4 Orang Meninggal Dunia Akibat Gempa Banten

Sejumlah anggota TNI memperbaiki rumah yang rusak akibat gempa di Kampung Jaura, Pandeglang, Banten, Sabtu (3/8/2019). Puluhan anggota TNI dari Batalyon Infantri 320/Badak Putih melakukan bakti sosial untuk membantu para korban gempa Jumat (2/8). - ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki
03 Agustus 2019 17:07 WIB Iim Fathimah Timorria News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan pemutakhiran data dampak korban jiwa dan kerusakan usai gempa berkekuatan 6,9 skala Richter melanda provinsi Banten pada Jumat (2/8/2019).

Melalui akun resmi Twitter-nya, BNPB melaporkan sampai Sabtu siang (3/9/2019) tercatat terdapat empat korban meninggal dan empat orang lainnya mengalami luka-luka.

"Empat orang meninggal dunia, yaitu dua orang di Kabupaten Lebak atas nama Rasinah (48) karena serangan jantung dan Salam (95) karena kelelahan ketika dievakusi," tulis BNPB melalui pengumuman resmi.

Sementara itu, dua korban meninggal lainnya diketahui berlokasi di Kabupaten Sukabumi atas nama Ajay (58) dan Ruyani (35).

Selain korban jiwa, BNPB juga mencatat kerusakan pada 223 unit rumah yang mengalami, 4 unit rumah peribadatan, satu unit kantor desa, dua unit fasilitas pendidikan, dan tiga unit bangunan lain.

"Akibat dari gempa tersebut, banyak bangunan warga yang rusak karena struktur bangunan yang kurang bagus," sambung keterangan tersebut.

Gempa yang berpusat di Kabupaten Sumur, Banten tersebut turut dirasakan sampai ke Jakarta, Depok, Purwakarta, bahkan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Skala gempa yang cukup besar lantas mengaktivasi peringatan dini potensi tsunami, namun peringatan tersebut diakhiri pada Jumat pukul 21.35 WIB. 

Relawan memeriksa rumah warga yang rusak akibat diguncang gempa di Kampung Karoya, Mandalawangi, Pandeglang, Banten, Sabtu (3/8/2019). Menurut data BPBD Banten satu orang meninggal dan sebanyak 112 rumah rusak berat dan ringan dengan rincian di Lebak sebanyak 12 rumah, di Pandeglang 91 rumah, dan di Serang 9 rumah rusak akibat gempa berkekuatan 6,9 SR yang terjadi Jumat (2/8) malam. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Penyebab Gempa

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM menjelaskan penyebab gempa bumi kemungkinan akibat asosiasi dari aktivitas penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Agung Pribadi dalam informasi tertulis, Jumat (2/8/2019) malam, menjelaskan hal tersebut setelah ditinjau berdasarkan lokasi pusat gempa bumi dan kedalamannya.

Pusat gempa bumi terletak pada koordinat 104.58 derajat BT dan 7.54 derajat LS, dengan magnitudo 6.9 skala richter (sebelumnya 7.4) pada kedalaman 10 km, berjarak 137 km barat daya Sumur, Banten.

Adapun informasi dari Unites States Geological Survey (USGS) mencatat gempa bumi pada koordinat 104.806 derajat BT dan 7.29 derajat LS dengan magnitudo M6.8 pada kedalaman 42.8 km.

Pusat gempa bumi berada di laut. Wilayah yang berdekatan dengan pusat gempa bumi adalah wilayah pesisir selatan Banten, Jawa Barat dan Lampung yang pada umumnya disusun oleh batuan sedimen berumur Kuarter.

Batuan berumur kuarter serta batuan berumur tersier yang telah mengalami pelapukan bersifat urai, lepas, belum kompak dapat bersifat memperkuat efek guncangan gempa bumi.

Pos PGA Gunung Anak Krakatau di Pasauran di sekitar Pantai Carita dilaporkan tidak ada kerusakan, dan gempa Bumi terasa pada skala II-III MMI.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia