Spotify Diunduh 1 Miliar di Android
Aplikasi pemutar musik Spotify mencatat jumlah unduhan 1 miliar di platform Android berdasarkan statistik Google Play Store.
Ilustrasi vaksin virus corona/istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA–Pandemi Covid-19 tidak akan berakhir sampai mayoritas populasi manusia kebal terharap virus Corona. Akan tetapi, bagaimana virus akan menyebar dan perkiraan waktu gelombang pasang surutnya akan sampai kapan belum jelas.
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan belum lama ini, para peneliti dari Center for Infectious Disease Research and Policy (CIDRAP) menyusun tiga skenario tentang bagaimana kondisi wabah virus selama 18 hingga 24 bulan ke depan.
Proyeksi ini lebih berlaku pada negara-negara di belahan bumi utara yang beriklim sedang, kendati penulis penelitian juga menyatakan bahwa pola yang sama sangat mungkin terjadi di negara-negara dengan posisi berlawanan.
Dalam laporan itu, skenario terburuk dari ketiganya adalah gelombang infeksi kedua yang akan lebih besar dan terjadi pada musim gugur dan musim dingin. Para peneliti menyatakan hasil ini sangat mungkin terjadi dan memperingatkan negara untuk bersiap-siap.
“Virus ini tidak akan berhenti sampai menginfeksi 60 hingga 70 persen orang. Gagasan bahwa ini akan selesai dalam waktu singkat menentang mikrobiologi,” kata Michael Osterholm, Director CIDRAP seperti dikutip Business Insider, Rabu (6/5).
Berikut ini adalah tiga skenario yang dirilis berdasarkan analisis dari CIDRAP tentang gelombang pandemi Covid-19 di masa depan.
Skenario 1 : Gelombang infeksi yang lebih kecil
Dalam skenario ini, gelombang Covid-19 pertama yang saat ini sedang terjadi, akan diikuti oleh serangkaian gelombang kedua yang lebih kecil sepanjang musim panas dan seterusnya.
Gelombang-gelombang kecil ini akan membawa jumlah infeksi yang lebih rendah daripada yang dialami banyak negara. Akan tetapi, mereka akan bertahan selama rentang waktu yang cukup panjang, yakni sekitar 18 hingga 24 bulan ke depan.
Penulis penelitian mencatat bahwa wilayah geografis di mana gelombang kedua akan tumbuh tergantung pada langkah berbagai tempat dalam mengimplementasikan rangkaian kebijakan terkait penyebaran virus.
Skenario 2 : Gelombang infeksi kedua yang lebih besar
Ini adalah skenario terburuk yang bisa terjadi di masa depan dan salah satu yang kemungkinan besar terjadi, di mana gelombang pertama Covid-19 akan diikuti oleh gelombang kedua yang lebih besar pada musim gugur atau awal musim dingin.
.jpg)
Setelah itu, akan muncul gelombang lanjutan yang sifatnya lebih kecil pada 2021. Ini mencerminkan apa yang terjadi selama pandemi flu Spanyol dan dlu H1N1 pada 2009.
Gelombang kedua dengan puncak yang lebih tinggi akan memaksa sejumlah negara di dunia kembali menerapkan langkah ketat, termasuk lockdown, “Negara, wilayah, dan otoritas kesehatan harus merencakanan skenario terburuk,” tulis para peneliti.
Skenario 3 : Perlahan mengalami penurunan
.jpg)
Skenario terakhir menunjukkan bahwa gelombang pertama infeksi virus corona baru ini adalah yang terburuk dan terbesar yang pernah terjadi. Dalam beberapa bulan mendatang, pandemi Covid-19 akan melambat dari transimisi kasus yang sedang berlangsung.
Ini bukan pola yang terjadi pada masa pandemi influenza sebelumnya, tetapi peneliti menyebut masih ada kemungkinan pola ini terjadi pada pandemi Covid-19 saat ini.
Kemungkinan ini akan berarti bahwa negara-negara di seluruh dunia tidak perlu lagi melakukan langkah ketat untuk membatasi pergerakan warganya untuk menghambat penyebaran. Akan tetapi, diperlukan upaya pola hidup yang lebih sehat.
Tidak Ada yang Pasti
.jpg)
Laporan yang dibuat oleh Osterholm dan rekan-rekannya ini didasarkan pada pemeriksaan beberapa model yang memprediksi dampak virus corona di masa depan dan juga penelitian tentang bagaimana Covid-19 menyebar serta data-data dari kondisi pandemi masa lalu.
Wabah virus corona baru yang terjadi sekarang memiliki beberapa kesamaan penting dengan pandemi influenza Spanyol ada 1918. Kedua virus ini menyebar melalui tetesan yang dikeluarkan ketika orang batuk dan bersein, serta orang yang terinfeksi belum tentu menunjukkan adanya gejala.
Ini membuat model yang cukup solid terhadap pandemi dari keluarga flu untuk perbandingan, tetapi para peneliti dan ahli masih tidak yakin dengan kondisi pandemi ini. alasannya karena virus corona baru menyebar lebih mudah daripada flu.
“Tidak ada ‘bola kristal’ untuk memberi tahu kami apa yang akan terjadi di masa depan dan seperti apa ‘permainan akhir’ untuk mengendalikan pandemi ini nantinya,” tulis para peneliti laporan tersebut.
Mereka juga menyebut bahwa tiga skenario ini bisa berubah jika vaksin yang dikembangkan membuahkan hasil lebih cepat dari yang diharapkan. Akan tetapi, mereka mencatat bahwa vaksin masih membutuhkan waktu setidaknya tersedia pada 2021.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Aplikasi pemutar musik Spotify mencatat jumlah unduhan 1 miliar di platform Android berdasarkan statistik Google Play Store.
Disdag Kota Jogja menemukan Minyakita dijual Rp21.000 per liter di Pasar Giwangan sebelum pedagang mendapat pembinaan.
Oman dan Iran membahas kebebasan navigasi Selat Hormuz di tengah negosiasi Iran-AS dan potensi pelonggaran sanksi minyak.
Pasangan pengantin di Bekasi rugi Rp85,5 juta usai diduga menjadi korban penipuan wedding organizer yang kabur jelang resepsi pernikahan.
Selamat pagi pembaca setia Harianjogja.com. Semoga aktivitas Anda hari ini berjalan lancar dan penuh energi positif. Dari tlatah Ngayogyakarta Hadiningrat
Antrean penyeberangan saat libur Iduladha 2026 diprediksi naik hingga 20%, terutama di lintasan Merak–Bakauheni dan Ketapang–Gilimanuk.