Penderita Talasemia Dilatih Pemasaran Online

Kegiatan pelatihan pemasaran online bagi penderita talasemia, Rabu (21/8/2019). - Ist/Wom.
22 Agustus 2019 12:57 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Jumlah Penderita Talasemia di Indonesia terus bertambah. Biaya pengobatan pun tergolong tinggi karena harus transfusi darah setiap bulannya. Sebuah Perusahaan Pembiayaan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau dikenal dengan Wom Finance mengandeng para penderita talasemia sebagai marketing yang dilakukan secara online.

Sebanyak 250 penderita talasemia yang didominasi berasal dari Jawa Tengah dan DIY diberikan pelatihan Teknik Pemasaran Online di sebuah hotel kawasan Wisata Kaliurang, Sleman, Rabu (21/8/2019).

Direktur Wom Finance Zacharia Susantadiredja dalam rilisnya menjelaskan kegiatan itu juga sebagai komitmennya untuk literasi keuangan kepada masyarakat. Pengetahuan literasi keuangan kepada masyarakat dinilai sangat penting seiring meningkatnya pengetahuan masyarakat juga secara tidak langsung akan mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan. “Masyarakat diharapkan memiliki literasi keuangan yang baik, kebetulan kami menyasar komunitas talasemia ini,” katanya.

NDS MotorKu Division Head Wom Finance Rizky Ria Maulina menambahkan, pelatihan itu diberikan kepada penderita talasemia agar mereka bisa ikut memasarkan produk melalui digital tanpa harus menguasai barang. Proses pemasaran itu bisa dilakukan di mana saja secara online.

“Ini memang pertama kalinya kami menggandeng komunitas talasemia ini, dan antusias mereka sangat tinggi untuk menjadi marketing agency karena bisa dilakukan secara online, lewat website, medsos,” terangnya.

Adapun sistem komisi yang diberikan, marketing agency dari kalangan penderita talasemia tersebut akan mendapatkannya jika mereferensikan kepada setiap calon pengguna produk Wom Finance yang kemudian melakukan transaksi. Ia menegaskan mereka tidak dibebani target sehingga bisa melakukannya dengan santai.

“Untuk motor itu kisaran [komisinya] Rp350.000 per unit, kalau mobil mulai dari 1 persen sampai 4 persen per unit dari nilai pinjaman konsumen. Misalnya konsumen [pembeli mobil] pinjam Rp100 juta ya nanti komisinya Rp4,5 juta,” ujarnya.

Ketua Yayasan Thallasaemia Indonesia (YTI) Ruswandi mengungkapkan, penyintas yang diberikan pelatihan marketing sebanyak 250 orang berasal dari Jogja, Solo, Purbalingga, Semarang, Banyumas, Klatendan Wonosobo. Kegiatan itu dikemas dalam bentuk camp yang melibatkan banyak penyintas talasemia dari berbagai daerah untuk bisa saling bertukar pengalaman.

“Kami berterima kasih kepada Wom Finance yang memberikan edukasi literasi keuangan dan pelatihan pemasaran online, ini sangat bermanfaat bagi komunitas kami untuk dimanfaatkan di kehidupan masing-masing peserta,” ujarnya.

Ruswandi mengatakan, secara nasional penderita talasemia di Indonesia terus meningkat, bahkan peningkatan itu mencapai 8% hingga 10% setiap tahunnya. Perhatian pemerintah terhadap talasemia belum maksimal, padahal setiap penderita butuh biaya pengobatan yang lumayan tinggi. Ia mengakui mereka butuh pekerjaan sampingan untuk bisa menopang kebutuhan hidup.

“Sebulan harus transfusi darah sekali dan sebagian besar mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu, sehingga berbagai bentuk perhatian ini sangat di butuhkan,” ucapnya.