Begini Kisah Menteri Rini soal Sinergi BUMN di Masa Lalu

Menteri BUMN Rini Soemarno dan Dirut ASDP Ira Puspadewi di selasar hotel Innaya Bay, Labuan Bajo, Senin (9/9/2019). Hotel Innaya Bay dijadwalkan soft opening 1 Oktober, menjadi salah satu sentral kawasan wisata terpadu Labuan Bajo. - Bisnis
05 Oktober 2019 01:57 WIB Saeno News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Menteri BUMN Rini M. Soemarno bercerita tentang kisah masa lalu tentang sinergi antar badan usaha milik negara.

"Dulu ada cerita salah satu direktur BUMN kecil mau mengajukan kredit usaha ke PT BRI [Persero] Tbk harus menunggu lima jam di ruang tunggu dan itupun yang menemui hanya level GM saja," kata Rini. 

Rini pun mengaku memikirkan mengapa hal itu bisa terjadi. "Saya pikir, satu keluarga saja enggak mau nemuin. Padahal mereka punya orang tua yang sama yaitu Republik Indonesia," ujarnya, dikutip dari keterangan resmi, Jumat (10/4/2019).

Tapi, itu kisah lama. Di bawah Rini sebagai menteri BUMN, berbagai upaya dilakukan untuk mensinergikan badan usaha milik negara yang ada di Indonesia.

"Kita punya PT Pelni, saya menyewa satu kapal, semua direksi 143 BUMN saya masukkan di situ semua. Jadi saya rapat di situ dan saya satukan pemikiran mereka semua,” ujar Rini saat menjadi pembicara di IDEAFEST 2019 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Jumat (4/10/2019).

Rini mengatakan BUMN adalah agen pembangunan yang harus jadi motor penggerak perekonomian Tanah Air. Untuk itu, BUMN-BUMN yang besar maupun kecil harus bersinergi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan perekonomian dalam negeri.

Rini menegaskan sebelum dirinya menjadi Menteri BUMN, perusahaan pelat merah besar dan kecil memiliki gap yang dalam pengelolaannya. Padahal, seluruh BUMN merupakan keluarga dan harus bersinergi dalam mendorong pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Kini, selain bersinergi dengan BUMN lainnya, BUMN besar maupun kecil juga harus bekerja sama dengan investor swasta. Menurut Rini, kerja sama BUMN dan swasta akan menguatkan perekonomian Tanah Air. BUMN memiliki lima fungsi yaitu profit generator, pembangunan ekonomi, kemanfaatan umum, perintis kegiatan usaha, dan ekonomi kerakyatan.

Untuk ekonomi kerakyatan, Himpunan Bank-Bank Negara (Himbara) menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dalam meningkatkan permodalan untuk sektor UMKM.

Hingga akhir 2018 Himbara memiliki 4.3 juta nasabah debitur. Penyaluran KUR setiap tahun terus mengalami peningkatan. Bahkan di akhir 2018 nilai penyaluran KUR mencapai Rp113,9 triliun.

Selain itu, program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) yang diusung Kementerian BUMN telah memiliki 5,3 juta total nasabah dengan akumulasi penyaluran Rp 16,4 triliun mencakup 276 kabupaten. Program lainnya adalah BBM Satu Harga dan peningkatan jaringan internet melalui internet desa.

“Konektivitas telekomunikasi antara lain pembangunan 161.000 Km panjang fiber optic, 189.000 BTS, 79 desa mobile coverage. Saat ini, sudah ada 4.100 desa yang sudah tersambung dengan jaringan internet,” kata Rini.

Program lainnya yaitu Siswa Mengenal Nusantara. Program ini ditujukan untuk membangun wawasan sosial budaya, pendidikan, enterpreneurship, kebangsaan, serta pengenalan BUMN bagi para siswa. Per 2018, total 2.822 siswa menjadi peserta program SMN.

Untuk menghormati para pejuang kemerdekaan, BUMN juga melakukan bedah rumah veteran. Hingga akhir 2017, 4.215 rumah para veteran telah di renovasi dengan total bantuan danaRp71,3 miliar.

“Dulu pas saya berkunjung, saya prihatin karena rumah mereka tak layak huni. Akhirnya, kami semua sepakat menjelang HUT RI 17 Agustus seluruh BUMN membantu memperbaiki rumah para pejuang,” jelas Rini.

Penerimaan Negara

Rini menambahkan, kontribusi BUMN terhadap penerimaan negara melalui APBN pada 2018 hampir mencapai Rp466 triliun. Kontribusi ini naik hingga 54% dari periode 2017 yang mencapai Rp303 triliun.

Selain itu, BUMN sudah menguasai pasar ekspor yang tersebar di seluruh dunia dengan total ekspor pada 2018 mencapai UD 7.776 Juta.

Total aset BUMN menunjukkan tren yang selalu meningkat di tiap tahunnya, tumbuh dari Rp5.760 triliun pada 2015 menjadi Rp8.371 triliun pada semester I-2019.

Total laba seluruh BUMN pada akhir 2018 sebesar Rp210 triliun, naik dari posisi akhir 2015 sebesar Rp148 triliun.

Di luar itu, Rini menyebutkan Kementerian BUMN memprakarsai gerakan Spirit of Millennials agar anak-anak muda bisa membawa semangat dan energi kreativitas untuk BUMN. Saat ini, 60 persen pegawai BUMN diisi kaum milenial.

“Kami meminta mereka untuk fokus terhadap target yang dicapai dan percaya bahwa ketika niat dan tujuan kita baik maka yakini Tuhan Yang Maha Esa akan membantu dan melindungi kita,” ujar Rini.

Sumber : bisnis.com