Kapal China Masuk Laut Natuna, Susi Pudjiastuti: Kalian Mau Investasi atau Mau Nyolong?

Susi Pudjiastuti - Antara/Sigid Kurniawan
05 Januari 2020 04:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA–Pencurian ikan di perairan Indonesia dinilai tidak bisa ditoleransi.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti masih bersuara garang soal pencurian ikan di perairan Tanah Air. Susi mengingatkan, penindakan atas kasus itu harus dibedakan dengan hubungan antarnegara.

Susi mengatakan, pencurian ikan merupakan kejahatan yang tidak dapat ditoleransi. Negara harus menindak tanpa ada perkecualian.

”Persahabatan antarnegara tidak boleh melindungi pelaku pencurian ikan dan penegakan hukum atas pelaku Ilegal Unreported Unregulated Fishing (IUUF). Tiongkok (China) tidak mungkin dan tidak boleh melindungi pelaku IUUF karena IUUF adalah crime/kejahatan lintas negara,” kata Susi melalui akun Twitter, Sabtu (4/1/2020).

Susi mengingatkan, menindak pelaku kejahatan berbeda dengan menjaga persahabatan atau iklim investasi. Negara, kata dia, tidak melarang siapa pun berinvestasi. Investasi berbeda dengan mencuri ikan.

Dalam cuitan yang lain, Susi juga mengunggah cuplikan video saat dirinya berbicara tentang penenggalaman kapal. Menurutnya, yang ditenggelamkan oleh KKP yakni kapal-kapal pencuri ikan.

”Kalian mau investasi atau mau nyolong? Kan begitu toh. Aneh kalau ada ekonom-ekonom atau pejabat-pejabat negara bilang, ‘gara-gara penenggalaman kapal, investor takut investasi di Indonesia’,” ucapnya.

Suara keras Susi dilontarkan di tengah ramainya isu pelanggaran kedaulatan China di Laut Natuna, Kepulauan Riau. Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Pangkogabwilhan I) Laksdya TNI Yudo Margono sebelumnya mengatakan, 30 kapal ikan asing terdeteksi melakukan kegiatan di Laut Natuna yang merupakan wilayah NKRI. Mereka dikawal kapal penjaga pantai (coast guard) China.

Merespons pelanggaran kedaulatan itu, Menteri Koordinator Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta tak perlu dibesar-besarkan. Indonesia, kata Luhut, tidak pernah mengakui klaim sepihak dari China.

”Kita enggak pernah tahu ada klaim itu. Kita enggak pernah mengakui itu. Sebenarnya sederhana kok, jadi enggak usah terlalu diributin,” kata Luhut di Kantor Kemenko Maritim dan Investasi, Jumat (3/1/2020).

Sumber : iNews.id