Ekspor Beras ke Malaysia, Bulog Pasang Harga di Atas HET
Bulog pastikan harga ekspor beras ke Malaysia di atas HET domestik. Langkah ini untuk tingkatkan kesejahteraan petani dan ekonomi nasional.
Ilustrasi. /Bisnis Indonesia-Andi Rambe
Harianjogja.com, JAKARTA-- Kementerian Kesehatan mulai mempersiapkan pemberangkatan jamaah haji asal Indonesia ke Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah. Tentunya kondisi kesehatan harus prima agar bebas sakit selama menunaikan ibadah haji.
Berdasarkan data, tahun 2019 terdapat penambahan kuota haji sebanyak 10 ribu jemaah, sehingga total menjadi 231.000 jemaah. Penambahan kuota haji ini membuat Indonesia menjadi negara dengan jumlah jemaah terbesar di dunia.
Nah, untuk sampai ke Tanah Suci, dari Indonesia jamaah haji akan menempuh penerbangan dalam waktu yang lama. Kondisi lingkungan serta cuaca selama penerbangan pastinya memengaruhi kesehatan seseorang.
Jamaah haji jadi mudah drop dan mendadak sakit, sehingga ibadah haji terganggu. Namun demikian, mereka bisa mencegahnya dengan cara yang tepat.
Menteri Kesehatan RI Prof Nila Faried Moeloek mengatakan perjalanan haji yang lama di pesawat juga akan mempengaruhi kondisi kesehatan jamaah. Sementara itu, kalau ada yang punya penyakit penyerta, akan memperberat keadaan seseorang.
“Ibadah haji bukan hal yang mudah, tentunya kesehatan para jemaah jadi utama. Ibadah haji bukan hanya siap materi, tapi fisik harus prima," ucap Menkes Nila dalam Seminar Pelayanan Kesehatan Haji di Kantor Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (12/6/2019).
Menkes Nila menambahkan, untuk tiba di Arab Saudi, jamaah haji harus menempuh penerbangan sekira 9 jam. Kondisi kesehatan bisa terganggu karena cuaca mengalami perbedaan. Untuk mengendalikan faktor risiko kesehatan, diperlukan pengetahuan tentang pengaruh kondisi penerbangan terhadap kesehataan jamaah haji.
"Selama penerbangan, banyak jemaah yang belum pernah naik pesawat terbang, sehingga tidak tahu. Fisik mereka jadi terganggu, bahkan bisa sakit," tutur Menkes Nila.
Menkes Nila menyebutkan, ketika di atas ketinggian, jemaah haji akan mengalami kekurangan kadar oksigen. Tak heran kalau mereka merasakan tidak nyaman atau malah mendadak sakit.
Akibatnya, pasca-terbang Anda bisa mengalami gangguan pernapasan, Deep Vein Thrombosis, dehidrasi, jet lag, dan mabuk udara. Tentu itu tidak nyaman dan mengganggu awal ibadah di Tanah Suci.
Menkes Nila mengimbau para petugas kesehatan haji untuk memantau kondisi fisik setiap jamaah. Bahkan hal itu dilakukan sejak satu tahun sebelum berangkat.
"Sebelumnya kita memeriksa jamaah haji apakah layak terbang atau tidak. Itu dilakukan satu tahun sebelum berangkat, apalagi yang punya penyakit penyerta," imbuh Menkes Nila.
Menurutnya, banyak jamaah haji dengan penyakit penyerta yang terbang ke Tanah Suci. Seperti pasien hipertensi, mereka diminta untuk rutin kontrol agar kondisi fisiknya stabil.
"Hipertensi bisa diatasi dengan baik dan tidak sampai jadi penyakit jantung. Oleh karena itu, jauh sebelumnya kita memberikan himbauan jaga kesehatan," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone.com
Bulog pastikan harga ekspor beras ke Malaysia di atas HET domestik. Langkah ini untuk tingkatkan kesejahteraan petani dan ekonomi nasional.
Penguatan implementasi UU PDP dinilai penting untuk menjaga kedaulatan data Indonesia di tengah ancaman kebocoran data dan perkembangan teknologi digital.
Metode RFA jadi solusi atasi benjolan tiroid tanpa operasi. Minim risiko, tanpa bekas luka, hasil efektif bertahap.
Imigrasi Soetta ungkap dua modus haji ilegal, dari visa wisata hingga visa kerja. Puluhan jemaah berhasil dicegah.
Persib Bandung bantah isu tunggakan gaji. Transfer ban FIFA ternyata terkait kasus kontrak Daisuke Sato.
Krisis Selat Hormuz picu ancaman ekonomi global. IMF, Bank Dunia, IEA, dan WTO soroti pasokan minyak dan energi.