Bencana Makin Banyak Sepanjang 2019, tapi Jumlah Korban Kian Sedikit

Angin puting beliung - AccuWeather
18 Desember 2019 19:07 WIB Rayful Mudassir News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengumumkan jumlah bencana alam di Indonesia sepanjang 2019. Bencana di Indonesia semakin banyak, tetapijumlah korban jiwa turun tajam dibandingkan tahun lalu.

Menurut data BNPB, kejadian bencana mencapai 3.622 kali hingga 16 Desember 2019. Adapun kenaikan bencana memang cukup merata. Banjir, longsor dan puting beliung menjadi kejadian yang paling mendominasi bencana tahun ini.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Agus Wibowo menjelaskan bencana tersebut menyebabkan 475 orang meninggal dunia, 108 orang hilang, 3.408 orang luka-luka, 6 juta orang mengungsi dan 72.390 unit rumah rusak.

Dari total keseluruhan bencana, 99 persen diantaranya atau 3.586 kali adalah peristiwa bencana hidrometeorologi seperti banjir. Sedangkan sisanya atau 36 lainnya adalah bencana geologi.

“Meskipun bencana geologi hanya terjadi 36 kejadian, namun menyebabkan dampak bencana besar, khususnya gempa bumi,” katanya saat dihubungi, Rabu (18/12/2019).

Dia menerangkan, sedikitnya 29 kali terjadi gempa bumi merusak sepanjang tahun. Gempa tersebut menyebabkan 69 orang meninggal dunia, 1.905 orang luka-luka, 311.874 jiwa mengungsi dan 21.554 unit rumah rusak.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono menerangkan setidaknya ada 15 kali kejadian gempa merusak di Indonesia tahun ini.

15 gempa merusak tersebut terjadi di Solok Selatan bermagnitido 5,6, Banten magnitudo 6,9; Gunung Salak M 4,0; Sumenep M 5,0; Bali M 5,0; Sumbawa M 5,3; Lombok M 5,4; Banggai M 6,9; Maluku M 7,1; Maluku M 7,0; Labuha M 7,2; Ambon M 6,5; Banda M 7,4; Mamberamo M 6,1 dan Sarni dengan magnitudo 6,2.

“Tren gempa bumi terus meningkat sejak 2013. Di sisi lain, terjadinya gempa di wilayah sesar yang belum dipetakan juga menjadi tantangan,” sebutnya.

Sementara itu, dalam rincian BNPB bencana yang paling banyak terjadi adalah puting beliung sebanyak 1.282 kali disusul kasus kebakaran hutan dan lahan 744 kali. Adapun banjir terjadi 734 kali serta tanah longsor 685 kali.

Di samping itu, kekeringan juga sumpat terjadi tahun ini sebanyak 123 kali. Gelombang pasang atau abrasi juga tercatat 18 kali, gempa bumi 29 kali serta letusan gunung api sebanyak 7 kali.

Kendati jumlah bencana meningkat, akan tetapi korban jiwa jauh menurun dibandingkan dengan 2018. Setidaknya 4.461 orang meninggal dengan 3.397 bencana berlangsung selama tahun lalu. Sedangkan jumlah korban jiwa tahun ini 475 orang.

Kondisi ini disebabkan adanya gempa bumi di Nusa Tenggara Barat yang selama beberapa kali sejak akhir Juli sampai awal Agustus 2018. Jumlah korban jiwa bertambah setelah terjadi gempa, tsunami dan likuifaksi di Sulawesi Tengah pada 28 September 2018.

Secara persentase, jumlah korban meninggal tahun ini turun 88,1 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Begitupun dengan korban luka-luka turun hingga 51,8 persen, korban mengungsi dan terdampak turun 41,3 persen, dan jumlah rumah rusak turun 80,2 persen.

Kendati demikian, bencana merupakan kejadian yang tidak bisa ditebak. Sehingga baik volume maupun korban jiwa tidak dapat dipastikan sama sekali.

Namun sedikitnya 489 kabupaten/kota berada di daerah bahaya dalam kategori sedang - tinggi dengan jumlah penduduk berpotensi terpapar sebanyak 63,7 juta jiwa.

Sementara itu, 441 kabupaten/kota berada di daerah bahaya longsor. Di sisi lain Indonesia juga menjadi daerah rawan gempa bumi terlebih di jalur subduksi atau pertemuan lempeng maupun di jalur sesar.

Dengan ditemukannya 214 sumber gempa baru, maka teridentifikasi 295 sesam aktif. Seluruhnya tersebar di Jawa 37 titik, sulawesi 48, Papua 79, Nusa Tenggara dan Laut Banda 49 sesar aktif.

Ancaman juga dapat terjadi dari 127 gunung api aktif. Seluruhnya tersebar di 75 kabupaten kota. Dari jumlah itu, 3,5 juta penduduk terpapar bahaya sedang - tinggi dari erupsi gunung api.

Masyarakat diminta tetap mengenali ancaman bencana di sekitarnya. Dengan begitu, akan mempermudah penanggulangan bencana untuk mengurangi risiko yang ada.

“Kenali ancamannya, kurangin risikonya dan siap untuk selamat,” terang Agus Wibowo.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia