PBB: Pandemi Covid-19 Diprediksi Memiskinkan 130 Juta Orang

Warga beraktivitas di permukiman semi permanen di Kampung Kerang Ijo, Muara Angke, Jakarta, Selasa (22/1/2019). - ANTARA/Aprillio Akbar
14 Mei 2020 13:57 WIB Renat Sofie Andriani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pandemi Covid-19 diprediksikan akan mendorong 130 juta orang jatuh ke dalam jurang kemiskinan. Menurut laporan United Nations World Economic Situation and Prospects yang dirilis Rabu (13/5/2020), pandemi virus mematikan ini kemungkinan akan menyebabkan kira-kira 34,3 juta orang jatuh di bawah garis kemiskinan ekstrem pada tahun 2020.

“Sebesar 56 persen dari peningkatan ini terjadi di negara-negara Afrika,” demikian menurut laporan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa/UN), seperti diberitakan Bloomberg.

Gambaran yang lebih buruk, PBB mengatakan 130 juta orang tambahan dapat bergabung dengan barisan orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem pada tahun 2030.

“Hal tersebut memberi pukulan besar terhadap upaya-upaya global untuk memberantas kemiskinan dan kelaparan ekstrem,” lanjutnya.

Selain itu, pandemi Covid-19 diproyeksikan akan menghapus empat tahun pertumbuhan dari ekonomi global atau hampir US$8,5 triliun dalam total output.

Produk domestik bruto (PDB) global pun diperkirakan susut 3,2 persen tahun ini. Proyeksi tersebut mengikuti laporan IMF World Economic Outlook pada bulan April, yang mengantisipasi penurunan 3 persen tahun ini.

Laporan yang sama namun memperkirakan pertumbuhan global akan rebound 3,4 persen pada 2021.

Menurut PBB, pandemi Covid-19 dapat mempercepat digitalisasi dan otomatisasi, yang berpotensi menghilangkan banyak pekerjaan eksisting. Upah bersih dan dampak ketenagakerjaan bisa negatif, sehingga memperburuk ketimpangan pendapatan.

“Pelajaran yang kami pelajari dari krisis terakhir adalah bahwa langkah-langkah stimulus fiskal dan moneter tidak serta merta meningkatkan investasi yang produktif,” ujar Hamid Rashid, penulis utama laporan tersebut.

Ia mengatakan pemerintah negara-negara di dunia harus melindungi pekerjaan dan mencegah peningkatan lebih lanjut dalam ketimpangan pendapatan.

“Pandemi ini akan secara tidak proporsional menekan mereka yang memiliki pekerjaan dengan keterampilan rendah dan upah kecil. Sementara itu, pekerjaan dengan keterampilan lebih tinggi tidak terlalu terpengaruh,” paparnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia