Mudik Lebaran: Penumpang Angkutan Umum Berkurang 2,39 Juta Orang, Ini Penyebabnya

Penumpang turun dari KM Dharma Kartika IX yang bersandar di Dermaga Jamrud Utara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, JawaTimur, Selasa (28/5/2019). - Antara/Didik Suhartono
10 Juni 2019 22:57 WIB Rinaldi M. Azka News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Penggunaan angkutan umum terus merosot pada musim mudik Lebaran. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan (Kemenhub), sepanjang H-7 hingga H+2 Lebaran 2019, jumlah penumpang angkutan umum tergerus 17% atau sebanyak 2,39 juta penumpang menjadi 11,53 juta orang dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 13,92 juta orang.

Penurunan jumlah penumpang angkutan umum ini masif terjadi di hampir seluruh jenis moda transportasi, kecuali kereta api. Penumpang pesawat mencatatkan penurunan paling besar yaitu 33,99%, disusul oleh moda transportasi jalan sebesar 28%. (Lihat grafis)

Imran Rasyid, Ketua Harian Posko Tingkat Nasional Angkutan Lebaran Terpadu, menjelaskan bahwa peralihan tersebut tecermin dari jumlah mobil pribadi yang melintas di jalur bukan tol yang meningkat 61% secara tahunan menjadi 867.517 kendaraan.

“Kenaikan 61% setara 318.669 kendaraan atau jumlah penumpangnya1,6 juta orang. Itu baru di jalan bukan tol. Angka ini menjawab fenomena peralihan sekitar 2 juta penumpang dari kendaraan umum,” paparnya kepada Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Minggu (9/6/2019).

Imran juga menduga terjadi peralihan penggunaan transportasi udara menjadi kendaraan pribadi akibat peningkatan harga jual tiket pesawat yang sempat dikeluhkan masyarakat sebelum mudik berlangsung.

Di sisi lain, lanjutnya, kenaikan jumlah mobil pribadi di jalan bukan tol mengindikasikan bahwa jalur arteri masih diminati oleh para pemudik. Hal ini juga menjadi salah satu pemicu lancarnya arus mudik tahun ini, selain penerapan sistem one way.

Menurut catatan PT Jasa Marga (Persero) Tbk., jumlah kendaraan yang melewati jalan tol Trans-Jawa selama H-7 hingga H-1 Lebaran mencapai 1,21 juta kendaraan atau hanya tumbuh tipis 1% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Corporate Communication Department Head Jasa Marga Irra Susiyanti menjelaskan, mahalnya harga tiket pesawat memang berpengaruh pada moda transportasi darat, tetapi tidak begitu signifikan.

Aji Kuspitono, Manager Perencanaan dan Evaluasi Operasi Airnav Indonesia Cabang Surabaya, mengakui bahwa terjadi penurunan lalu lintas penerbangan di sejumlah bandara besar di Indonesia.

Dia mencontohkan, lalu lintas penerbangan di Bandara Juanda Surabaya turun sekitar 11%—16% pada musim mudik kali ini.

Menurutnya, ada beberapa kondisi yang menyebabkan penurunan jumlah lalu lintas penerbangan, di antaranya karena mahalnya harga tiket pesawat serta periode liburan Lebaran yang lebih panjang.

Dipelajari

Budi Setiyadi, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, menuturkan peralihan dari angkutan umum ke kendaraan pribadi akan menjadi bahan evaluasi untuk mempersiapkan sistem arus mudik pada 2020.

“Kenapa [preferensi pemudik] berubah? Mereka [mungkin] tertarik menggunakan jalan tol atau faktor lain yang kami belum tangkap,” tuturnya.

Menurutnya, selain faktor infrastruktur yang lebih mumpuni, faktor jumlah hari libur sebelum dan sesudah Lebaran juga bisa menyebabkan perubahan perilaku pemudik. Sebagai contoh, arus balik kali ini membeludak karena jumlah hari libur setelah Lebaran yang relatif sedikit.

“Kami akan lakukan analisis sekaligus membuat semacam kecederungan perilaku pemudik sekarang seperti apa. Kami akan melakukan penilaian semua aspek, V/C [volume/capacity] ratio, serta opini masyarakat,” ungkapnya.

Pada momen mudik tahun ini, Bisnis kembali menurunkan Tim Jelajah Lebaran Jawa-Bali 2019 untuk memantau dan melaporkan perkembangan arus berangkat dan balik. Berdasarkan pantauan Bisnis, arus keberangkatan relatif lancar, sedangkan arus balik diwarnai kemacetan.

Arus mudik kali ini yang lancar juga diikuti dengan penurunan jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor, yaitu sebesar 11,4%. Hal ini berdampak positif terhadap menurunnya angka kecelakaan.

Berdasarkan data Kemenhub, hingga Minggu (9/6), jumlah kejadian kecelakaan mengalami penurunan sebesar 64% dari 1.410 kejadian pada mudik 2018 menjadi 509 kejadian pada tahun ini.

Darmaningtyas, Ketua Institute Studi Transportasi, menyoroti sejumlah hal untuk dievaluasi. Pertama, tersendatnya arus balik akibat jumlah hari libur setelah Lebaran yang sedikit.

“Arus balik itu terkonsentrasi pada tanggal 7—9 Juni 2019 atau 3 hari saja.”

Dia menilai penerapan sistem one way belum bisa mengatasi masalah kemacetan pada arus balik karena jumlah kendaraan menuju Jakarta pada waktu yang bersamaan terlampau banyak.

Antrean masuk tol, lanjutnya, menjadi faktor lain yang memicu kemacetan panjang. Oleh karena itu, operator jalan tol harus mulai menggunakan sistem pembayaran on board unit (OBU) karena sistem tapping e-toll membutuhkan waktu yang relatif lebih lama.

Kedua, pemerintah perlu menambah jumlah infrastruktur di luar Pulau Jawa sehingga kelancaran arus mudik tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Pulau Jawa.

Ketiga, pemerintah juga dapat memberikan subsidi angkutan umum selama musim Lebaran sehingga para pemudik lebih memilih menggunakan kendaraan umum dibandingkan dengan kendaraan pribadi.

“Subsidi tersebut sebaiknya diberikan selama H-7 sampai H+7 untuk semua moda transportasi massal ekonomi agar subsidi tepat sasaran,” katanya. 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia