Kisah Kamar Tempat Persinggahan Bung Karno di Kongres V PDIP

Kamar Suci Bung Karno yang menjadi lokasi tertutup di lokasi Kongres Nasional V PDIP di Hotel Grand Inna Beach, Bali, Sabtu (10/8/2019) - Bisnis/Lalu Rahadian
10 Agustus 2019 13:17 WIB Lalu Rahadian News Share :

Harianjogja.com, DENPASAR - Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam sambutan pembukaan Kongres Nasional V PDIP sempat menyebutkan bahwa Presiden pertama RI Soekarno 'hadir' dalam acara tersebut.

Dia kemudian menanyakan kepada audiens percaya atau tidak bahwa Bung Karno 'hadir'. Megawati tidak menjelaskan lebih lanjut tentang 'kehadiran' Soekarno itu.

Terlepas dari 'kehadiran' Bung Karno dalam pembukaan Kongres Nasional V PDIP itu, Hotel Grand Inna Bali Beach yang menjadi lokasi acara memiliki kedekatan dengan Soekarno.

Hotel telah berusia 53 tahun ini memiliki dua kamar istimewa yakni kamar 327 dan 2401. Jangan harap tamu hotel bisa menyewa kedua kamar itu untuk bermalam. Berapapun uang yang ditawarkan, pihak hotel tak akan menyewakan kamar itu kepada masyarakat umum.

Larangan tersebut berlaku sepanjang hari, tanpa mengenal puncak musim liburan atau masa-masa sepinya kunjungan wisatawan. Meski tak pernah dikunjungi dan ditempati tamu hotel, namun kedua kamar itu masih terawat dengan baik hingga saat ini.

Tak hanya terawat, sebutan khusus untuk kedua ruangan itu juga diberikan pihak hotel: 'Kamar Suci'.

Bukan tanpa alasan predikat Kamar Suci melekat di kamar 327 dan 2401 di Hotel Grand Inna Bali Beach. Sejarahnya, kedua kamar itu menjadi dua ruangan yang selamat dari kobaran api kala kebakaran besar melanda Grand Inna Bali Beach 1993 silam.

Ketika itu, kebakaran menghabiskan seluruh isi hotel hingga pohon-pohon kelapa disekitarnya. Namun, besarnya amukan api tak membakar satu bagian pun kamar 327 dan 2401.

Berdasarkan cerita yang diperoleh JIBI/Bisnis Indonesia dari pengurus kamar 327 sejak dulu, Anak Agung Okawati, kamar ini dipercaya sebagai tempat “persinggahan” Presiden pertama RI Sukarno.

Sementara, kamar 2401 adalah lokasi “persinggahan” Kanjeng Ratu Ayu Pantai Selatan Ratu Kidul.

Kepercayaan itu muncul setelah peristiwa kebakaran 1993 yang tidak menghancurkan sama sekali isi kedua kamar ini. Sejak saat itu, pengelola hotel menutup akses masyarakat menyewa kedua ruangan tersebut.

Tak sulit sebenarnya bagi masyarakat jika ingin melihat isi kedua kamar yang dianggap suci ini.

Bagi masyarakat yang bukan tamu hotel Grand Inna Bali, kunjungan ke dua Kamar Suci bisa dilakukan setiap Kamis pukul 17.00-21.00 WITA.

Kunjungan ke Kamar Suci dibatasi waktu maksimal 30 menit. Pada setiap kunjungan, maksimal 4 orang bisa masuk bersamaan ke kamar ini.

Para pengunjung dilarang mengambil gambar dan mengenakan alas kaki saat berada di ruangan. Mereka juga akan dipandu selama berada di kedua kamar ini.

Bisnis sempat merasakan bagaimana suasana Kamar Suci di hotel anggota PT Hotel Indonesia Natour (Persero) ini. Sebelum memasuki kamar, aroma dupa menyengat seakan menjadi sambutan bagi tamu.

Memasuki ruangan, terlihat bentangan karpet hijau menutupi kamar. Setelah itu, ada 2 kasur kecil dipisahkan meja yang diatasnya terdapat dua buah telepon, lampu, dan dupa.

Kedua kasur itu menghadap langsung ke lemari kayu yang berisi televisi. Di atas lemari itu terdapat beragam dupa, sesajen, serta foto-foto dan lukisan Sukarno.

Hampir seluruh dinding Kamar Suci ditutupi gambar Sukarno, foto diri sang proklamator, hingga lukisan Ratu Pantai Selatan. Namun, ramainya lukisan yang terpajang tak bisa menutupi jejak sisa-sisa dampak kebakaran 1993.

“Waktu kebakaran itu kamar ini gelap, kena asap dari luar. Tapi nggak ada yang terbakar, bahkan gorden pun tidak. Akhirnya direnovasi hanya dibersihkan temboknya, lalu dibiarkan begini ruangannya hingga sekarang,” tutur Okawati, Jumat (9/8/2019).

Saat berada di Kamar Suci, aroma dupa tercium begitu menyengat. Kamar Suci juga memiliki pemandangan yang bagus karena berada di lantai 3 hotel, dan punya balkon luas menghadap pantai.

Kisah Kamar Suci, Megawati dan PDIP

Menurut Okawati, selama ini banyak tokoh dan politikus yang pernah datang ke Kamar Suci. Salah satu politikus yang kerap berkunjung ke sana adalah Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Okawati mengatakan, Megawati biasanya datang ke Kamar Suci sekitar pukul 24.00 WITA. Presiden kelima RI ini disebut kerap menghabiskan waktu sekitar setengah jam di sana, sebelum keluar dan kembali ke kediamannya di Bali.

Keberadaan Kamar Suci di Hotel Grand Inna Beach rupanya juga berdampak pada PDIP, partai yang dipimpin Megawati. Alasannya, kamar itu disebut-sebut sebagai salah satu alasan mengapa PDIP tak pernah memindahkan lokasi Kongres Nasional sejak 2005.

Ketua Steering Committee Kongres V PDIP Djarot Saiful Hidayat mengakui hal itu. Menurutnya, Hotel Grand Inna memiliki banyak sejarah dan “ikatan” dengan PDIP.

Dia bercerita, ada alasan historis dan kultural yang menyebabkan PDIP selalu menggelar Kongres Nasional di Bali. Dari segi historis, Bali merupakan wilayah dideklarasikannya pergantian nama PDI menjadi PDIP jelang pemilu 1999.

Setelah deklarasi pergantian nama di Bali, Kongres Nasional I PDIP diselenggarakan di Semarang. Kemudian, Kongres II-V PDIP digelar setiap 5 tahun sekali di Hotel Grand Inna Beach.

Bali, khususnya Hotel Grand Inna Beach, juga menjadi istimewa bagi PDIP karena menjadi bangunan yang diinisiasi pembangunannya oleh Sukarno. Hotel ini juga hingga saat ini menjadi satu-satunya bangunan yang diizinkan memiliki 9 lantai di Bali.

"Makanya PDIP tak bisa dilepaskan dari Bali. Ingat, pascareformasi PDIP ada rapat besar di sini, di lapangan dekat sini deklarasi PDI berubah jadi PDIP," kata Djarot kepada Bisnis, Sabtu (10/8/2019).

Dari segi kultural, Bali kerap dipilih menjadi lokasi Kongres Nasional PDIP karena budaya di sana dianggap sangat dirawat. Djarot menyontohkan, banyak anak-anak dan generasi muda di Bali yang sudah didik untuk bisa menari dan memahat sejak dini.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia