Kisah Para Korban Reynhard Sinaga

Reynhard Sinaga predator seks pemerkosa 190 pria di Inggris divonis hukuman seumur hidup oleh pengadilan Manchester, Senin (6/1/2020). - AFP/Suara.com
11 Januari 2020 23:57 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, MANCHESTER - Sebanyak 190 pria muda di Inggris menjadi korban pemerkosaan oleh WNI bernama Reynhard Sinaga. 

Ia dihukum seumur hidup dengan masa hukuman minimal 30 tahun berada di penjara oleh Pengadilan Manchester, Inggris pada Senin 6 Januari 2020.

Ia terbukti melakukan 159 kasus perkosaan dan serangan seksual terhadap 48 orang pria, selama rentang waktu dua setengah tahun dari 1 Januari 2015 sampai 2 Juni 2017. Di antara 159 kasus tersebut terdapat 136 kasus perkosaan, di mana sejumlah korban diperkosa berkali-kali.

Kepolisian dan kejaksaan menyebut kasus ini adalah penyelidikan perkosaan terbesar dalam sejarah Inggris, dan aparat menyerukan kepada korban-korban lain untuk melapor.

Sebanyak 48 korban pria muda yang kasusnya telah disidangkan, dalam empat tahap, mulai Juni 2018 sampai Desember 2019. 45 orang adalah heteroseksual dan tiga gay. Sebagian besar tinggal di Manchester.

Semua bukti rekaman video yang direkam Reynhard sendiri menunjukkan pria yang diperkosanya tak sadar. Namun pria kelahiran Jambi ini tetap menekankan bahwa "para pria itu berpura-pura tidur" sebagai bagian dari permainan "fantasi seks".

BBC yang menghadiri persidangan Reynhard Sinaga pada Desember 2019 melaporkan kesaksian salah satu korban Reynhard Sinaga. Korban yang dihadirkan saat itu adalah pria yang diperkosa Reynhard pada 2015.

Jaksa penuntut, mengajukan pertanyaan kepada korban, termasuk di mana korban bertemu dengan Reynhard dan mengapa sampai akhirnya ia bisa sampai terbangun di apartemen Reynhard.

Korban yang saat kejadian berusia 19 tahun tersebut mengatakan ia pergi minum-minum dengan rekan-rekan dan pacarnya pada Sabtu malam, 24 Januari 2015. Saat ditanya apakah dia dalam keadaan mabuk, pria itu mengatakan dalam kondisi cukup mabuk.

Ia bersama pacar dan teman-temannya berada di satu klab malam dan keluar dari klab karena bertengkar dengan sang pacar. "Saya ingat dia mengajak saya ke tempatnya," kata pria itu dan menambahkan Reynhard "tampak baik" sehingga ia bersedia diajak.

Ia ditawari satu gelas minuman keras dan mengatakan merasa mual dan tak ingat apa-apa lagi setelah itu.

Saat ditanya jaksa penuntut apa yang ia rasakan saat terbangun pada pukul 10.00 pagi keesokan harinya, pria itu mengatakan "sangat hangover (sakit kepala berat setelah mabuk)".

Bagaimana dengan kondisi pakaian, tanya jaksa, dan dijawab "celana dalam keadaan terbuka".

Sebelum menghadirkan korban, jaksa penuntut memutar vídeo perkosaan yang direkam oleh Reynhard sendiri dan dipertontonkan ke 12 juri melalui beberapa monitor TV di meja.

"Rekaman itu sangat menggambarkan tindakan kriminal Reynhard Sinaga, yang dilakukan berulang kali dan lagi terhadap semua korban yang ada dalam dakwaan," kata jaksa.

"Pria umur 19 tahun ini terlentang tak sadarkan diri di lantai apartemen terdakwa dan terdakwa menurunkan celana dan celana dalam sampai ke paha dan bajunya ditarik ke atas."

Saat ditanya jaksa penuntut apakah ia sempat berbicara dengan Reynhard pada keesokan paginya, korban mengatakan ia bertanya apa yang terjadi dan dijawab bahwa "Saya tidak sadar."

Sejumlah pertanyaan yang diajukan pengacara Reynhard, Richard Litter, antara lain, apakah korban memang mau diajak ke apartemen untuk bereksperimen berhubungan seksual sesama jenis.

Pertanyaan yang langsung dijawab "tidak" oleh korban.

Diperkosa lima kali

Saksi terakhir pada persidangan keempat yang dihadirkan pada Kamis 12 Desember 2019 adalah korban yang pada saat kejadian berumur 20 tahun.

Jaksa mengatakan sama seperti korban-korban perkosaan berantai lainnya, "korban terbangun di apartemen terdakwa, tak ingat apa pun, tidak memberikan persetujuan untuk difilmkan atau difoto dan tidak memberikan persetujuan untuk berhubungan seks dengan Reynhard Sinaga."

"Ia juga mengira terdakwa hanya membantunya, namun faktanya Reynhard Sinaga memperkosanya lima kali."

Pada malam kejadian, Kamis 27 April 2017, korban pria ini bersama sejumlah teman-temannya pergi ke klab malam, yang tak jauh dari tempat tinggal Reynhard.

Jaksa dan polisi menyatakan Reynhard menggunakan obat bius gammahidroksibutirat GHB yang dicampur ke minuman keras untuk membuat korbannya tidak sadar. Namun aparat tidak menemukan jejak obat bius di apartemen Reynhard.

Lisa Waters dari Pusat Bantuan Serangan Seksual, St Mary's Sexual Assault Referral Centre, mengatakan "sebagian pria sangat sulit untuk melakukan kegiatan sehari-hari."

Dampaknya bagi para korban antara lain ada yang menggunakan obat bius, tak bisa bekerja lagi, tak bisa melanjutkan studi di universitas dan ada yang merasa tak berguna lagi dalam keluarganya sehingga meninggalkan keluarganya.

Waters menambahkan, "Sebagian korban bahkan mencoba bunuh diri dan kami mencoba membantu mereka dan berusaha memastikan mereka merasa aman."

Sumber : Okezone