Ilmuwan Temukan Antibodi yang Bantu Cegah Covid-19

Virus Corona penyebab sindrom pernapasan MERS - bbc.co.uk
19 Mei 2020 20:57 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JOGJA – Ilmuwan menemukan antibodi dalam darah pasien Covid-19 yang telah pulih dan bekerja menghalangi patogen dari pengikatan pada reseptor ACE2.

Antibodi yang dikenal sebagai H4 dan B38 itu membantu mencegah virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi corona baru menempel pada sel yang tidak terinfeksi. Dengan penemuan ini, para peneliti mengklaim dapat menggunakannya untuk mengembangkan vaksin yang efektif.

Percobaan awal dari penemuan ini sebelumnya diuji pada tikus dengan jumlah virus di dalam paru-paru yang terinfeksi berkurang hingga sepertiga. Tikus uji coba itu mulai menderita kerusakan pada sistem pernapasan akibat virus.

Adapun, studi sebelumnya mencatat ACE2 bertindak sebagai pintu gerbang untuk masuknya virus corona baru. Bagian paku yang menonjol dari permukaan virus SARS-CoV-2 ke reseptor ACE2 memungkinkannya untuk menghancurkan sel dan mendatangkan malapetaka.

Para peneliti percaya bahwa antidodi yang ditemukan itu bisa menjadi pengobatan yang menjanjikan dan dapat membantu para ilmuwan mengembangkan vaksin yang efektif.

Sebagai informasi, ACE2 sendiri merupakan protein pada permukaan banyak tipe sel. Ini adalah enzim yang menghasilkan protein kecil dengan memotong angiotensinogen protein yang lebih besar dan berfungsi mengatur fungsi dalam sel.

Menggunakan protein seperti lonjakan di permukaan, virus SARS-CoV-2 berkaitan dengan ACE2 sebelum masuk dan infeksi sel, bertindak sebagai pintu seluler untuk virus tersebut menyebabkan penyakit Covid-19.

ACE2 hadir dalam banyak jenis sel dan jaringan termasuk paru-paru, jantung, pembuluh darah, ginjal, hati, dan saluran pencernaan. ACE2 juga hadir dalam sel epitel yang melapisi jaringan tertentu dan membantu menciptakan pelindung.

Pertukaran oksigen dan karbondioksida antara paru-paru dan pembuluh darah terjadi melintasi lapisan epitel di paru-paru. ACE2 juga ditemukan di epitel hidung, mulut, dan paru-paru.

Yan Wu, ilmuwan dari Capital Medical University di Beijing menyelidiki antibodi B38 dan H4. Mereka menemukan dua antibodi mengikat bagian yang berbeda dari reaksi virus, yang berarti mereka dapat bekerja sama untuk mencegah pengikatan dengan reseptor ACE2 yang rentan.

Para peneliti menulis dalam studi mereka dan menyebut bahwa antibodi B38 dan H4 menunjukkan kemampuan menetralkan yang sinergis, bahkan di hadapan konsentrasi virus yang lebih tinggi.

Antibodi ini dapat bekerja bersama karena mereka menargetkan epitop berbeda yang mengikat situs pada patogen penyerang dari lonjakan virus yang terjadi. Ketika epitor ditangkap oleh antobodi, menjadi tidak mungkin bagi virus untuk mengikat ACE2 karena antibodi itu menjadi penghalang.

Dalam teori uji laboratorium pada tikus, ditemukan bahwa tikus yang terinfeksi mengalami penurunan viral load. Analisis paru-paru mengungkapkan kelompok yang tidak dirawat menderita masalah pernapasan parah.

“Bronkopneumonia berat dan pneumonia interstitial dapat diamati pada tikus kelompok yang dikontrol, dengan edema dan deskuamasi sel epitel bronkial dan inflitrasi limfosit dalam ruang alveolar.

Pada intinya, penemuan para peneliti tentang bagaimana antibodi itu dapat mengikat dan mencegah virus menginfeksi menjadi salah satu kunci bagi pengembangan vaksin Covid-19 yang efektif dan aman untuk digunakan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia