Minim Pasokan Air, 16 Hektare Lahan Pertanian di Sukoharjo Terancam Gagal Panen

Seorang petani di Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungreja, memanen padi di sawahnya. (Antara/Sumarwoto)
17 Juni 2019 14:47 WIB R Bony Eko Wicaksono News Share :

Harianjogja.com, SUKOHARJO – Lahan pertanian seluas lebih dari 160 hektare di wilayah Desa Grogol, Kecamatan Weru dan sekitarnya terancam gagal panen atau puso lantaran minimnya pasokan air. Debit air Colo Barat berkurang dari lima meter kubik per detik menjadi empat meter kubik per detik.

Saat ini mayoritas tanaman padi berumur 40 hari sehingga membutuhkan pasokan air. Tanaman padi itu memasuki fase generatif. Apabila tak ada pasokan air ke lahan pertanian dipastikan ratusan hektare sawah bakal puso.

“Pasokan air sangat minim. Tak cukup untuk mengairi ratusan hektare lahan pertanian di Grogol. Saya hampir setiap hari disambati para petani,” kata Kepala Desa Grogol, Kecamatan Weru, Heri Puthut Sugiarto, saat berbincang dengan JIBI/Solopos, Minggu (16/6/2019).

Minimnya pasokan air ke areal persawahan terjadi sejak dua pekan menjelang Lebaran. Kala itu, mayoritas petani kebingungan lantaran pasokan air ke sawah sangat sedikit. Mereka khawatir pertumbuhan tanaman padi tak bisa maksimal lantaran kekurangan air.

Padahal, sumber air seperti embung dan sungai mulai mengering. Debit air embung di wilayah Weru menyusut drastis saat musim kemarau. “Kondisi geografis wilayah Weru termasuk Desa Grogol merupakan perbukitan dengan bebatuan cadas yang memiliki tingkat kekerasan cukup tinggi. Tak mungkin mengandalkan sumur dalam karena banyak batu cadas,” ujar dia.

Apabila ratusan hektare lahan pertanian puso, para petani bakal merugi besar lantaran tak bisa memanen padi. Padahal, sebagian petani hanya mengandalkan hasil panen padi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Hal ini juga berimplikasi pada produksi padi di Kabupaten Jamu yang diperkirakan anjlok. “Saya berharap instansi terkait memberi perhatian agar tanaman padi bisa diselamatkan saat masa tanam (MT) II. Pasokan air ke lahan pertanian harus ditambah paling tidak sampai musim panen padi,” terang dia.

Sementara itu, Ketua Induk Paguyuban Petani Pengguna Air (P3A) Dam Colo Barat, Hardo Wiyono, mengatakan debit air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Wonogiri mulai berkurang secara perlahan. Hal ini berpengaruh pada pasokan air Dam Colo ke saluran Colo Timur dan Colo Barat.

Debit air Colo Barat berkurang dari lima meter kubik per detik menjadi empat meter kubik per detik sejak akhir Mei. “Kondisi serupa juga terjadi di lahan pertanian di Klaten. Pasokan air dari saluran Colo Barat berkurang karena debit airnya turun. Saya bakal berkoordinasi dengan kelompok tani agar bisa membagi rata jatah air ke lahan pertanian,” kata da. 

Sumber : Solopos.com