WHO Minta Penelusuran Covid-19 secara Tradisional Tetap Dilakukan

Lambang World Health Organization (WHO) terpampang di pintu masuk kantor pusat badan kesehatan dunia itu di Jenewa, Swiss, Selasa (18/2/2020). - Bloomberg/Stefan Wermuth
05 Mei 2020 23:07 WIB Nindya Aldila News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - WHO menilai upaya tradisional dalam menelusuri (tracing) penyebaran Covid-19 tetap harus dilakukan meski semua negara berlomba-lomba menggunakan teknologi tinggi.

Hal itu disampaikan oleh Michael J. Ryan, Chief Executive Director Program Darurat Kesehatan WHO dalam media briefing pada Senin (4/5/2020) sore waktu Jenewa, Swiss.

Menurut Ryan, teknologi baru dapat melengkapi, bukan menggantikan. Upaya penelusuran kontak Covid-19 melalui pintu ke pintu tetap harus dilakukan.

"Alat IT tidak menggantikan tenaga kesehatan dasar masyarakat yang akan dibutuhkan untuk melacak, menguji, mengisolasi, dan karantina," kata Ryan seperti dikutip dari laman resmi WHO, Selasa (5/5/2020).

Meskipun negara-negara seperti Korea Selatan dan Singapura telah mendapatkan perhatian dunia setelah menciptakan alat yang memanfaatkan teknologi bluetooth atau geofencing. Negara-negara ini juga sudah melakukan teknik penelusuran klasik terlebih dahulu.

“Mereka menemukan kasus di tingkat masyarakat, melakukan pengawasan berbasis masyarakat, jelas Ryan.

Keberhasilan penelusuran Covid-19 tidak hanya sekedar menggunakan aplikasi ataupun data analitik, tetapi juga harus menghubungi langsung masyarakat, baik melalui telepon atau mengetuk pintu rumah warga guna mencari tahu siapa yang dapat terekspos virus ini.

Upaya teknologi rendah dapat menjadi kunci guna memastikan orang-orang yang berpotensi terpapar virus segera dilakukan pengujian dan isolasi.

"Dengan demikian, mereka yang berpotensi juga dapat segera mendapatkan informasi untuk melindungi dirinya dan keluarganya. Teknologi memang meningkatkan efisiensi tracing, tetapi tracing adalah proses manusiawi."

Menurutnya, alat baru seharusnya tidak dipandang sebagai pengganti dan tak mengganti tenaga kerja kesehatan yang perlu bekerja keluar dan menemukan lokasi kasus-kasus anyar.

Di samping itu, jelas dia, inovasi teknologi baru ini juga tengah menghadapi isu keamanan privasi yang dapat menjadi penghambat dalam proses tracing. Penggunaan alat pelacak harus memperhatikan masalah privasi dan digunakan semata-mata untuk membantu menekan penyebaran penyakit.

“Penelusuran kontak dan penemuan kasus [Covid-19] bukan tentang mengawasi ataupun mengganggu kehidupan orang lain. Ini tentang upaya mengidentifikasi mereka yang sedang sakit,” ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia