Begini Nasib Vaksin Covid-19 Buatan Indonesia

Para peneliti di dunia tengah berlomba untuk menciptakan vaksin Covid-19 yang efektif. - Euronews
16 Juni 2020 23:27 WIB Rezha Hadyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Uji coba vaksin Covid-19 kepada hewan yang dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengatakan saat ini pihaknya masih berada di tahapan pertama atau mengembangkan protein rekombinan sebagai sumber antigen virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

Sebagai catatan, protein rekombinan yang dikembangkan di Indonesia adalah protein yang bisa mewakili protein S atau spike dan protein N atau nukleokapsid dari virus SARS-CoV-2 yang bersirkulasi di Indonesia.

"Jika itu sudah selesai berikutnya akan lebih cepat. Jika protein rekombinannya sudah ditemukan mungkin akan butuh waktu satu bulan untuk menyiapkan hewan percobaannya. Jadi kira-kira sekitar September [2020] mungkin bisa uji coba," kata Amin ketika dihubungi Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Selasa (16/6/2020).

Untuk bisa mendapatkan protein rekombinan yang sesuai, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman memperbanyak pengurutan genom (whole genom sequencing) dari virus SARS-CoV-2 yang beredar di Indonesia.

Sejauh ini, lembaga yang bermarkas di Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo itu berhasil mengumpulkan tujuh hasil whole genom sequencing

Seluruh hasil pengurutan tersebut diserahkan kepada Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID).

GISAID merupakan pengelola bank data untuk hasil whole genom sequencing virus SARS-CoV-2 dari seluruh dunia.

Terkait kendala yang dihadapi, Amin menyebutkan pada dasarnya selama ini tidak menemukan kendala berarti. Tahapan pengembangan yang berlangsung sejak Maret 2020 berjalan sebagaimana mestinya.

Namun, Amin tak menampik jika pengembangan yang dilakukan pada beberapa kesempatan harus terhenti lantaran kehabisan pereaksi kimia atau reagen.

"Stoknya saat ini terbatas, karena belinya juga harus di luar negeri, karena semuanya membutuhkan itu untuk memeriksa atau mengembangkan vaksin. Di luar itu tidak ada kendala," ungkapnya.

Amin menambahkan saat ini pihaknya harus menunggu selama dua bulan untuk menerima reagen yang sudah dipesan.

"Padahal dalam waktu normal hanya dibutuhkan waktu kurang dari dua pekan," ujar Amin.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia