Sistem Resi Gudang: Inovasi untuk Tingkatkan Ekonomi Petani

Gudang di Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. - JIBI/Bisnis Indonesia/Dika Irawan
13 Desember 2019 17:17 WIB Dika Irawan News Share :

Harianjogja.com, WONOGIRIGudang di Kelurahan Kaliancar, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah menjadi contoh bagaimana seharusnya sistem resi gudang (SRG) dikelola. Gudang itu tidak hanya menyimpan hasil pertanian masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat balik kepada mereka. Berikut laporan wartawan Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Dika Irawan.

Gedung berkapasitas 1.500 ton itu dikelola badan usaha milik petani (BUMP) PT Pengayom Tani Sejagad, yang terdaftar sebagai pengelola gudang SRG di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).

Pada tahun lalu hingga kini, tercatat telah diterbitkan sebanyak 48 resi gudang untuk komoditas gabah, beras, dan jagung untuk gudang itu, dengan total volume 2.208,71 ton atau senilai Rp21,26 miliar, serta mendapatkan pembiayaan dari Bank Jateng Rp14,86 miliar.
Saat ini, di dalam gudang SRG tersebut masih terdapat lima resi gudang aktif dengan total volume 762,55 ton beras senilai Rp7,24 miliar dan mendapatkan pembiayaan dari Bank Jateng sebesar Rp5,06 miliar.

Kepala Bappebti Tjahya Widayanti mengatakan salah satu gudang SRG yang secara nyata telah berhasil melakukan ekspor komoditas beras keluar negeri adalah gudang SRG Wonogiri. Pada 2019, gudang SRG yang dikelola oleh BUMP ini ini berhasil mengekspor beras organik ke empat negara, yaitu AS, Prancis, Singapura, dan Malaysia. Total nilai ekspornya Rp1,98 miliar dengan rata-rata ekspor 20 ton per bulan. “Pada 2020, kami berharap nilai ekspor akan meningkat menjadi 50 ton—60 ton per bulan,” ujarnya dalam kunjungan kerja di Wonogiri, Jawa Tengah.

Direktur Utama PT Pengayom Tani Sejagad Anjar Lukito Jati mengatakan pihaknya menyerap gabah atau beras dari kelompok tani. Namun tidak hanya sekadar membeli, pengelola gudang juga memberikan insentif atau cashback 2% kepada para petani. Insentif tersebut diambil dari hasil penjualan ke luar negeri.

Sebagai pengelola gudang, Anjar mengatakan, cashback tak diberikan ke individu tetapi kelompok tani. Kemudian, agar uang tersebut tak menguap begitu saja, mereka dibekali pelatihan manajemen untuk mengembangkan usaha pertanian.

Untuk menembus pasar ekspor, Anjar mengatakan komoditas yang dijual adalah beras organik. Menurutnya, kebetulan para petani di sini telah lama menanam padi jenis tersebut. Kemudian, pihaknya mencari para pembeli dari beberapa negara yang tertarik dengan beras itu. Supaya bisa diterima di pasar internasional, beras-beras tersebut pun disertifikasi lebih dahulu oleh sejumlah lembaga internasional. “Makanya kami bisa ekspor ke Eropa dan Amerika,” ujarnya.

Dia menambahkan, banyak gudang SRG di berbagai daerah tak berjalan karena para pengelola tak menyiapkan para pembeli komoditasnya. Selain itu, sambungnya, perlu dukungan dari pemerintah daerah agar gudang SRG dapat berjalan dengan optimal.

Toto Hadi, petani dari Desa Jaten, Kecamatan Selogiri menyambut baik program SRG tersebut, karena membantu para petani dalam mendapatkan pembiayaan. Namun, dia memberi masukan agar pengelola gudang juga menyiapkan transportasi untuk pengambilan hasil pertanian dari langsung ladang, sehingga mengurangi beban pengeluaran.

Sebab jika tidak, petani akan lebih memilih menjual langsung ke tengkulak yang siap mengangkut langsung dari lahan pertanian. Kementerian Perdagangan telah bekerja sama dengan pemda membangun 123 gudang SRG secara bertahap, mulai 2009 hingga 2018. Gudang-Gudang SRG itu tersebar di 106 kabupaten/kota pada 25 provinsi.

Gudang-gudang SRG yang dibangun tersebut kemudian diserahkan penguasaannya kepada pemda setempat. Ke depannya kemudian akan dikelola oleh pengelola gudang yang ditunjuk oleh pemda untuk pelaksanaan SRG. Pelaksanaan SRG sudah dilakukan, baik di gudang yang telah dibangun Pemerintah maupun milik swasta. Tercatat, Bappebti telah mengeluarkan persetujuan terhadap gudang SRG, 94 gudang pemerintah dan 72 milik swasta/BUMN yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.

Mendag Agus Suparmanto mengatakan, beberapa daerah sudah memperlihatkan peran SRG sebagai instrumen pendukung dalam rangka penyediaan pangan berkualitas bagi masyarakat dan kegiatan ekspor komoditas berdaya saing.

Mendag pun mengajak berbagai pihak, baik pelaku usaha, pengelola gudang, lembaga penguji mutu, pihak perbankan, maupun pemda untuk bersinergi mendorong optimalisasi pemanfaatan gudang.

Komitmen Daerah

Tjahya Widayanti mengakui tak mudah menciptakan gudang-gudang SRG seperti di Wonogori, karena diperlukan komitmen dari pemerintah daerah. Namun, pihaknya akan bergerak untuk mengembangkan SRG di daerah lain.

Untuk 100 hari ke depan, Tjahya telah mengantongi 10 SRG yang akan diaktifkan. Kesepuluh SRG itu berada di Ciamis, Kuningan, Lebak, Demak, Purworejo, Probolinggo, Bolaang Mongondow, Wakatobi, Dompu, dan Sumenep. Menurutnya 10 SRG itu dipilih karena selama ini belum aktif. “Sudah ada gudangnya tetapi tak jalan,” ujarnya.

Sejauh ini, pihaknya telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan kementerian untuk menghidupkan gudang SRG. Dalam tahap awal, Bappebti akan menyiapkan tiga lembaga pendukung SRG, yaitu pengelola gudang, lembaga kesesuaian penilaian, dan lembaga pembiayaan. “Insyaallah [tahun depan sudah hidup 10 SRG itu],” ujarnya.