Filipina sesuai pesanan Philippine National Railways (PNR), sebuah perusahaan kereta api di Filipina.

Transportation Secretary Filipina Arthur Tugade mengatakan pembelian kereta api buatan PT INKA merupakan buah dari kerja sama antara Filipina dan Indonesia. Nilai kontrak dua DMU tersebut 485 juta peso atau Rp 134 miliar.

"Sekarang sudah 36 rute beroperasi. Ini merupakan kinerja yang cukup signifikan. Kami mengapresiasi dukungan dari PT INKA," kata Tugade dalam acara kedatangan rangkaian kereta di South Harbor, Manila, Rabu (11/12/2019), sebagaimana dikutip dari laman PT INKA.

Dia mengatakan dua rangkaian kereta buatan Indonesia itu langsung beroperasi pada 16 Desember 2019. DMU untuk Filipina ini memiliki spesifikasi satu rangkaian terdiri atas tiga kereta.

BACA JUGA : KA Buatan PT Inka Lebih Murah Ketimbang Produk China 

Kereta ini memiliki kursi yang saling berhadap-hadapan untuk menunjang kapasitas angkut penumpang untuk rute dalam kota. Kereta akan melayani rute Stasiun Tutuban ke Stasiun Alabang.

General Manager PNR Junn Magno mengatakan dua rangkaian kereta ini akan mengangkut penumpang dari Malabon ke Stasiun FTI di Taguig. "Ada empat rangkaian kereta lain buatan PT INKA yang ditargetkan bisa segera tiba di Filipina," kata dia.

Selain dua rangkaian DMU, PT INKA juga sedang memproduksi 4 rangkaian DMU pesanan PNR dengan nilai kontrak 1 miliar peso atau Rp296 miliar. Ada juga pesanan tiga lokomotif dan 15 kereta penumpang dengan nilai kontrak 1,3 miliar peso atau Rp362 miliar.

Keseluruhan nilai kontrak yang diraih PT INKA untuk pengadaan kereta PNR ini adalah Rp792 miliar. Sebelum Filipina, Bangladesh sudah lebih dahulu merasakan kereta buatan Indonesia.

Bahkan, kereta buatan PT INKA menjadi primadona bagi warga Bangladesh. Selain kuat, kereta berbadan lebar itu disenangi warga Bangladesh karena lebih nyaman di banding kereta lainnya.

Bangladesh memesan 250 kereta buatan Indonesia yang diproduksi PT INKA. Sampai Oktober 2019, 116 kereta sudah dikirim ke negara itu. Kontrak pengadaan 250 kereta penumpang untuk Bangladesh Railway merupakan hasil tender pada 2017.

Nilai kontraknya  sebesar US$100,89 juta atau sekitar Rp1,4 triliun. Ada dua tipe, kereta buatan Indonesia pesanan Bangladesh yaitu tipe BG dan MG.

Perbedaan kereta tipe BG dan tipe MG terletak pada lebar track (rel) yang digunakan. Untuk kereta tipe BG digunakan pada track dengan lebar 1.676 milimeter. Sedangkan kereta tipe MG digunakan pada track dengan lebar 1.000 milimeter.

Direktur Utama PT INKA Budi Noviantoro menyatakan ekspor ke Bangladesh ini merupakan rangkaian dari usaha PT INKA untuk meningkatkan pasar ekspornya ke luar negeri.

Sebelumnya INKA juga pernah memenuhi pesanan kereta ke luar negeri lainnya, seperti Malaysia, Thailand, Filipina, dan Australia. "Mudah-mudahan akhir tahun ini kita bisa kontrak untuk ekspor kereta ke Sri Lanka," ujar Budi di laman PT INKA.

Sejumlah negara Afrika seperti Senegal sampai Zimbabwe punya minat terhadap kereta buatan Indonesia. Untuk menggenjot kereta buatan Indonesia, pemerintah memberikan dukungan perluasan pabrik INKA di Banyuwangi, Jawa Timur. Total nilai investasinya sekitar Rp1,63 triliun.

Pabrik kereta baru di Banyuwangi itu didorong untuk mencetak kereta hingga 1.000 unit per tahun. Peluang besar yang disasar kereta buatan Indonesia adalah masuk pasar Asia Selatan dan Afrika.

Tidak hanya kereta buatan Indonesia yang banyak diminati di pasar dunia, komponen kereta juga mengalami lonjakan ekspor. Sebagian besar komponen kereta buatan Indonesia diproduksi PT Barata Indonesia (Persero).

Nilai ekspor Barata tahun ini berhasil menembus angka US$31 juta dari sebelumnya US$16 juta. Ekspor tersebut diperoleh dari dua divisi Barata Indonesia.

Ada Divisi Industri Komponen dan Permesinan melalui produk foundry (pengecoran) yaitu komponen kereta api, serta Divisi Pembangkit yang melakukan ekspor komponen pembangkit listrik untuk kereta api.

Beberapa komponen kereta api yang sudah dapat diproduksi di dalam negeri, di antaranya, bogie atau sistem kesatuan roda pada kereta api hingga sistem pengkabelan (wiring).

Pada tahun sebelumnya Divisi Foundry Barata Indonesia melakukan ekspor ke negara–negara Amerika Utara, seperti Amerika Serikat, Meksiko, dan juga Kanada. Sementara itu, Divisi Pembangkit lebih variatif karena melakukan ekspor ke berbagai negara di dunia.

”Komitmen ekspor tersebut akan tetap kami tingkatkan guna menguatkan posisi perusahaan di industri manufaktur nasional. Rencananya tahun 2020 kami menargetkan nilai ekspor sebesar 35 juta dolar,” ucap Direktur Utama Barata Indonesia Fajar Harry Sampurno.

Tahun depan Barata Indonesia akan menjadi pemimpin kluster industri manufaktur yang terdiri atas beberapa perusahaan BUMN yang bergerak di bidang manufaktur. Perusahaan tersebut terdiri atas PT Barata Indonesia (Persero), PT INKA (Persero), PT Boma Bisma Indra (Persero), PT IKI (Persero), PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero), serta PT Dok Dan Perkapalan Surabaya (Persero).

Kegiatan ekspor komponen kereta api ini bukan pertama kalinya dilakukan oleh Barata Indonesia. Sebelumnya mereka pernah ekspor ke Australia dan Malaysia. Selain fokus ke pasar ekspor, Barata Indonesia juga memasok komponen kereta api untuk kebutuhan domestik.

Lonjakan kereta buatan Indonesia yang diekspor dan berbagai komponen kereta itu diharapkan menjadi titik tolak kebangkitan industri manufaktur di Tanah Air.

Sumber : JIBI/Solopos