Harga Merosot, Peternak Terpaksa Obral Ayam di Pinggir Jalan

Peternak menjual ayam hasil panennya di pinggir jalan di Klaten, Boyolali, Salatiga dan lainnya, Sabtu (22/6/2019). - Istimewa
24 Juni 2019 11:47 WIB Bayu Jatmiko Adi News Share :

Harianjogja.com, SOLO — Peternak mandiri menjual ayam di pinggir jalan menyiasati rendahnya harga ayam hidup. Menjual langsung ke konsumen diharapkan bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi, meskipun tetap belum menguntungkan. Diketahui harga ayam di tingkat peternak saat ini hanya Rp8.000-Rp10.000/kg atau hanya separuh dari harga pokok produksi (HPP) yang mencapai Rp18.500/kg.

"Mestinya kalau HPP saja 18.500, harga ayam selayaknya Rp20.000/kg. Tapi sekarang ini dengan HPP saja berada jauh di bawahnya," terang Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar Indonesia) wilayah Jawa Tengah (Jateng), Parjuni, Minggu (23/6/2019).

Dia menyebutkan saat ini para peternak mandiri sudah menanggung kerugian cukup besar sejak enam bulan terakhir. Selain harga yang rendah, jumlah stok ayam di kandang pun melimpah karena terjadi over produksi. Terkait hal ini sejak beberapa hari terakhir, para peternak pun mulai melakukan aksi di jalan, yaitu dengan menjual hasil panen kepada konsumen langsung dengan harga murah.

"Informasi yang kami terima, kemarin [Sabtu (22/6/2019] di Salatiga ada, di Blitar ada, juga di Klaten dan Boyolali. Mereka membawa ayam dengan mobil kemudian menjualnya di pinggir jalan dengan harga murah. Rata-rata dijual Rp25.000/ekor dengan bobot sekitar dua kilogram. Kalau normal harga Rp40.000/ekor," kata dia.

Biasanya para peternak menjual menjual hasilnya kepada pedagang atau broker. Sedangkan mengenai jumlah produksi, dia mengatakan saat ini total di Jateng ada over produksi sekitar 40%.

"Januari ada over, nanti Februari juga ada over, Maret ada over, dan seterusnya. Mungkin kalau ditotal sudah over 100% secara estimasi," lanjut dia.

Dia mengatakan untuk produksi di Jateng sekitar 40 Juta-42 juta ekor per pekan. 

Adapun pada rapat analisa kondisi perunggasan di Kantor Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan pada 13 Juni lalu, yang merumuskan akan adanya penarikan 30% bibit unggas untuk mengendalikan over supplay.

Kebijakan itu rencana diterapkan pada 24 Juni ini. Namun Parjuni masih menyangsikan hal itu terealisasi. Sebab menurut informasi yang dia terima, masih ada rapat finalisasi kebijakan sebelum diterapkan.

"Jadi besok itu masih ada rapat lagi, aneh kan? Padahal dengan harga Rp9.000 itu sudah 50% dari HPP. Itu kok masih berpikir ulang. Padahal kalau besok diberlakukan, dampaknya pun baru terlihat 35 hari ke depan, saat panen. Setelah rapat besok, ada kemungkinan akan ada perubahan lagi [kebijakan]," lanjut dia.

Sementara itu harga daging ayam potong di pasaran masih di atas Rp30.000/kg. Berdasarkan informasi yang diunggah di Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi, PIHPS Jateng, harga daging ayam potong di Solo pada 21 Juni sekitar Rp31.000/kg. Jika dibandingkan harga ayam hidup di tingkat peternak ada selisih minimal Rp21.000/kg.

Bahkan pada rapat koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Soloraya di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Solo, Rabu (19/6), disampaikan daging ayam menjadi salah satu komoditas yang masuk daftar risiko inflasi mendatang.

Alasannya karena pada Juni 2019, harga daging ayam potong di Solo mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Pada pekan pertama Juni disebutkan harga daging ayam potong mencapai Rp37.333/kg.

Dalam paparan yang disampaikan Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi, Kantor Perwakilan BI Solo, Taufik Amrozy, kenaikan harga daging ayam tersebut terjadi karena keterbatasan pasokan telur ayam ras pasca libur Lebaran di tengah mrningkatnya permintaan serta kurangnya stok DOC (bibit) pada saat libur Lebaran. Kenaikan harga tersebut juga dipengaruhi dengan kenaikan biaya pakan dan kenaikan upah tenaga kerja.

Sumber : JIBI/Solopos