Lowongan Kerja Pengawal Energi 2026 Dibuka, Cek Jadwal dan Cara Daftarnya
Pengawal Energi 2026 pada 24 Oktober–1 November untuk mengawasi penyaluran BBM bersubsidi di 3.679 SPBU.
Ilustrasi. /Bisnis Indonesia-Andi Rambe
Harianjogja.com, JAKARTA-- Kementerian Kesehatan mulai mempersiapkan pemberangkatan jamaah haji asal Indonesia ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah. Tentunya kondisi kesehatan harus prima agar bebas sakit selama menunaikan ibadah haji.
Berdasarkan data, tahun 2019 terdapat penambahan kuota haji sebanyak 10 ribu jemaah, sehingga total menjadi 231.000 jemaah. Penambahan kuota haji ini membuat Indonesia menjadi negara dengan jumlah jemaah terbesar di dunia.
Nah, untuk sampai ke Tanah Suci, dari Indonesia jamaah haji akan menempuh penerbangan dalam waktu yang lama. Kondisi lingkungan serta cuaca selama penerbangan pastinya memengaruhi kesehatan seseorang.
Jamaah haji jadi mudah drop dan mendadak sakit, sehingga ibadah haji terganggu. Namun demikian, mereka bisa mencegahnya dengan cara yang tepat.
Menteri Kesehatan RI Prof Nila Faried Moeloek mengatakan perjalanan haji yang lama di pesawat juga akan mempengaruhi kondisi kesehatan jamaah. Sementara itu, kalau ada yang punya penyakit penyerta, akan memperberat keadaan seseorang.
“Ibadah haji bukan hal yang mudah, tentunya kesehatan para jemaah jadi utama. Ibadah haji bukan hanya siap materi, tapi fisik harus prima," ucap Menkes Nila dalam Seminar Pelayanan Kesehatan Haji di Kantor Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (12/6/2019).
Menkes Nila menambahkan, untuk tiba di Arab Saudi, jamaah haji harus menempuh penerbangan sekira 9 jam. Kondisi kesehatan bisa terganggu karena cuaca mengalami perbedaan. Untuk mengendalikan faktor risiko kesehatan, diperlukan pengetahuan tentang pengaruh kondisi penerbangan terhadap kesehataan jamaah haji.
"Selama penerbangan, banyak jemaah yang belum pernah naik pesawat terbang, sehingga tidak tahu. Fisik mereka jadi terganggu, bahkan bisa sakit," tutur Menkes Nila.
Menkes Nila menyebutkan, ketika di atas ketinggian, jemaah haji akan mengalami kekurangan kadar oksigen. Tak heran kalau mereka merasakan tidak nyaman atau malah mendadak sakit.
Akibatnya, pasca-terbang Anda bisa mengalami gangguan pernapasan, Deep Vein Thrombosis, dehidrasi, jet lag, dan mabuk udara. Tentu itu tidak nyaman dan mengganggu awal ibadah di Tanah Suci.
Menkes Nila mengimbau para petugas kesehatan haji untuk memantau kondisi fisik setiap jamaah. Bahkan hal itu dilakukan sejak satu tahun sebelum berangkat.
"Sebelumnya kita memeriksa jamaah haji apakah layak terbang atau tidak. Itu dilakukan satu tahun sebelum berangkat, apalagi yang punya penyakit penyerta," imbuh Menkes Nila.
Menurutnya, banyak jamaah haji dengan penyakit penyerta yang terbang ke Tanah Suci. Seperti pasien hipertensi, mereka diminta untuk rutin kontrol agar kondisi fisiknya stabil.
"Hipertensi bisa diatasi dengan baik dan tidak sampai jadi penyakit jantung. Oleh karena itu, jauh sebelumnya kita memberikan himbauan jaga kesehatan," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Pengawal Energi 2026 pada 24 Oktober–1 November untuk mengawasi penyaluran BBM bersubsidi di 3.679 SPBU.
Jogja Expo 2026 membuka peluang UMKM DIY memasuki rantai pasok haji dan umrah. Kerja sama awal yang terbentuk mencapai sekitar Rp1 miliar.
Simak cara cek status penerima BPNT Rp600.000, syarat kepesertaan, penyebab bantuan belum masuk rekening, dan langkah penarikan tunai.
Ganti rugi pengadaan tanah Tol Solo-Jogja di Sleman mencapai Rp19,5 miliar untuk 11 objek di Moyudan dan Gamping.
PDIP mendukung putusan MK yang memerintahkan revisi UU Peradilan Militer dalam dua tahun untuk memperjelas yurisdiksi peradilan.
SAPMA Pemuda Pancasila DIY bersama BPBD Gunungkidul menyalurkan bantuan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Nglipar.