Sejumlah Negara Longgarkan Lockdown, Bisa Jadi Referensi untuk Indonesia

Suasana penutupan Jalan Asia Afrika saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Bandung, Jawa Barat, Jumat (17/4/2020). - Antara/M. Agung Rajasa
06 Mei 2020 21:47 WIB Akbar Evandio News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Sejumlah negara mulai melonggarkan karantina wilayah (lockdown) di tengah upaya penanganan kasus Covid-19.

Amerika Serikat, Malaysia, Italia, India, dan Prancis, kini mulai rileks dan tak ingin terjerumus ke dalam krisis ekonomi. Malaysia dan Prancis berhasil menurunkan jumlah kasus baru virus corona sehingga pelonggaran lockdown jadi pilihan. Di sisi lain, pelonggaran lockdown dinilai menjadi solusi untuk menggenjot lagi perekonomian nasional

Sementara itu, Amerika Serikat dan India juga mulai melonggarkan kebijakan lockdown meskipun kasus baru positif corona masih terus bertambah. Dalihnya untuk mengurangi tekanan ekonomi dari kebijakan lockdown.

Sebelumnya Menko Polhukam Mahfud MD menyebutkan bahwa pemerintah tengah memikirkan relaksasi atau pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Langkah itu dilakukan sebagai tanggapan atas keluhan masyarakat yang tidak dapat melakukan aktivitas dengan bebas, terutama ekonomi, saat pemberlakukan PSBB.

Ekonom dari Universitas Indonesia Berly Martawardaya mengatakan berbagai upaya dari negara lain dapat menjadi referensi untuk Indonesia dalam menangani pandemi dan melakukan pemulihan ekonomi. Namun, hanya ada beberapa negara yang bisa dijadikan acuan bagi RI.

“India yang terburu-buru dan minim persiapan dalam lockdown jangan dijadikan contoh. [Namun], Malaysia bisa jadi referensi. [Pemerintah] perlu pastikan masyarakat yang high risk sudah di tes. Jangan sampai penurunan kasus positif baru, justru karena tes yang kurang tepat sasaran dan kurang masal. Apalagi rasio tes per penduduk di Indonesia masih sangat rendah,” terangnya, Rabu (6/5/2020)

Berly pun menegaskan bahwa saat ini tidak ada pilihan untuk memprioritaskan salah satu aspek antara kesehatan dan ekonomi dalam menghadapi dampak Covid-19. Menurutnya, kesehatan dan ekonomi adalah poin yang tidak dapat dipisahkan.

False choice antara ekonomi atau kesehatan. Bukan pilihan.  Setelah sisi kesehatan pulih dari wabah Covid-19 maka, negara itu bisa beraktifitas ekonomi lagi. Kalau banyak yang sakit dan mati bagaimana ekonomi bisa bangkit,” jelasnya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum Bidang Industri dan Manufaktur Kamar Dagang dan Industri Johnny Darmawan pun melihat bahwa penetapan relaksasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berdampak baik bagi kegiatan perekonomian.

Namun, dia mengatakan bahwa penerapan relaksasi dapat dilakukan apabila indikasi pandemi covid-19 sudah mulai melandai. Menurutnya, bila masyarakat yang terpapar masih tergolong tinggi, ada baiknya pemerintah mempertimbangkan dengan matang untuk melaksanakan hal tersebut.

“Dampak ekonomi bagus bila ada relaksasi karena kita memulai lebih awal untuk pemulihan. [Dengan relaksasi] paling sedikit kita bisa menjaga domestik, sehingga mengurangi yang namanya mati suri, ekonomi akan berjalan dan perlahan akan membaik, tetapi perlu dilakukan setelah indikasi [Covid-19] sudah menurun dan melandai,” terangnya saat dihubungi Bisnis.

Menurutnya, relaksasi memang di perlukan karena memang ada beberapa perusahaan yang sebenarnya perlu kembali beroperasi, tetapi terkendala dengan adanya PSBB sehingga proses kinerja tidak berjalan mulus.

Dia melihat bahwa relaksasi merupakan jalan tengah yang diambil pemerintah ditengah dua kepentingan yang tengah dihadapi. Pertama, PSBB untuk mengetahui indikasi masyarakat yang terpapar covid-19 dan di lain pihak terdapat bisnis yang tetap harus berjalan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia