Sudah 9 Hari PSBB, Kasus Covid-19 di Jatim Tetap Tinggi

Ilustrasi. - Ist/Freepik
08 Mei 2020 03:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, SURABAYA- Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur menyebutkan bahwa tren kurva kasus penyebaran virus di wilayah pembatasan sosial berskala besar masih belum menunjukkan penurunan.

Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim Joni Wahyuhadi mengatakan bahwa kondisi tren kasus harian Covid-19 dari 3 daerah yakni Surabaya, Gresik dan Sidoarjo saat ini masih naik terus dan Surabaya grafiknya paling tinggi.

"Penambahan confirm Covid-19 masih naik terus. Surabaya paling tinggi," katanya dalam konferensi pers, Kamis (7/5/2020).

Dia mengungkapkan bahwa tren kurva pasien dalam pengawasan (PDP) di Surabaya memang menurun, tetapi jumlah orang dalam pemantauan (ODP) tetap naik sehingga ini perlu tindakan disiplin menjaga jarak fisik yang lebih ketat.

"Tren kematian juga menjadi sukses tidaknya PSBB. Tingkat kematian di Surabaya memang ekstrem, diikuti Sidoarjo dan Gresik meskipun ODP-nya turun. Ini jadi perhatian kita semua," katanya.

Joni menegaskan bahwa keberhasilan PSBB tidak bisa hanya tugas dari pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat yang seharusnya disiplin menjaga diri dengan menggunakan alat pelindung berupa masker, mencuci tangan, menjaga jarak atau tidak berkerumun.

"Dalam optimisme PSBB, kira-kira Juni bisa selesai kalau kita tertib dan disiplin, bahkan bisa lebih cepat," imbuhnya.

Dia menambahkan bahwa yang terjadi saat ini masih banyak warga beraktivitas di luar, bahkan tanpa mengenakan masker dan kerap berkerumum. Jika pun menggunakan masker biasanya saat ada petugas, tetapi jika sudah, dilepas lagi.

"Masyarakat perlu paham yang namanya orang tanpa gejala [OTG]. OTG di sini 25 persen. Dia memang tidak merasa sakit dan tetap jalan-jalan, ini berbahaya dan jadi perhatian karena dia membawa penularan," imbuhnya.

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menambahkan bahwa pelaksanaan PSBB Jatim pada hari kesembilan ini belum bisa dikatakan gagal karena setiap hari ada perbaikan-perbaikan dari Pemprov Jatim, maupun Pemkot Surabaya dan Pemkab Gresik dan Sidoarjo untuk memaksimalkan upaya menekan penyebaran.

"Kita harus melihat dua sisi, ada yang sudah berhasil dan ada yang belum. Berhasil bisa dilihat semua lini mulai TNI/Polri sampai bawah bergerak untuk menahan laju pergerakan orang," katanya.

Emil mengakui memang pada hari pertama pelaksanaan PSBB ada sumbatan yang signifikan yakni terjadi kerumunan kendaraan di check point Bundaran Waru atau pintu masuk Surabaya dari arah Sidoarjo. Namun, katanya, kondisi itu sudah membaik pada hari berikutnya, tingkat lalu lintas orang sudah bisa ditekan.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko menambahkan bahwa Polda Jatim telah melaksanakan penindakan selama masa PSBB. Dan sepanjang 9 hari PSBB itu tercatat ada 14.973 pelanggar yang ditindak, dan khusus per 7 Mei 2020 tercatat ada 272 penindakan, terutama di check point wilayah PSBB.

"Kami punya prediksi kurva kasus Covid-19 bisa menurun dengan catatan masyarakat disiplin physical distancing. Partispasi kesadaran masyarakat adalah paling utama dalam menghadapi pandemi ini," katanya.

Selain melaksanakan penindakan dalam PSBB, Polda Jatim juga telah meminta supaya kendaraan dari luar kota/provinsi untuk putar balik dalam rangka menjalankan larangan mudik.

"Dari delapan check point perbatasan Jatim dengan Jateng dan di Banyuwangi sejak Operasi Ketupat sudah ada 6.664 kendaraan yang diminta putar balik. Per hari ini, saya total ada 342 kendaraan, di antaranya 88 sepeda motor, 238 mobil, dan 16 kendaraan umum. Namun, jumlah hari ini telah menurun dibandingkan dengan sebelumnya," paparnya.

Sumber : Bisnis.com