Kubu Prabowo Tak Akan Maju MK, Fadli Zon: Tak Ada Gunanya

Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mendatangi kantor KPU di Jakarta, Jumat (3/5/2019)/JIBI - Bisnis/Jaffry Prabu Prakoso
15 Mei 2019 16:37 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Berkaca dari pengalaman buruk pada Pilpres 2014, Fadli Zon yang juga Anggota Dewan Pengarah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, menjelaskan bahwa pengajuan gugatan kecurangan pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK) tidak akan mengubah keadaan.

“Kemungkinan besar BPN tak akan menempuh jalur MK, karena pada  2014 kita sudah mengikuti jalur itu. Kita melihat  MK itu useless [tak ada gunanya] dalam persoalan pilpres,” ujarnya kepada wartawan di Gedung DPR, Rabu (15/5/2019).

Bahkan, Wakil Ketua DPR itu menilai sebagian orang-orang MK juga berpolitik dalam menjalankan tugas mereka. Akan tetapi, dia tidak memerinci siapa yang dimaksud berpolitik.

Fadli Zon mengatakan pada pilpres 2014 pihaknya mengajukan gugatan kecurangan ke MK, ketika Prabowo yang berpasangan dengan Hatta Rajasa berhadapan dengan Jokowi-JK.

Akan tetapi, meski memakan waktu cukup panjang untuk mengajukan gugatan dan melewati sidang-sidang ke MK, pada akhirnya data pun tidak dibuka. Padahal, ujarnya, datanya telah dilegalisir dan pakai materai segala.

Fadli Zon mengatakan hingga kini pihaknya tetap meyakini memenangkan pilpres 2019 meski angka pasti kemenangan pasangan tersebut masih dinamis. Hal itu tercermin dari pemaparan ke publik dan media asing yang dilakukan BPN kemarin.

“Sejauh ini dari data yang kita miliki diyakini mendapatkan suara mayoritas dari masyarakat kita,” ujarnya.

Sebelumnya, pengamat politik Adi Prayitno mengatakan pemaparan kecurangan pada pilpres 2019 tersebut tidak akan mengubah keadaan kecuali sekadar membentuk opini publik.

Menurutnya, dalam negara demokrasi boleh saja pasangan calon presiden membuka kecurangan asal disertai dengan bukti kepada publik, termasuk kepada masyarakat internasional. Hanya saja, ujarnya, langkah itu lebih kepada upaya untuk membangun opini bahwa di Indonesia terjadi kecurangan saat pemilu.

Adi menilai apakah kecurangan yang disangkakan itu masuk dalam kategori terstruktur, sistematis dan masif tetap saja diputuskan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Di lembaga itu, ujarnya, BPN bisa melakukan adu data dan adu bukti untuk meyakinkan kalau memang terjadi kecurangan pemilu.

 

Sumber : Bisnis.com