Penelitian UI Ungkap Lumut Epifit Efektif Jadi Bioindikator Lingkungan
Penelitian doktoral UI mengungkap lumut epifit berpotensi menjadi bioindikator kualitas lingkungan di kawasan urban yang terdampak polusi udara.
Foto ilustrasi. / ANTARA FOTO-Ahmad Subaidi
Harianjogja.com, BERLIN--Ketua Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa meminta China berkontribusi secara signifikan melawan pandemi virus corona sekaligus mendesak adanya penyelidikan ilmiah independen mengenai asal mula pandemi tersebut.
Melalui sebuah kolom di edisi surat kabar Frankfurter Allgemeine Zeitung (FAZ) pada Jumat (15/5), Josep Borrell mengatakan China harus membantu melindungi dunia dari pandemi lebih jauh.
"Penyelidikan ilmiah independen tentang asal mula pandemi ini juga perlu," tulisnya.
Virus corona muncul di Kota Wuhan, China tengah pada Desember lalu dan sejumlah negara termasuk Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa mengkritik penanganan mereka soal wabah tersebut. China mengaku prosedur mereka terbuka dan terang-terangan.
Borrell juga menyebutkan China harus mengemban tanggungjawabnya yang sepadan dalam menangani pandemi, penelitian vaksin dan peningkatan ekonomi global. Termasuk memainkan perannya dalam upaya bantuan utang besar bagi negara-negara berkembang yang saat ini sedang sangat terpukul akibat pandemi corona.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Penelitian doktoral UI mengungkap lumut epifit berpotensi menjadi bioindikator kualitas lingkungan di kawasan urban yang terdampak polusi udara.
KPK menyambut positif pembentukan tim penyidik Kejagung untuk menangani kasus Febrie Adriansyah yang kini masih berstatus saksi.
KPPU telah memutus enam perkara persaingan usaha hingga Juni 2026 dengan total denda Rp767 miliar. Enam perkara lainnya masih diproses.
BKPM mengungkap lelang pengembangan sistem OSS senilai Rp26,46 miliar gagal karena tidak ada penyedia yang sanggup menyelesaikan proyek.
Polres Bantul menangkap dua pelaku pembobolan toko kelontong di Jambidan berbekal rekaman CCTV dan sidik jari. Kerugian korban mencapai Rp12,5 juta.
Dokter UI mengembangkan NAVI-HF berbasis AI untuk mendeteksi penumpukan cairan paru pada pasien gagal jantung dengan akurasi mencapai 86 persen.