Kematian Pasien Covid-19 di Solo Didominasi Penyakit Penyerta

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
09 Juni 2020 15:37 WIB Adib Muttaqin Asfar News Share :

Harianjogja.com, SOLO -- Kasus-kasus kematian pasien positif Covid-19 di Solo rupanya diiringi penyakit penyerta (komorbid) atau riwayat merokok yang diduga ikut memperparah efek infeksi virus. Hal ini menjadi peringatan rentannya para perokok terpapar Covid-19 yang lebih parah.

Hal ini mengemuka dalam diskusi daring bertajuk Implementasi Kawasan Tanpa Rokok di Tengah Pandemi Covid-19, Jumat (5/6/2020) lalu. Kepala Dinas Kesehatan Kota Solo, Siti Wahyuningsih, mengungkapkan beberapa fakta terkait pasien Covid-19, terutama yang parah dan meninggal dunia.

Menurut Siti, dari empat kasus kematian pasien Covoid-19 di Solo, semuanya memiliki penyakit komorbid atau memiliki riwayat merokok. Hingga saat ini secara kumulatif terdapat 37 pasien Covid-19 di Solo yang terdiri atas 23 orang sembuh, 10 orang dirawat inap, dan empat meninggal dunia.

"Kasus PDP [pasien dalam pengawasan] dan positif yang meninggal, hampir semuanya karena penyakit penyerta. Kalau tidak jantung, hipertensi, diabetes. Yang sehat banyak yang sembuh. Dari empat [pasien] yang meninggal, ini semua punya penyakit komorbid dan riwayat merokok," kata Siti.

Siti memang tidak menyimpulkan bahwa kematian pasien Covid-19 di Solo disebabkan oleh riwayat merokok. Namun, kata Siti, fakta itu memperkuat peringatan medis bahwa perokok lebih rentan terkena Covid-19 dan mengalami komplikasi jika terinfeksi.

"Covid-19 menyerang paru-paru, rokok juga ke paru-paru. Jadi perokok itu rentan terhadap Covid-19. Dari berbagai literatur, perokok 2,25 kali lipat lebih berisiko terinfeksi daripada yang tidak merokok," kata Siti dalam paparannya.

Siti menjelaskan penyebab besarnya risiko orang yang memiliki riwayat merokok terinfeksi dan risiko kematian pasien Covid-19 seperti di Solo. Pertama, kondisi paru-paru orang yang merokok dipastikan sudah tidak sesehat orang yang tidak merokok. Jika terpapar coronavirus, maka paru-paru perokok menjadi lebih rentan.

Faktor kedua adalah kebiasaan umum dari para perokok. Biasanya para perokok menggunakan jari tangan untuk memegang batang rokok dan menempatkannya di bibir. Keterlibatan tangan ini membuat perokok lebih sering menyentuh bibir atau mulut sehingga membuat mereka rentan terpapar virus.

Meski ada fakta riwayat merokok dalam kematian pasien Covid-19, Siti mengakui DKK Solo sulit untuk menyadarkan masyarakat khususnya perokok. Pada saat yang sama kasus-kasus baru masih bermunculan, apalagi saat ini masih ada 10 PDP yang dirawat di rumah sakit.

"Dari tangan ini berisiko terpapar virus. mungkin tangan kita nempel, kemudian ada jari mengenai bibir tidak? Ini menambah kontak ke dalam mulut hidung dan mata. Kondisi perokok sudah memiliki gangguan di paru-paru, tapi ada berapa racun dalam rokok. Ini harus disadari," tandas Ning.

Isu Menyesatkan

DKK Solo, kata dia, sebenarnya telah mengantisipasi dengan sosialisasi risiko merokok termasuk kematian pada pasien Covid-19. Itu telah dilakukan sejak kasus Covid-19 baru muncul di Wuhan, China, atau belum ada kasus positif di Indonesia. Namun pada 12 Maret lalu, kasus pertama muncul di Solo yang diketahui berasal dari klaster seminar Bogor dan akhirnya meninggal dunia.

Siti menyayangkan banyaknya isu yang menurutnya menyesatkan selama pandemi Covid-19. Misalnya ada isu rokok bisa mencegah atau menyembuhkan Covid-19 karena ada api. "Itu kata perokok. Jadi virusnya takut masuk. Kemudian ada yang sebut rokok elektrik aman. Siapa bilang?"

Dia menegaskan risiko tinggi bahkan kematian pasien Covid-19 akibat merokok tidak hanya terkait kasus di Solo. Perokok, kata dia, diperkirakan memiliki risiko 14 kali lebih tinggi mengalami pneumonia akibat Covid-19 dibandingkan non perokok. Selain itu, penyakit berat akibat merokok, seperti gangguan jantung, hipertensi, paru kronis, kanker, dan diabetes juga bisa menjadi lebih parah pada perokok.

Sumber : JIBI/Solopos